
Hyuna menatap Risa dengan tidak mengerti. Kenapa wanita itu sampai mengatainya rendahan dan murahan? Bukankah itu sudah sangat keterlaluan?
"Mbak tidak mengerti, atau hanya pura-pura tidak mengerti?" Risa tersenyum sinis membuat Hyuna menghela napas kasar.
"Aku benar-benar tidak mengerti sebenarnya apa yang sedang kau katakan ini, Risa. Tapi bukankah tidak sopan, jika mengatakan orang lain seperti itu?"
Risa langsung tertawa saat mendengar ucapan Hyuna. "Jangan menasehati orang lain, Mbak. Apa Mbak pikir pantas?"
Hyuna menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Dia mencoba untuk mengendalikan diri agar tidak tersulut emosi.
"Baiklah, terserah Risa ingin mengatai aku apa. Yang jelas aku tidak tau kenapa kau seperti ini, kalau gitu aku permisi dulu."
Hyuna memilih untuk pergi meninggalkan gadis itu sebelum menimbulkan pertengkaran, walaupun dia penasaran kenapa Risa sampai mengatainya seperti itu.
"Apa Mbak pikir, Mbak pantas bersama Kak Vicky?"
Deg.
Hyuna yang sudah melangkah pergi langsung menghentikan kakinya saat mendengar ucapan Risa, dia lalu berbalik dan menatap gadis itu dengan bingung.
"Apa Mbak pikir bisa menikah dengan kak Vicky, hah?"
Hyuna menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah berpikir seperti itu, Risa. Dan kami hanya berteman saja."
"Teman?" Risa tertawa sinis. "Bagaimana mungkin seorang lelaki dan wanita bisa berteman seperti itu? Apalagi kalian sudah tidur bersama, bahkan kalian mengatakannya pada anak sekecil Wildan. Benar-benar tidak punya harga diri."
Hyuna mengepalkan kedua tangannya dengan erat, tetapi dia masih mencoba untuk bersabar karena tidak mau membuat keributan.
"Baiklah, terserah kau ingin berpikir seperti apa, Risa. Aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskan tentang semua itu padamu, tapi ada sesuatu yang sekarang aku pahami." Hyuna maju selangkah mendekati Risa membuat gadis itu terkesiap.
"Apa kau menyukai Vicky?"
Risa terpaku saat mendengar pertanyaan Hyuna, sementara Hyuna tersenyum tipis karena sudah mendapat jawaban dari sorot mata wanita itu.
"Jika kau memang menyukai Vicky, maka katakan padanya. Itu jauh lebih baik dari pada menuduh orang lain dengan tidak berdasar seperti ini,"
__ADS_1
"Tidak berdasar kau bilang?" teriak Risa dengan emosi.
"Tentu saja. Bukankah kau mengataiku karena merasa cemburu?"
Risa langsung diam karena tidak bisa membalas ucapan Hyuna, sementara Hyuna sendiri tersenyum simpul lalu menepuk bahunya membuat dia tersentak.
"Cintamu tidak salah, Risa. Hanya saja kau tidak boleh melakukan hal seperti ini. Jangan jatuhkan harga dirimu hanya karena rasa cintamu untuk Vicky, karena semua itu tidak benar."
Risa mengepalkan kedua tangannya dengan geram lalu menipis tangan Hyuna. "Tau apa kau tentang cintaku ini, hah?" Dia merasa jika Hyuna tidak pantas menghakiminya seperti itu.
"Aku memang tidak tau bagaimana rasa cintamu itu, Risa. Hanya saja aku tau bahwa kau tulus mencintainya, karena itu jangan kotori ketulusan cintamu dengan hal-hal seperti ini. Percayalah dengan Tuhanmu, Risa."
Hyuna tersenyum dengan hangat lalu beranjak pergi dari tempat itu, sementara Risa terdiam dengan air mata yang sudah membasahi wajah.
"Tidak, kau tidak tau bagaimana perasaanku. Kau tidak tau."
Risa langsung berjongkok dan menenggelamkan kepalanya di antara kedua kaki. Lalu dia menangis hingga tersedu-sedu karena apa yang Hyuna katakan benar-benar menusuk hatinya.
Tanpa mereka berdua sadari, sejak tadi Vicky dan juga Yudha terus mendengar dan melihat apa yang terjadi. Vicky yang hendak masuk ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu langsung menghentikan langkahnya saat mendengar suara Hyuna, begitu juga dengan Yudha yang hendak mencari di mana kakaknya berada.
Yudha langsung memalingkan wajahnya ke arah Vicky dengan bingung. "Ka-kakak ingin mengunjungi ayah dan ibu?"
Vicky mengangguk. "Katakan pada mereka jika aku ingin melamar Hyuna untuk menjadi istriku."
Deg.
Yudha tercengang saat mendengar ucapan Vicky, sementara laki-laki itu sudah pergi meninggalkannya untuk masuk ke dalam rumah.
"Apa dia tidak bercanda? Dia, dia benar-benar ingin menikah dengan mbak Hyuna?"
Yudha benar-benar merasa sangat terkejut, dia lalu segera menghampiri sang kakak yang sudah duduk bersama dengan Wildan.
Setelah merasa lebih baik, Risa segera beranjak bangun dari tempat itu. Dia berjalan gontai menuju kamar dengan perasaan yang sangat kacau, entah kenapa ucapan Hyuna terasa mengobrak-abrik hatinya.
"Bisa kita bicara sebentar."
__ADS_1
Langkah Risa terhenti saat mendengar suara Vicky, dia lalu menoleh ke arah laki-laki itu yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Maaf, Kak. Aku sedang tidak enak badan, kita bicara nanti saja ya."
Risa menundukkan kepalanya karena enggan untuk bersitatap mata dengan laki-laki itu, sementara Vicky sendiri menghela napas kasar dengan perasaan bersalah.
"Maaf, Risa. Maafkan aku."
Deg.
Tubuh Risa menegang saat mendengar ucapan Vicky. Selama bertahun-tahun, baru kali ini dia mendengar ucapan maaf keluar dari mulut laki-laki itu.
"Maaf karena sudah membuatmu kesulitan, tapi kau tahu 'kan bagaimana peraaanku padamu?"
Risa mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Maaf, Kak. Aku ingin istirahat, permisi." Dia menerobos tubuh Vicky lalu masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci pintu kamarnya.
Vicky mengusap wajahnya dengan kasar, seharusnya sejak dulu dia memperingati Riska agar bisa mengendalikan perasaannya dan tidak menjadi seperti ini.
Riska yang sudah berada di dalam kamar langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, dia kembali terisak dengan rasa sakit yang terasa menusuk-nusuk dadanya.
"Kenapa, kenapa kak Vicky meminta maaf? Apa dia mengadukan semuanya?"
Risa memukul-mukul bantal yang ada di bawahnya dengan kesal. Mungkinkah Hyuna mengadukan tentang apa yang terjadi pada Vicky, sehingga laki-laki itu mengatakan hal demikian?
"Kau mengatakan padaku untuk bersikap baik, sedangkan kau sendiri sangat licik. Lihat saja, aku tidak akan membiarkan wanita licik sepertimu bersama dengan kak Vicky."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1