
Tubuh Risa langsung lemas dan terduduk di atas lantai. Dia menatap ke arah kepergian Vicky dengan hampa dan penuh luka, bagaimana mungkin laki-laki itu sama sekali tidak punya perasaan?
Selama bertahun-tahun dia memendam semuanya, dan berharap agar suatu saat nanti akan mendapat hasil akhir yang dipenuhi kebahagiaan. Namun, harapan dan cinta yang dia punya seketika runtuh karena penolakan dari Vicky.
Sekarang, apa lagi yang akan dia kejar? Apa lagi harapan yang harus dia perjuangkan? Ketika lelaki yang sangat dia cintai saja sama sekali tidak peduli, bahkan laki-laki itu sedikit pun tidak memalingkan wajah untuk melihat bagaimana keadaannya.
Sakit, itulah satu kata yang saat ini memporak-porandakan hidup Risa. Selama ini dia yakin akan kekuatan cintanya, tetapi sekarang harus menelan pil pahit sebuah penolakan.
Kenapa semua ini terjadi? Sebenarnya apa yang kurang dalam dirinya, sehingga Vicky tidak mau menerima cintanya yang begitu besar? Apakah semua ini karena kehadiran janda itu?
"Benar, semua ini karena wanita itu. Dia pasti sudah meracuni dan mempengaruhi pikiran kak Vicky."
Perlahan Risa bangun dan berjalan gontai untuk keluar dari ruangan itu. Saat ini dia harus menemui Hyuna, dia bahkan harus memberikan pelajaran pada wanita itu.
Hyuna yang saat ini masih berada di restoran tampak sibuk mempersiapkan pesanan para pelanggan. Sekarang sudah hampir pukul 9 malam, dan seharusnya dia sudah pulang ke rumah.
Namun, karena temannya izin datang terlambat. Jadi dia harus mengisi waktu izin itu selama satu jam ke depan.
Yudha yang juga sudah datang ke restoran untuk menjemput sang kakak, memilih untuk duduk di rooftop sambil menikmati keindahan malam. Dengan di temani secangkir kopi dan roti bakar buatan kakaknya, dia tampak asyik memandangi orang-orang yang sedang berlalu-lalang.
"Yudha."
Yudha menoleh ke arah belakang saat mendengar panggilan seseorang, dia lalu tersenyum saat melihat sang kakak sedang berjalan ke arahnya.
"Pulang duluan aja Dek, mbak masih harus kerja sejam lagi," ucap Hyuna sambil duduk di hadapan Yudha.
"Aku gak masalah kok Mbak, lagian di rumah juga gak ada kerjaan. Enakan di sini."
Hyuna menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan Yudha, dia lalu beranjak dari tempat itu untuk kembali ke dapur.
"Mbak Hyuna!"
Hyuna yang sudah akan masuk ke dapur menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan seseorang, dia lalu menoleh ke arah Wina.
"Ada apa Win?" tanya Hyuna.
__ADS_1
"Itu Mbak, ada yang mau ketemu sama Mbak di depan," jawab Wina sambil menunjuk ke arah depan.
Hyuna mengernyitkan keningnya, mungkinkah yang kau ketemu adalah Aksa?
"Apa dia laki-laki?"
Wina menggeleng. "Bukan Mbak, dia perempuan. Masih muda lah."
Hyuna mengangguk paham lalu berlalu pergi ke bagian depan restoran, dia penasaran siapa yang ingin menemuinya.
"Risa?"
Hyuna mengernyit bingung saat melihat kebaradaan Risa, sementara Risa yang melihat kedatangan Hyuna langsung berjalan mendekatinya.
"Apa yang kau laku-"
Plak.
Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Hyuna membuat dia terkesiap, begitu juga dengan semua orang yang ada di tempat itu.
Suasana mendadak jadi hening saat melihat apa yang terjadi, sementara Hyuna memegangi pipinya sambil mengangkat kepala untuk menatap wanita itu.
"Seharusnya kau sadar siapa kau ini, tapi iyalah. Pekerjaan seorang janda sepertimu memang menggoda para lelaki, kau bahkan tidak malu untuk menggoda kak Vicky."
Hyuna tersentak saat mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Risa. Bagaimana mungkin wanita itu sampai membawa-bawa statusnya?
"Lihat, kau bahkan tidak punya malu lagi dihadapan semua orang. Dan untuk kalian semua." Risa menjeda ucapannya untuk melihat ke arah semua orang. "Hati-hati dengan milik kalian, atau wanita ini juga akan merebutnya."
Keadaan mulai ramai dengan suara bisik-bisik, membuat para pelayan dan teman-teman kerja Hyuna menghampiri mereka.
"Apa-apaan kau? Jaga ucapanmu itu ya, apa yang kau ucapkan itu sama sekali tidak benar!" ucap Lisa dengan penuh penekanan.
"Diam kau! Kau tidak berhak ikut campur dengan urusan kami, karena kau tidak tau wanita seperti apa Hyuna itu."
Hyuna mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Tanpa pikir panjang, dia melangkahkan kakinya untuk mendekati Risa.
__ADS_1
"Jelas aku tau, karena dia adalah-"
Plak.
Lisa tersentak kaget dan tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat apa yang terjadi, sementara Risa memegangi pipinya yang ditampar dengan kuat oleh Hyuna.
"Beraninya, beraninya kau menamparku!"
Plak.
Semua orang semakin membulatkan mata saat Hyuna kembali melayangkan tamparan untuk kedua kalinya, hingga membuat pipi Risa merah dan membengkak.
"Tamparan pertama adalah untuk ucapanmu yang sudah sangat lancang, dan tamparan kedua karena kau sudah membuat keributan di tempat kerjaku," ucap Hyuna dengan penuh penekanan.
Mata yang selalu berbinar terang, kini menatap dengan tajam. Dan wajah yang selalu tersenyum teduh, kini tampak memerah penuh amarah.
"Selama ini aku diam bukan karena membenarkan apa yang kau katakan, bukan pula karena tidak bisa bicara. Tapi aku diam karena kau sudah dewasa, aku berpikir kalau kau sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar." Hyuna menjeda ucapannya dan menarik napas dalam, lalu menghembuskannya.
"Tapi ternyata aku salah. Kau bukan hanya sekedar belum dewasa, tapi kau bahkan mempermalukan dan juga merendahkan harkat dan martabat seorang wanita."
Tubuh Hyuna bergetar saat mengucapkan semua itu, untuk pertama kalinya dia melakukan hal seperti ini.
Dayu yang hendak melerai pertengkaran itu sampai tidak bisa mengeluarkan suaranya. Dia sangat terkejut saat melihat kemarahan Hyuna, begitu juga dengan teman-teman wanita itu yang lain.
"Aku memang seorang janda, tapi bukan berarti kau bisa menginjak-nginjak harga diriku. Aku sudah mengatakan sebelumnya, jika kau menyukai mas Vicky, maka katakan padanya. Dan jika kau ditolak, maka jangan menyalahkan aku. Karena aku tidak ada hubungannya dengan semua itu."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1