Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 107. Bukan Bulan Madu.


__ADS_3

Selang 2 hari Hyuna dan Vicky honeymoon. Kini, saatnya Wildan untuk berngkat berlibur bersama Vanes. Namun, disaat keberangkatan. Tiba-tiba saja Vanes mendapatkan kabar bila salah satu teman sosialitanya mengalami musibah dan harus di rawat di rumah sakit.


Mau tidak mau, dia harus menjenguknya yang berada di luar kota. Semua itu membuat Wildan merasa kecewa, tetapi tenang saja. Wildan tetap berangkat, bukan dengan Vanes. Melainkan bersama Damian dan juga Risa.


Kebetulan sekali mereka bisa mendapatkan kesempatan ini, apakah ini pertanda bila sang takdir sudah berpihak ingin menyatukan? Atau ini hanya sekedar kebetulan saja? Entahlah, semua masih rahasia takdir.


Risa hanya menuruti permintaan Vanes, begitu juga Damian. Mereka berdua memang sebenarnya tidak mau, hanya karena mereka tidak tega bila harus melihat kesedihan di raut wajah Wildan. Jadi, mereka harus tetap membuat Wildan tersenyum agar dia tidak akan mengganggu waktu honeymoon kedua orang tuanya.


"Oma, Wildan berangkat ya. Oma baik-baik di rumah, nanti kalau Oma mau, Oma nyusul Wildan aja ya. Tapi, Wildan enggak bisa jemput hehe ...."


Wildan berusaha meledek Omanya sebab dia pun memang suka sekali menjahilinya, sama persis dengan Vanes yang juga beberapa kali menjahili anaknya. Bia di bilang turun temurun, tetapi Vanes senang.


Semakin ke sini semakin ada kemajuan perubahan yang baik untuk Wildan, dia tidak lagi tumbuh menjadi anak yang cengek, nakal atau pun penakut. Sebab, kedekatan Wildan dengan Vicky juga sangat baik semenjak hadirnya Hyuna.


"Ya sudah kalian hati-hati ya, ingat! Jaga cucuku, kalau sampai dia terluka sedikit saja. Maka aku akan pastikan salah satu jarimu yang akan menjadi korbannya!"


Deg!l.


Damian dan Risa sedikit terkejut sama pengancaman Vanes yang terbilang sangat kejam. Hanya saja, mereka pun tahu itu hanya candaan yang mengartikan kalau mereka harus bisa saling menjaga satu sama lain. Terbilang itu negeri orang, jadi jangan sampai hal buruk terjadi pada mereka.


Wildan, Damian dan juga Risa langsung berpamitan kemudian pergi ke bandara tanpa Vanes. Sebab, Vanes harus langsung pergi ke luar kota demi temannya yang sedang sakit.


Mereka bertiga berada di dalam pesawat pribadi milik keluarga Vicky. Karena kalau mereka menggunakan pesawat biasa, itu akan memperlambat pemberangkatan. Jadi mereka lebih memilih untuk menggunakan akses yang di berikan keluarga Vicky.


Di dalam pesawat Wildan bermain dengan Risa sambil tertawa lepas. Senyuman manis itu berhasil menarik perhatian Damian, sehingga tanpa di sengaja Damian mengukirkan sedikit senyuman sekilas. Kemudian kembali datar setelah dia mendapat lirikan dari Risa.


Jarak tempuh yang harus mereka lewati sekitar kurang lebih 7 jam lamanya. Dimana Wildan tertidur tepat di samping Risa. Sementara Damian berada di sebrang mereka yang sibuk dengan menatap awan.


Setibanya di sana, mereka pun langsung pergi menggunakan taksi menuju Apartments yang sudah di persiapkan oleh Damian sebelum H-1 ke berangkatan.


Jam 5 sore mereka sampai, membuat mereka hanya sekedar istirahat makan malam dan jalan-jalan sekitaran Apartemen.


***


Keesokan harinya, mereka pergi ke sebuah tempat yang tidak lain adalah Australian Museum. Wildan menatap kagum ke arah isi museum yang sangat keren. Banyak patung hewan yang terlihat asli, belum lagi ada juga tulang belulang hewan jaman dulu. Seperti Dinosaurus, Tirex, dan semacamnya.


Tak hanya itu, Wildan juga merasa senang ketika dia bisa memberitahu Vicky dan juga Hyuna melalui video call menggunakan ponsel Damian ketika dia sudah berada di sana.


Hyuna merasa senang melihat anak sambungnya begirtu bahagia, meski berada jauh dengannya. Vicky menasihati Wildan agar dia tidak menjadi anak nakal selama liburan bersama Damian dan juga Risa. Apalagi kedua sejoli itu sama sekali belum ada pengalaman dalam menjaga anak seperti Wildan.

__ADS_1


Setelah selesai dan puas mereka kembali pergi ke Milsons Point, dimana mereka bisa menaiki wahana yang sangat tinggi dan sedikit mengerikan.


Wildan dan Damian terlihat biasa saja, berbeda sama Risa. Dia sangat ketakutan untuk menaiki wahana seperti bianglala atau bisa di sebut kincir angin. Sebab, bianglala di sini terbilang cukup besar beda sama yang ada di Indonesia.


