
Yudha tersentak kaget saat mendengar ucapan sang kakak, sementara Hyuna sudah keluar dari kamar untuk bersiap pergi ke rumah sakit.
Mau tidak mau Yudha terpaksa menemani sang kakak untuk ke rumah sakit. Namun, saat Hyuna membuka pintu. Dia dikejutkan dengan keberadaan Vicky yang berdiri tepat di dapan pintu rumahnya.
"Kau mau ke mana?"
Hyuna terkesiap saat mendengar suara Vicky. "Aku, aku mau ke rumah sakit."
"Apa kau merasa sakit lagi?"
Hyuna langsung menggelengkan kepalanya, dia lalu mengatakan jika ingin menjenguk seseorang.
"Setelah kau menjenguk orang lain, maka orang lain juga akan menjengukmu,"
"Hah?"
Hyuna merasa bingung dengan apa yang Vicky katakan, dia lalu tersentak kaget saat tiba-tiba tangannya di tarik masuk ke dalam rumah.
"Tu-tunggu, apa yang Mas lakukan?" tanya Hyuna sambil berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Vicky.
Vicky lalu melepaskan tarikan tangannya saat sudah berada di dalam rumah. "Kau baru saja pulang dari rumah sakit, tapi sudah mau keluar dari rumah?"
Hyuna menghela napas kasar. "Aku sudah baik-baik saja, Mas. Lagi pula aku cuma sebentar di sana, setelah itu langsung pulang."
Entah kenapa Hyuna merasa seperti sedang meminta izin pada suami karena ingin pergi keluar rumah.
"Duduklah. Kau bisa melihatnya kapan-kapan, kan?" ucap Vicky sambil duduk, dia lalu menepuk sofa yang ada di sampingnya.
Hyuna kembali menghela napas kasar, dia lalu menceritakan apa yang sudah terjadi pada Riska hingga membuatnya ingin pergi ke rumah sakit.
"Kau ingin menemui mantan adik iparmu?" tanya Vicky dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin wanita itu masih saja peduli pada orang yang sudah menyakitinya?
Hyuna mengangguk. "Aku sangat khawatir. Jangan-jangan kemarin Riska menelpon karena ingin meminta bantuanku?" Dia menatap Vicky dengan sayu.
Ditatap dengan sedemikan rupa, tentu saja membuat Vicky merasa tidak tega. Dia lalu melihat ke arah Yudha yang sedang menggelengkan kepala.
"Baiklah. Kalau gitu aku akan mengantarmu,"
"Apa?" Hyuna terlonjak kaget. "Aku, aku bisa pergi dengan Yudha, Mas."
"Apa kau pikir kau akan membiarkanmu bertemu dengan laki-laki itu?"
Vicky menatap Hyuna dengan tajam, sementara Hyuna sendiri tersentak kaget saat mendengar ucapan laki-laki itu.
__ADS_1
"Ayo!"
Vicky lalu kembali menarik tangan Hyuna dan membawanya ke mobil. Dia segera membuka pintu mobil itu dan menyuruh Hyuna untuk masuk.
Hyuna yang masih kebingungan hanya mengikuti apa yang Vicky katakan, tentu saja dengan dada berdegung kencang.
"Kenapa, kenapa dia tidak akan membiarkan aku bertemu dengan mas Aksa?"
Hyuna merasa bingung dan bertanya-tanya. Mungkinkah laki-laki itu merasa tidak suka, jika dia berhubungan dengan Aksa?
Hyuna lalu menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran yang memenuhi kepalanya, sementara Vicky sedang bersama dengan Yudha.
"Apa kau mau ikut?"
Yudha merasa bingung. Sebenarnya dia tidak mau jika bertemu dengan Aksa, tetapi dia ingin melihat bagaimana penderitaan yang laki-laki itu alami saat ini.
"Bolehkah saya ikut, Tuan?"
"Tentu saja. Bukankah kau ingin melihat bagaimana keadaan laki-laki itu?"
Yudha terkesiap. Tidak disangka jika Vicky mengetahui apa yang sedang dia pikirkan, mungkinkah laki-laki itu seorang cenayang?
"Dan satu lagi." Vicky yang sudah berjalan ke arah mobil kembali melihat Yudha. "Panggil saja aku kakak, mulai sekarang kau harus membiasakannya."
Kemudian mereka bertiga segera pergi menuju rumah sakit di mana Riska berada, walaupun dengan tujuan yang berbeda-beda.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Laura sedang mengamuk di rumahnya. Dia benar-benar kesal dengan apa yang Aksa lakukan, bagaimana mungkin laki-laki itu meninggalkannya di rumah sakit begitu saja?
"Dasar kurang ajar. Awas saja mereka, aku pasti akan membalasnya."
Laura tahu jika Aksa pasti sedang mengurus adik iparnya, dan semua itu benar-benar membuatnya bertambah kesal.
Tiba-tiba Laura mendengar dering ponselnya dan segera mengambil benda pipih itu. Wajah yang sejak tadi kusut langsung cerah saat melihat siapa yang menelepon.
"Halo Jordan, kenapa kau menelponku?" tanya Laura dengan lembut.
"Maaf jika aku mengganggu, Laura. Tapi, bisakah kau menemaniku? Saat ini aku sedang butuh teman."
Laura langsung tersenyum lebar. Beberapa hari ini dia memang dekat dengan salah satu model, bahkan laki-laki itu yang menemaninya di rumah sakit.
"Tentu saja, Jordan. Aku akan segera ke apartemenmu."
Laura lalu mematikan panggilan itu dan bergegas menyambar kunci mobilnya. Dia lalu melajukan mobil itu menuju apartemen Jordan.
__ADS_1
Pada saat yang sama, Hyuna dan yang lainnya sudah sampai di tempat tujuan. Mereka segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
"Hyuna!"
Hyuna langsung memalingkan wajahnya ke arah kanan saat mendengar panggilan seseorang, terlihat Aksa berada di tempat itu dan sedang berjalan ke arahnya.
"Kau sudah-"
Aksa tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat keberadaan Yudha, bahkan dia dibuat kaget saat melihat sosok lelaki yang berdiri tepat di samping Hyuna.
"Di mana Riska, Mas? Apa dia baik-baik saja?"
Aksa tersentak kaget dan langsung menganggukkan kepalanya. "Se-selamat sore, Tuan." Dia menundukkan kepalanya di hadapan Vicky.
Vicky menganggukkan kepalanya untuk menerima sapaan itu. "Di mana adikmu? Hyuna ingin menemuinya."
Aksa mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah Vicky. "Saya akan mengantarnya, Tuan."
Vicky kembali mengangguk lalu menepuk lengan Hyuna membuat kedua mata Aksa melebar dengan sempurna.
"Ingat, kau tidak boleh lama-lama,"
"Iya-iya, Mas."
Deg.
Aksa terkesiap saat mendengar panggilan Hyuna pada Vikcy. "Mas? Dia memanggil laki-laki itu dengan sebutan mas?" Dia benar-benar sangat terkejut. Benarkah mereka sedang menjalani suatu hubungan?
"Kenapa kau diam?"
Aksa kembali terkejut dan segera mempersilahkan mereka untuk mengikutinya. Dia lalu melangkahkan kaki menuju ruangan Riska walau harus menahan rasa sesak di dalam dada.
Yudha yang sejak tadi memperhatikan Aksa benar-benar merasa sangat terhibur, dia tahu jika laki-laki itu pasti terkejut melihat keberadaan Vicky.
"Ini baru permulaan, Aksa. Kau pasti akan jauh lebih hancur dari mbakku dulu."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1