Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 95. Kedudukan Semua Manusia Sama.


__ADS_3

Malam itu, Aksa terus meratapi dan menangisi kebod*ohannya yang telah menyia-nyiakan Hyuna demi wanita tidak tahu diri dan murahan seperti Laura.


Rasa sesak dan sesal menyatu dalam dadanya hingga membuat wajahnya banjir karena air mata. Andai waktu dapat diputar ulang, maka dia pasti tidak akan pernah melakukan hal seperti ini.


"Hyuna, maafkan aku." Lirih Aksa dengan tubuh gemetaran.


Hati Aksa kian meradang kala mengingat jika saat ini Hyuna sudah bersama dengan laki-laki lain. Laki-laki yang jauh berada di atasnya dalam segala hal. Baik kekayaan, ketampanan, dan kekuasaan yang tidak ada bandingannya.


Aksa menundukkan kepalanya dan menatap lantai dengan nanar. Semua penyesalan yang dia rasakan sekarang sudah tidak ada gunanya lagi, semua hubungannya telah hancur.


Andai sejak awal dia menyadari kebusukan Laura, akankah saat ini Hyuna masih bersamanya? Ya, pasti wanita itu akan tetap berada di sampingnya apapun yang terjadi. Sungguh dia sangat menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan.


*


*


Keesokan harinya, semua keluarga tampak sedang menikmati sarapan bersama-sama. Baik keluarga Vicky dan juga keluarga Hyuna, mereka saling akrab dan bersenda gurau sambil menyantap menu sarapan pagi ini.


Perbedaan status dan derajat kedua keluarga sangat jauh berbeda. Keluarga Aksa termasuk salah satu keluarga terpandang dan berkuasa di kota mereka. Mereka disegani dan dihormati oleh semua orang, bahkan pejabat pemerintahan pun tidak berani menegakkan kepala lebih tinggi dari mereka, terutama Vicky yang sudah terkenal di mana-mana.


Di sisi lain, keluarga Hyuna adalah keluarga sederhana yang bekerja sebagai petani untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Walau begitu, mereka termasuk keluarga yang disegani dan dihormati di desa itu. Bukan karena harta kekayaan, tapi karena kebaikan dan kedermawanan keluarga itu.


Namun, perbedaan mereka tidak menjadi masalah. Baik keluarga Vicky dan Hyuna sama-sama saling menerima, dan berbaur jadi satu tanpa memandang harta dan kekuasaan.


"Saya benar-benar berterima kasih pada Anda dan semua keluarga, karena bersedia menerima Anak saya dan keesederhanaan keluarganya. Kami tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluarga Anda, tapi Anda sama sekali tidak-"

__ADS_1


"Kenapa bicara seperti itu, Besan?" Vanes memotong ucapan Aida, lalu menatapnya dengan tajam.


Aida tersenyum. Jelas dia sangat berterima kasih karena Vanes dan keluarganya mau menerima Hyuna. Apalagi mereka sangat jauh berbeda dari segi harta.


"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih. Kami orang tidak punya, tapi Anda-"


"Jangan berkata seperti itu. Mungkin bagi orang lain, harta dan kekuasaan itu sangat penting, tapi tidak bagiku dan juga keluargaku," ucap Vanes dengan cepat. Dia menepuk punggung tangan Aida dengan lembut.


"Harta dan kekuasaan bisa dicari, Besan. Tapi sikap dan perilaku seseorang itu tidak bisa diubah semau kita. Itulah yang menurutku dan keluarga yang paling utama, sikap dan karakter seseorang jauh lebih penting dari harta dan kekayaan," ucap Vanes dengan lembut, tetapi setiap kata yang dia ucapkan penuh dengan penekanan.


"Kami menyukai sikap dan karakter Hyuna. Dia benar-benar wanita yang baik, bijak, dewasa, dan juga bisa menghangatkan hati siapa saja. Lalu, apa lagi yang kurang dengan semua itu? Jawabannya adalah tidak ada," tambah Vanes dengan tersenyum hangat, seolah menunjukkan bahwa dia sangat menyayangi calon menantunya.


Hati Aida bergetar dan tersentuh saat mendengar ucapan Vanes. Air mata tampak mengalir dari sudut matanya karena merasa bahagia dengan ucapan wanita itu.


"Syukurlah jika Anda merasa putri kami memiliki sikap yang baik, saya sebagai ibunya hanya merasa khawatir." Lirih Aida sambil mengusap wajahnya.


Setelah selesai sarapan dan berbincang ria, keluarga Vicky pamit pada semua keluarga Hyuna untuk kembali ke kota. Mereka saling mengucapkan terima kasih dan maaf jika ada kata-kata atau perbuatan yang tidak berkenan, tidak lupa para wanita saling berpelukan agar lebih akrab satu sama lain.


Para tetangga-tetangga Hyuna juga ikut mengantar kepulangan mereka. Kedatangan mereka benar-benar disambut baik oleh semua orang, karena keluarga Vicky juga dapat menempatkan diri dan berbaur dengan mereka.


"Hati-hati di jalan, Mas. Kabarin jika sudah sampai," ucap Hyuna dengan wajah tersenyum hangat.


Vicky menganggukkan kepalanya dengan senyum yang timbul tenggelam sejak tadi. Di satu sisi dia senang karena semua berjalan lancar, tetapi di sisi lain dia merasa sedih karena Hyuna tidak boleh ikut bersamanya.


"Apa kau benar-benar tidak ingin ikut denganku, Hyuna?"

__ADS_1


Lagi. Ini adalah pertanyaan ke empat yang sejak pagi terus Vicky ucapkan saat mengetahui jika Hyuna tidak ikut bersamanya.


"Tidak, Mas. Aku kan calon pengantin, jadi tidak boleh ke mana-mana," jawab Hyuna untuk yang kesekian kalinya, sambil menggelengkan kepala.


Vicky langsung lemas dengan wajah kusut saat mendengarnya, membuat Hyuna langsung tergelak karena gemas dengan calon suaminya.


"Jangan tertawa!" ucap Vicky dengan ketus, dia lalu membuang muka dengan sebal.


"Ada apa denganmu, Mas? Ini hanya beberapa hari saja, anggap kita sedang dipingit, jadi tidak bisa bertemu. Bukankah dengan begitu kita akan merasakan yang namanya rindu?" ucap Hyuna dengan penuh kelembutan.


"Cih. Tidak perlu seperti itu aku juga sudah merindukanmu setiap hari, bahkan saat kau berdiri di hadapanku," cibir Vicky dengan helaan napas frustasi.


"Mau sampai kapan dramamu ini berakhir, hah?" ucap Vanes dengan tajam sambil menarik telinga Vicky, membuat laki-laki itu memekik tidak terima.


"Mama. Aku sudah tua, kalau Mama terus menarik telingaku, lama-lama dia bisa putus," gerutu Vicky, dia merasa kesal dan juga sebal.


"Habis kau, sudah ditunggu dari tadi malah sibuk bikin drama gak siap-siap. Mau sampai berapa episode rupanya?" ucap Vanes dengan geram. Sudah tahu mereka akan pulang, tetapi putranya tidak juga nampak batang hidungnya.


"Iya-iya," ucap Vicky sambil mencebikkan bibirnya. Dia lalu berpamitan pada Hyuna, dan berpesan agar wanita itu tidak pergi ke mana pun dan selalu menjaga hati untuknya.


"Tentu saja, calon suamiku. Pergilah, aku akan  menunggu di sini sampai kau datang kembali di hari pernikahan kita."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2