Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 78. Kelicikan Harus dibalas.


__ADS_3

Hyuna terdiam karena memikirkam ucapan Vicky. "Dia akan datang dengan keluarganya? Tunggu, bukankah itu namanya dia sedang melamarku?" Dia baru sadar niat asli kedatangan Vicky dan langsung menatap laki-laki itu dengan tajam.


"Kau sudah siap makan, 'kan? Ayo, kita pergi!" Vicky beranjak dari kursi saat memahami arti dari tatapan tajam Hyuna, tentu saja dia tahu jika wanita itu sudah memahami maksud dan tujuannya yang sebenarnya.


"Sebentar!" Hyuna berjalan cepat ke arah pintu dan berdiri di sana untuk menghalangi jalan Vicky. "Mas ingin melamarku?" Dia menatap laki-laki itu dengan tajam.


"Tentu saja. Masak kau bertanya lagi sih?" Vicky menjawab dengan santai sambil bersedekap dada, padahal jantungnya sudah terasa seperti akan melompat keluar dari rongga dadanya.


"Ta-tapi, aku kan belum menjawab pengakuan Mas," ucap Hyuna dengan penuh penekanan, dia mencoba untuk mengingatkan laki-laki itu jika dia belum mengiyakan ajakan Vicky untuk menikah.


"Nanti saja jawabnya kalau aku sudah datang ke rumah orang tuamu. Jadi, sekarang minggirlah, atau kau mau aku semakin maju dan menabrak bibirmu?"


Hyuna langsung menggelengkan kepalanya dan meminggirkan tubuhnya, sementara Vicky segera keluar sambil menahan tawa yang sudah akan pecah di wajahnya.


"Ya Tuhan, dia lucu sekali sih." Vicky tertawa saat mengingat wajah panik dan gugup Hyuna beberapa saat yang lalu. "Tapi kalau dia menolakku bagaimana yah?" Dia bergidik ngeri dan tidak bisa membayangkannya. Namun, dia yakin jika Hyuna juga mencintai dan tidak akan menolak lamarannya.


Hyuna sendiri masih terdiam di dalam ruangan itu, dia merasa jika Vicky sengaja datang ke rumah orang tuanya dengan membawa semua keluarga untuk mendesaknya agar mau segera menikah.


"Huh, lihat saja. Aku akan membalas apa yang kau lakukan ini, Mas."


Hyuna tersenyum licik, dia sudah mendapat ide untuk membalas apa yang Vicky lakukan. Setelah itu dia beranjak keluar untuk menyusul laki-laki itu yang mungkin sudah keluar dari restoran.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Aksa sedang berkutat dengan pekerjaannya. Lalu tiba-tiba ponselnya berdering membuatnya langsung mengambil benda pipih itu dan menjawabnya.


"Halo,"


"Halo, Tuan Aksa. Kami dari rumah sakit Pelita harapan," ucap seseorang yang ada di sebrang telepon membuat Aksa langsung tersentak kaget.


"Y-ya, ada apa?" tanyanya dengan khawatir.


"Maaf, Tuan. Saat ini adik Anda sedang sedang berada di ruang IGD, beliau mencoba untuk bunuh diri lagi dengan memotong nadinya menggunakan pecahan kaca."

__ADS_1


Deg.


Tubuh Aksa seketika menegang saat mendengar ucapan wanita itu. "La-lalu bagaimana dengan keadaannya?" Bibirnya bergetar saat menanyakannya, dia bahkan sudah berdiri dari kursi.


"Saat ini kondisinya kritis, Tuan. Nona Riska masih ditangani oleh Dokter, lebih baik Anda segera datang ke rumah sakit,"


"Ba-baik, saya akan segera berangkat ke sana."


Aksa langsung mematikan panggilan itu lalu menyambar kunci mobilnya yang berada di atas meja, dia berlalu keluar dari ruangan itu menuju ruangan sang atasan.


"Kau mau izin lagi, Aksa?" tanya sang atasan dengan tajam. Selama seminggu ini, hampir setiap hari Aksa izin untuk pergi ke rumah sakit.


"Maafkan saya, Tuan. Saat ini kondisi adik saya sedang kritis, jadi saya harus segera melihatnya," ucap Aksa dengan penuh harap, terlihat jelas kekhawatiran dan ketakutan dari sorot matanya.


Laki-laki yang merupakan atasan Aksa menghela napas kasar sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. "Pergilah, tapi ini yang terakhir kali aku memberi izin padamu, Aksa. Kau harus mengerti jika dunia kerja tidak bisa seperti ini."


Aksa mengangguk paham. Dia lalu mengucapkan banyak terima kasih dan segera berlalu pergi dari tempat itu menuju rumah sakit.


Aksa lalu mengambil ponselnya dan segera menghubungi Laura, dia harus menyuruh wanita itu untuk datang ke rumah sakit.


Tut, tut, tut.


"Halo,"


"Halo, Laura. Kau sedang ada di mana?" tanya Aksa dengan cepat.


"Kenapa tanyak-tanyak terus sih, kan udah tau kalau aku lagi kerja!" jawab Laura dengan ketus, dan terdengar jelas bahwa dia sedang sangat kesal.


"Kau harus segera ke rumah sakit, saat ini keadaan Riska sedang kritis." Aksa mendengar suara decakan dari Laura.


"Sudah aku bilang 'kan kalau aku itu kerja, kenapa kalian tidak mengerti juga sih?"

__ADS_1


"Tapi Laura, kau-"


Tut.


Panggilan itu terputus begitu saja membuat Aksa langsung membanting ponselnya dengan kesal. Dia benar-benar tidak bisa lagi menahan kesabarannya, semakin lama perilaku Laura menguras segala emosi yang ada dalam dirinya.


"Kau lihat saja, Laura. Aku pasti akan memberi pelajaran padamu." Aksa mencengkram kemudi dengan kuat, dia semakin menekan pedal gasnya agar melaju lebih cepat menuju rumah sakit.


Di tempat lain, Laura juga merasa sangat kesal karena terus-terusan di telepon oleh mertua dan juga suaminya.


"Apa mereka tidak bisa mengurus diri mereka sendiri?" Laura membanting ponselnya ke atas meja. "Kenapa harus aku yang mengurus wanita gila itu? Cih, melihatnya saja aku tidak sudi."


Laura bergidik ngeri. Pernah sekali dia melihat keadaan Riska ke rumah sakit, dan wanita itu mengamuk karena tidak ingin bertemu atau pun bicara dengan orang lain.


"Ada apa, Sayang? Kenapa kau kesal seperti itu?" Seorang lelaki memeluk tubuh Laura dari belakang, membuat tubuh mereka menempel dengan sempurna.


"Hah, lama-lama aku sudah tidak tahan hidup dengan mereka," ucap Laura sambil menghela napas kasar.


"Bersabarlah, Sayang. Bukankah kau bilang kau selalu mendapat uang dari suamimu?" ucap lelaki itu sambil meremmas gundukan sintal Laura membuat wanita itu mendessah.


"Ah, em ... aku, aku tidak ingin bersamanya lagi, Johan. Aku ingin bersamamu."


Laki-laki bernama Johan itu tertawa, dia lalu mengangkat tubuh Laura dan membawanya ke atas ranjang. "Baiklah, aku akan mengabulkannya. Asal kau memberi kepuasan yang tidak terlupakan untukku."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2