
Setelah sampai di rumah sakit, Aksa segera berlari menuju ruangan sang adik. Terlihat ibunya sedang duduk dengan menggunakan kursi roda di depan ruangan tersebut.
"Ibu!"
Mona menoleh ke samping kanan saat mendengar panggilan seseorang, dia lalu terisak saat melihat Aksa sedang berjalan ke arahnya.
"Adikmu, Sa. Adikmu, huhuhu."
Aksa langsung menjongkokkan tubuhnya dan memeluk sang ibu dengan erat, sembari menenangkan ibunya jika semua pasti akan baik-baik saja.
"Jangan menangis lagi, Bu. Riska pasti akan baik-baik saja."
Mona menganggukkan kepalanya walau air mata masih membasahi wajah. Rasa sesal menyelimuti hatinya saat ini. Andai dia menerima semua yang terjadi pada Riska, dan memeluk putrinya itu dengan erat. Maka semua ini pasti tidak akan pernah terjadi.
"Maafkan ibu, Nak. Maafkan ibu." Sekarang Mona hanya bisa meratapi keadaan putrinya. Jangankan untuk menemani Riska, bahkan untuk berjalan pun dia sudah tidak sanggup.
Aksa menghela napas kasar sambil terus menenangkan sang ibu walau dia merasa benar-benar sangat lelah. Pikiran dan tubuhnya benar-benar terasa sedang dihajar habis-habisan, bahkan saat tidur saja dia masih harus memirkan bagaimana keadaan keluarganya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pintu ruangan itu terbuka dan keluarlah Dokter dari dalam ruangan tersebut.
"Ba-bagaimana keadaannya Dok?" tanya Aksa sambil menghampiri Dokter itu.
"Saat ini keadaan pasien baik-baik saja, Tuan. Hanya saja pasien sama sekali tidak ada semangat untuk hidup, dikhawatirkan beliau akan kembali melakukan hal yang sama," jawab Dokter membuat hati Aksa dan Mona terpukul dengan sangat kuat.
"Kami harus melakukan apa, Dok?" tanya Aksa dengan lemah. Dia tidak tahu lagi harus melakukan apa saat ini, berulang kali dia mencoba untuk bicara atau pun menghibur sang adik. Tetapi adiknya tetap tidak mau bicara atau melihat ke arahnya.
"Begini, Tuan. Apa Anda mengenal wanita bernama Hyuna?"
Aksa tersentak kaget saat mendengar ucapan Dokter itu, begitu juga dengan Mona yang sedang menatap dari kursi rodanya.
__ADS_1
"H-hyuna?" tanya Aksa dengan tidak percaya.
Dokter itu mengangguk. "Benar, Tuan. Pada saat kami sedang memeriksa nona Riska, kami sempat mendengar beliau memanggil nama Hyuna. Bahkan sampai beberapa kali, apa Anda mengenal wanita yang pasien maksud?"
Aksa terdiam sejenak. Tentu saja dia sangat mengenal wanita yang Dokter itu katakan, tetapi kenapa adiknya sampai menyebut nama Hyuna?
"Apa adik saya hanya sekedar memanggil namanya saja, Dok?" tanya Aksa untuk memastikan.
"Tidak, Tuan. Sebelum tidak sadarkan diri, Pasien sempat berteriak seakan-akan sedang meminta pertolongan. Lalu beliau menyebut nama Hyuna sampai beberapa kali, setelah itu tidak sadarkan diri."
Aksa mengangguk kepalanya, sementara Mona langsung terisak saat mengetahui jika putrinya memanggil nama Hyuna.
"Jika Anda mengetahui siapa wanita itu, alangkah baiknya jika Anda bisa membawanya ke rumah sakit. Mungkin saja pasien mau bicara jika melihat wanita itu," ucap Dokter kemudian. Dia lalu pamit untuk kembali ke ruangannya.
Aksa terpaku di tempatnya berdiri saat mendengar semua itu. Bagaimana mungkin adiknya sampai menyebut nama Hyuna? Dia benar-benar tidak mengerti.
"Aksa."
"Kenapa adikmu bisa sampai menyebut nama Hyuna, Aksa?" tanya Mona dengan lirih.
Aksa menggelengkan kepalanya karena tidak tahu kenapa bisa terjadi hal seperti itu. Namun, seketika dia ingat jika Hyuna adalah salah satu orang yang berhubungan dengan Riska sebelum hal ini terjadi. Bahkan wanita itulah yang lebih dulu tahu jika adiknya sedang mengandung.
"Ada apa, Aksa? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ibu?" Mona menatap Aksa dengan tajam, tentu saja dia merasa penasaran dan juga bingung.
Aksa lalu menceritakan tentang apa yang sudah Hyuna lakukan untuk Riska, termasuk tentang berita kehamilan Riska yang diketahui lebih dulu oleh wanita itu.
Mona terpaku saat mendengar cerita Aksa, dia tidak menyangka bahwa Hyuna melakukan hal seperti itu setelah apa yang terjadi.
"Dia, dia menolong Riska?" tanya Mona dengan nanar membuat Aksa menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Seketika Mona merasa tertampar. Segala ingatan tentang masa lalu terlihat jelas dalam benaknya, apalagi saat-saat di mana terjadi ketegangan antara dia dan juga Hyuna.
"Setelah apa yang aku lakukan, dia masih mau membantu Riska?"
Dada Mona terasa sesak saat mengingat semuanya. Dialah yang telah menghancurkan pernikahan Aksa dan juga Hyuna, karena dia jugalah Aksa menikah dengan Laura. Namun, kenapa wanita itu masih bersikap baik? Apa Hyuna sudah memaafkan dan melupakan segalanya?
"Aku akan kembali bicara pada Hyuna, Bu. Aku harap dia mau menemui Riska," ucap Aksa kemudian. Apapun akan dia lakukan agar Hyuna mau menemui Riska, walau dia harus bersimpuh di kaki wanita itu.
Mona menganggukkan kepalanya dengan terisak. Dia benar-benar sangat menyesal dengan apa yangs sudah terjadi di masa lalu, dia tidak menyangka jika wanita yang selalu disakiti tetap memperlakukan keluarganya dengan baik. Sementara Laura, wanita itu bahkan tidak mau datang ke rumah sakit.
"Bod*oh, aku sangat Bod*oh. Kenapa, kenapa aku melakukan semua itu?" Mona menundukkan kepalanya dengan tangisan yang semakin menguat, tentu saja dengan rasa penyesalan yang membelenggu jiwa.
Aksa menatap ibunya dengan heran saat mendengar tangisan sang ibu semakin menguat. Dia lalu mengusap punggung sang ibu dengan lembut sambil tetap menenangkannya.
Beberapa saat kemudian, Ruby juga sudah sampai di tempat itu. Dia baru bisa datang karena sedang bekerja di lapangan yang lumayan jauh dari rumah sakit.
Mereka semua lalu masuk ke dalam ruangan dan menatap Riska dengan sendu. "Riska, kami semua ada di sini. Apa kau bisa melihatnya?" Aksa menggenggam tangan Riska yang terasa dingin.
"Ibu ada di sini, Nak. Ibu mohon lihatlah ibu." Mona kembali terisak, sungguh keadaannya sangat memprihatinkan sekali saat ini.
Riska terkulai lemas di atas ranjang dengan kedua mata terbuka. Pandangannya tampak kosong, seperti sebuah patung yang tidak bernyawa.
"Ibu yang akan bicara dengan Hyuna. Ibu akan memohon ampun dan belas kasihan darinya."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.