
Hyuna tersentak kaget saat mendengar ucapan Abian, apalagi saat laki-laki itu menyebut nama Vicky. Apa mungkin laki-laki itu mengenal Vicky?
"Kenapa Anda terkejut? Anda tidak berpikir jika orang-orang restoran tidak mengetahui hubungan Anda dengan tuan Vicky 'kan?" tanya Abian dengan senyum tipis, membuat Hyuna tersenyum canggung.
Sebenarnya Hyuna ingin mengatakan jika dia dan Vicky tidak punya hubungan apapun, karena memang dia belum bisa mengambil keputusan. Namun, bagaimana jadinya jika mereka menikah nanti? Takutnya orang lain akan mengira jika dia sengaja berbohong.
"Sebenarnya saya tidak menyangka jika tuan Vicky memiliki hubungan dengan salah satu karyawanku, tapi selamat. Jangan lupa undang keluarga besar restoran ya," ucap Abian kemudian.
"Insyaallah, Tuan." Hyuna hanya bisa berkata seperti itu saja. Perkataan adalah do'a, semoga saja do'a baik akan dikabulkan oleh sang pencipta.
Setelah selesai, Hyuna segera pemit dari rumah Abian dan memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Selagi tidak bekerja, dia ingin banyak-banyak istirahat sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk kedepannya.
Beberapa saat kemudian, taksi yang Hyuna naiki sudah sampai di halaman rumahnya. Dia segera memberikan uang pada sang supir, dan bergegas turun dari mobil.
Hyuna yanga akan langsung masuk ke dalam rumah terpaksa mengurungkan niatnya saat melihat keberadaan seseorang, sementara orang tersebut tampak sedang duduk di teras rumahnya.
"Apa yang dia lakukan di sini?"
Hyuna menatap laki-laki itu dengan tajam, dia lalu mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah membuat laki-laki itu langsung beranjak dari kursi.
"Apa yang kau lakukan di sini, Mas?" tanya Hyuna pada Aksa. Ya, laki-laki itulah yang saat ini sedang berada di teras rumahnya.
"Maaf karna aku datang tanpa memberitahumu terlebih dulu, Hyuna. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Aksa membuat Hyuna menghela napas kasar.
"Duduklah." Hyuna kembali mempersilahkan Aksa untuk duduk. "Maaf, di rumahku tidak ada orang. Jadi aku tidak bisa mempersilahkan Mas untuk masuk." Dia berucap sambil duduk di kursi yang ada di samping Aksa, dengan adanya meja di tengah-tengah mereka sebagai pembatas.
Aksa mengangguk paham, dia lalu duduk kembali ke kursi yang tadi diduduki sambil sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Hyuna.
"Bagaimana kabarmu dan Yudha, Hyuna?" tanya Aksa membuat Hyuna tersenyum tipis.
"Alhamdulillah, kami baik-baik saja. Bagaimana kabar Riska, Mas?" tanya Hyuna kembali.
"Yah, begitulah." Aksa tersenyum sendu sambil menundukkan kepalanya, sementara Hyuna terus melihat lurus ke depan dan enggan untuk menatap laki-laki itu.
__ADS_1
"Aku senang melihat keadaanmu baik-baik saja," ucap Aksa dengan getir. Keadaan Hyuna saat ini sangat bertolak belakang sekali dengan apa yang sedang dia rasakan.
Hyuna kembali tersenyum. "Lalu, apa yang ingin kau katakan, Mas?" Dia tidak mau mengulur-ngulur waktu, karena saat ini dia merasa sangat tidak nyaman sekali.
Aksa diam sejenak sebelum mengatakan apa yang ingin dia ucapkan. "Maaf, Hyuna. Aku tau jika selama ini keluargaku telah banyak berbuat salah padamu, tapi bisakah aku meminta bantuanmu?"
Hyuna mengernyitkan kening bingung. "Katakan saja secara langsung, aku tidak mengerti dengan apa yang kau maksud." Dia melirik ke arah laki-laki itu yang sedang menunduk.
"Bisakah, bisakah kau merawat adikku untuk sementara waktu?" tanya Aksa dengan lirih.
"Kenapa aku harus merawat adikmu?"
Aksa terkesiap. Dia lalu menatap Hyuna yang saat ini juga sedang menatapnya.
"Aku sudah meminta Laura untuk merawat Riska, tapi dia menolaknya. Saat ini ibu juga sedang sakit, jadi tidak bisa menjaga Riska,"
"Bagaimana dengan Ruby?" tanya Hyuna dengan cepat. Dia sudah diwanti-wanti oleh Yudha untuk tidak berhubungan lagi dengan Aksa maupun keluarga laki-laki itu, itu sebabnya dia tidak datang ke rumah sakit untuk menjenguk Riska.
Bukan hanya terjepit keadaan, tetapi saat ini Aksa juga sedang terjepit oleh ekonomi yang membuat adiknya terpaksa harus ikut bekerja.
Hyuna terdiam saat mendengar ucapan Aksa. Jujur saja, dia merasa tidak tega dengan keadaan laki-laki itu, tetapi saat ini dia juga harus memikirkan tentang masa depannya.
"Aku dengar kau sudah tidak bekerja si restoran lagi, berarti saat ini kau tidak ada pekerjaan lain, 'kan?"
Hyuna yang akan menjawab ucapan Aksa terpaksa mengurungkannya, apalagi saat mendengar ucapan laki-laki itu.
"Kau tahu dari mana, Mas?" tanya Hyuna. Padahal baru 2 hari saja dia tidak masuk kerja.
"Dari teman-temanmu, semalam aku datang ke restoran tapi kau tidak ada," jawab Aksa. Padahal semalam dia ingin sekali bertemu dengan Hyuna.
Yudha yang baru saja pulang dari kampus memutuskan untuk pulang ke rumah sebentar, sebelum pergi ke perusahaan Vikcy. Dia mengernyitkan kening saat melihat Aksa sedang duduk bersama dengan sang kakak.
Mendengar suara motor Yudha, membuat Hyuna dan Aksa langsung menoleh ke arah depan sementara Yudha sendiri bergegas turun dari kuda besinya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Mbak,"
"Wa'alaikum salam."
Yudha bergegas membuka helmnya dan menyalim tangan Hyuna, dia lalu melirik ke arah Aksa tanpa berniat untuk menyapanya.
"Tumben pulang cepat, Dek?" tanya Hyuna, biasanya Yudha akan pulang sore jika tidak malam.
"Iya Mbak, aku mau menemui kak Vicky. Ayo, Mbak juga ikut!"
Wajah Aksa yang tadi tersenyum cerah mendadak jadi suram saat mendengar ucapan Yudha, dan tentu saja Yudha menyadari tentang hal itu.
"Memangnya kau mau ngapain?" tanya Hyuna dengan heran.
"Ada sesuatu yang penting, udah ayo cepat!"
Yudha langsung menarik tangan Hyuna dan membawanya masuk ke dalam rumah, membuat kakaknya itu terkesiap.
"Tapi Dek, di luar ada-"
"Udah, biar aku yang bilang sama dia. Udah cepat Mbak siap-siap."
Yudha mendorong tubuh sang kakak untuk masuk ke dalam kamar, membuat Hyuna menghela napas kasar dan terpaksa mengiyakan keinginan adiknya itu.
Yudha tersenyum simpul saat melihat sang kakak sudah masuk ke dalam kamar. "Sekarang waktunya menyingkirnya benalu itu."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1