
Setelah banyaknya halangan dan rintangan untuk hanya sekedar berkunjung ke rumah orangtua Hyuna, akhirnya mereka berangkat juga ke tempat tujuan. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, yang artinya mereka akan sampai di sana sore hari.
Damian yang sedang mengemudikan mobil merasa jika ponselnya sedang bergetar, dengan cepat dia mengambil benda pipih itu untuk melihat siapa yang sedang menelepon.
"Nyonya Vanes?" gumam Damian yang merasa heran karena orangtua Vicky meneleponnya, dia lalu melirik ke arah laki-laki itu yang sedang mengobrol dengan Hyuna.
Dengan cepat, Damian menjawab panggilan dari wanita paruh baya itu sebelum Vanes mengeluarkan tanduk.
"Halo, Nyo-"
"Di mana kalian?" teriak Vanes disebrang telepon membuat Damian tersentak kaget sampai membuat mobil yang dia kendarai lepas kendali.
"Apa yang terjadi Damian?" tanya Vicky dengan tajam. Dia merasa terkejut saat tiba-tiba mobil itu hilang kendali, begitu juga dengan Yudha dan Hyuna yang sedang memegangi dada mereka karena berdegup kencang.
Damian memilih menghentikan mobilnya dari pada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, tentu saja membuat semua orang menatapnya dengan haran.
"Damian! Apa kau tidak mendengar ucapanku?"
Deg.
"Mama?" Vicky terkejut saat mendengar suara mamanya di ponsel Damian, karena laki-laki itu membuat mode loadspeaker sehingga suara cetar membahana itu menggema di dalam mobil.
Vicky langsung mengambil ponsel itu dari tangan Damian dan mematikan mode loudspeakernya agar tidak memekakkan telinga.
"Damian, kau-"
"Mama, ini aku," potong Vicky dengan cepat membuat mamanya yang ada di sebrang telepon terkesiap.
"Kau, Vicky? Kau masih hidup?"
"Apa?" Vicky kembali terkejut saat mendengar pertanyaan sang mama. "Mama, apa-apaan sih?" Dia menggerutu kesal dan tidak terima dengan apa yang mamanya katakan.
__ADS_1
Hyuna yang berada di samping Vicky menatap laki-laki itu dengan heran dan penuh tanda tanya, apalagi saat mendengar gerutuan Vicky yang terdengar sangat kesal.
"Tunggu, jangan-jangan tante Vanes marah karena dia pargi ke rumah ayah dan ibu?" Hyuna mulai dirundung kegelisahan. Rasa takut menjalar dihatinya, juga rasa tidak enak hati yang melanda dada.
"Abisnya dari tadi mama telepon enggak diangkat-angkat. Sebenarnya di mana ponselmu itu, hah?"
Vicky sampai menjauhkan benda pipih itu dari telinganya yang berdengung. Dia yakin sekali jika mamanya saat ini sedang sangat kesal, dan untungnya dia sedang berada jauh dari sang mama.
"Vicky!"
"Iya iya, aku tadi gak dengar," jawab Vicky sambil mengambil ponselnya dari saku. Matanya membulat sempurna saat melihat ada 27 panggilan tidak terjawab dari sang mama.
"Dasar kau. Sebenarnya jadi tidak pergi ke rumah Hyuna? Mama udah kering nungguin kau dari tadi." Vanes berucap dengan ketus dan penuh kesal. Sudah dari jam 9 dia nunggu, tapi tidak juga ada kabar dari putranya.
"Maaf, Ma. Tadi ada sesuatu yang terjadi, karena itulah aku jadi lupa ngabarin Mama," ucap Vicky dengan jujur. Padahal dia berniat untuk mengajak mama dan keluarganya untuk berangkat bersama, tetapi malah lupa begitu saja.
"Memangnya apa yang terjadi? Kalian baik-baik saja?" Suara Vanes terdengar sangat khawatir.
Vicky menghela napas kasar saat panggilan itu sudah berakhir. Dia lalu mengembalikan ponsel itu pada Damian yang sedang fokus menyetir.
"Ada apa, Mas? Apa tante baik-baik saja?" tanya Hyuna dengan khawatir, membuat Vicky langsung menoleh ke arahnya.
"Mama baik-baik saja kok, dia marah karena aku gak angkat telepon," jawab Vicky sambil tersenyum simpul, dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Apa, apa tante marah karena Mas ikut bersamaku?" Hyuna bertanya dengan takut-takut dan penuh keraguan, jelas dia merasa tidak enak hati jika membuat orangtua laki-laki itu murka.
"Tidak, bukan seperti itu." Vicky menggelengkan kepalanya untuk membantah ucapan Hyuna. "Mama marah karena aku gak angkat teleponnya, padahal mama ingin berangkat bersama dengan kita."
"Be-benarkah?" Hyuna bertanya dengan tidak percaya.
Vicky kembali menganggukkan kepalanya. Dia lalu meminta Hyuna agar tidak lagi bertanya karena dia merasa lelah.
__ADS_1
Hyuna lalu mengambil ponsel dan mengirim pesan pada adik bungsunya, jika saat ini mereka sudah berangkat menuju desa. Vicky dan keluarga laki-laki itu itu juga akan datang, jadi persiapkan semuanya dengan baik dan benar.
***
Setelah menempuh perjalanan panjang, sampai juga mereka semua ke tempat tujuan. Suasana desa yang dingin dan asri membuat Vicky merasa nyaman.
"Ayo Mas, kita keluar!" ajak Hyuna yang langsung diangguki oleh Vicky.
Kedua orangtua Hyuna dan juga keluarga yang lain tampak berdiri di depan rumah dengan senyum lebar untuk menyambut kedatangan mereka.
"Assalamu'alaikum Ibu, Ayah," ucap Hyuna yang langsung dijawab oleh kedua orang tuanya, juga beberapa sanak saudara yang ada di tempat itu. Dia menyalim tangan kedua orang tuanya dan memeluk mereka dengan erat, menumpahkan segala kerinduan yang dirasakan.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Aida sambil mengusap punggung tangan sang putri.
"Alhamdulillah aku sehat, Bu," jawab Hyuna yang juga bergantian menanyakan kabar sang ibu.
Sama seperti Hyuna, Vicky juga tampak menyalami orang tua dan keluarga Hyuna yang tampak sangat antusias menyambut kedatangan mereka. Apalagi kaum gadis-gadis atau pun emak-emak yang menatap Vicky dengan tidak berkedip.
"Bagaimana kabar Ayah dan Ibu?" tanya Vicky dengan ramah dan penuh kehangatan. Senyum manisnya benar-benar membuat mata semua orang menatap takjub, dan terpesona akan ketampanannya.
"Alhamdulillah kami sehat, Nak. Kau juga sehat 'kan? Wajahmu semakin tampan saja," ucap Beni memuji membuat wajah Vicky merona merah karena merasa malu, dan itu sukses membuat dada Hyuna berdegup kencang karena merasa gemas.
Bukan hanya wajah Vicky saja yang menggemparkan semua orang, wajah Damian juga tidak kalah tampan. Sampai para janda kembali pulang untuk menyiapkan penampilan terbaik mereka.
"Mbak Hyuna beruntung sekali. Lepas dari batu akik, dapatnya batu berlian."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.