Akan tetapi, tenang saja. Walaupun Damian terbilang cuek, dia tetap menjaga Wildan dan Risa. Sesekali dia mencoba menenangkan Risa ketika wahana tersebut sudah di mulai.


Wildan hanya tertawa melihat wajah Risa yang panik di dalam pelukan Damian, sambil memukul tubuhnya. Setelah selesai, mereka pun langsung kembali ke Apartemennya dalam keadaan wajah Risa masih kesal dengan Wildan dan juga Damian.


Setelah makan malam, Risa masih terlihat kesal. Dia terus sama bungkam tanpa mau berbicara sedikit pun. Sampai akhirnya Wildan lebih dulu menunjukkan kejantannannya.


"Tante, jangan marah dong. Wildan 'kan udah minta maaf,  lagian Tante juga enggak perlu takut. Paman Damian selalu ada di samping kita kok, buktikan pas Tante takut Pamat Damian memeluk Tante. Jadi, sekarang jangan marah lagi ya. Please ...."


Wildan berusaha keras membujuk Risa, walaupun kata-katanya berhasil membuat mereka berdua menjadi salah tingkah.


"Udahlah, jangan ngambek enggak jelas. Besok ikut aku ke pantai!" celetuk Damian, cuek sambil menatap ke arah televisi.


Wajah yang murung itu, seketika menghilang dan tergantikan dengan senyuman lebar.


"Tu-tuan yakin mau ngajak aku ke pantai? Dari mana Tuan tahu aku suka pantai?" ucap Risa, antusias.


Mendengar itu membuat Damian mulai gelisah dan sangat gugup. Dia bingung harus menjawab apa, sebab dia juga tidak mau jujur bila sedikit demi sedikit Damian sudah mulai mencari tahu apa yang Risa suka atau tidak.


"Apaan sih anak kecil, udah tidur sana!" sahut Damian berusaha menutupi wajah malunya.


"Enggak mau. Paman sama Tante gak boleh berduaan, karena yang ketiga adalah setan," ucap Wildan.


Damian menatap ke arah Risa, begitu juga Risa. Tatapan mereka seperti penuh arti, seakan Damian memberikan kode tertentu padanya.


"Jika yang ketiga itu se*tan


berarti, tandanya ...." ucap Damian menatap Wildan.


"A-apa?" jawab Wildan, penasaran.


"Se*tannya itu adalah ...." sambung Risa menatap Wildan.


"Wildan!"


"Damian!"

__ADS_1


Degh!


Damian refleks terkejut, sebab tadi dia sudah mengode Risa. Akan tetapi kenapa malah jawabannya berbeda, itulah yang membuat Damian kesal.


"Kenapa jadi aku sih?" pekik Damian. 


"Loh, kok Wildan sih?" Wildan tak terima menatap Pamannya.


Risa yang melihat wajah keduanya jadi bingung, langsung tertawa terbahak-bahak. Dia tidak kuat melihat wajah dua laki-laki yang begitu menggemaskan. Sampai akhirnya Damian membisikkan sesuatu pada Wildan, membuatnya menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Huaaa, Tante awas kecoa!"


Wildan berdiri menunjuk ke arahnya, lalu berhasil membuat Risa kaget dan refleks menjerit.


"Hyaaak, mana! Aarrghhh ...."


Degh!


Adegan yang sesuai dengan prediksi Wildan, tetapi tidak sesuai dengan Damian. Seakan-akan dia telah dikerjain oleh dua orang sekaligus.


Risa menemplok layaknya cicak di tubuh Damian, sampai berhasil menegangkan sesuatu yang ada di bawah sana. Tatapan keduanya benar-benar pas, sampai terdengar suara tawa anak kecil yang sangat geli ketika Wildan lagi-lagi meledek mereka berdua.


Risa segera melepaskan pelukannya, lalu merapikan pakaiannya agar menutup sedikit salah tingkahnya. Sementara Damian dia pun mencoba untuk sebisa mungkin tenang. Supaya dibawah sana tidak semakin menegang akibat tidak sangka tersentuh oleh Risa.


"Ciee ... Ciee ... Nanti Wildan aduin akhh sama Oma. Bilang Kalau Paman Damian sama Tante Risa kerjanya pacaran mulu, bukannya jagain Wildan malah peluk-pelukan hahah ...."


Lagi-lagi anak kecil itu benar-benar selalu bisa membuat kedua sejoli itu merasa semakin tidak karian. Pipi Risa memerah seperti boneka, sedangan wajah Damian bagaikan udang rebus.


Sampai akhirnya mereka yang kesal langsung mengejar Wildan yang tiada hentinya selalu menggoda mereka berdua.


Mereka tertawa bersama di saat berhasil memberikan hukuman kecil kepada Wildan. Sebuah kelitikan yang manis, mereka persembahkan sampai Wildan tiduran di lantai. Kemudian bergantian dengan Risa, dan juga Damian yang masing-masing pun ikut merasakan.


Jika di lihat-lihat mereka malah seperti keluarga kecil yang sangat bahagia. Dimana terdiri dari Ibu, Ayah dan juga anak yang saling melempar candaan demi menciptakn sebuah kebahagiaan yang sederhana tetapi begitu terkesan.




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2