Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 75. Merasa Selalu dipaksa.


__ADS_3

Hyuna terkesiap saat mendengar ucapan Yudha. "Kerja dengan mas Vicky? Kerja seperti apa yang kau maksud, Yudha?" Dia menatap adiknya penuh tanda tanya.


"Em ...." Yudha menjeda ucapannya karena bingung harus menjawab apa. Tidak mungkinkan, dia mengatakan jika Damian mengajarinya cara membobol cctv dan program komputer orang lain?


"Jawab mbak, Yudha!" pinta Hyuna dengan penuh penekanan.


"Ya, ya aku cuma bantu-bantu aja, Mbak. Pekerjaan kak Vicky dan kak Damian kan banyak, jadi aku bantu-bantu nyusun berkas," jawab Yudha dengan senyum lebar, tentu saja dia merasa gugup karena sudah berbohong pada sang kakak.


"Kenapa kau harus kerja, Dek? Mbakkan udah bilang agar fokus pada kuliahmu aja," ucap Hyuna dengan lirih membuat Yudha langsung memegangi kedua bahunya.


"Kalau aku tidak berlatih dari sekarang, aku pasti akan terkejut saat udah wisuda nanti, Mbak. Biar aku belajar dan mencari pengalaman, jadi kalau udah tamat nanti aku tidak terkejut dengan dunia kerja."


Hyuna menghela napas kasar. Apa yang adiknya katakan itu memang benar, tetapi dia merasa tidak tega melihat Yudha sekolah sambil bekerja.


"Udah ayok masuk, nanti kak Vicky nunggu terlalu lama!" ajak Yudha kemudian membuat Hyuna terpaksa mengikuti langkah kakinya.


Beberapa orang karyawan yang berselisih jalan tampak saling tegur sapa dengan Yudha, membuat Hyuna juga ikut tersenyum untuk menyapa mereka.


Sebenarnya Hyuna merasa heran dan bertanya-tanya. Jika benar adiknya hanya bantu-bantu saja, tetapi kenapa orang-orang sangat menghormati dan segan padanya?


Hyuna juga pernah bekerja, tentu dia tahu bagaimana cara bersikap dengan seseorang yang jabatannya berada di atasnya. Begitulah yang saat ini sedang orang-orang lakukan pada Yudha.


"Selamat siang, Tuan Damian."


Hyuna tersentak kaget saat mendengar suara Yudha, dia lalu melihat ke arah depan dan sudah ada Damian juga di sana.


Damian mengernyitkan kening saat melihat keberadaan Hyuna. "Kau mengajak Nona Hyuna, Yudha?"


Yudha menganggukkan kepalanya, sementara Hyuna sudah merasa tegang karena takut kedatangannya membuat Yudha terkena masalah.

__ADS_1


"Maaf, Tuan Damian. Saya tidak bermaksud untuk lancang," ucap Hyuna dengan tidak enak hati.


Damian tersenyum. "Tidak apa-apa, Nona. Malah kalau bisa setiap hari."


"Hah?" Hyuna merasa bingung dengan apa yang Damian katakan. Dia yang akan bertanya terpaksa mengurungkannya saat melihat laki-laki itu masuk ke dalam ruangan yang ada di hadapannya.


"Ini ruangannya tuan Damian, dan itu ruangannya tuan Vicky." Yudha menunjukkan ruangan-ruangan itu pada Hyuna, apalagi nantinya sang kakak pasti akan sering datang ke tempat itu.


Hyuna menganggukkan kepalanya, walaupun dia tidak mengerti kenapa Yudha menunjukkan semua itu padanya. Namun, di mana Vicky? Apa laki-laki itu ada di dalam ruangan?


"Silahkan masuk, Nona. Tuan Vicky sedang berada di ruang rapat, jadi Anda tunggu di ruangannya saja," ucap Damian mempersilahkan membuat Hyuna terkesiap.


"Saya tunggu di sini saja, Tuan." Hyuna merasa tidak enak untuk masuk ke dalam ruangan Vicky seorang diri, apalagi ini kali pertama dia datang ke tempat itu.


"Tidak apa-apa, Nona. Silahkan." Damian membukakan pintu ruangan itu untuk Hyuna.


Hyuna terpaku di tempatnya berdiri, tetapi tiba-tiba tubuhnya terdorong maju karena perbuatan Yudha.


"Udah cepat masuk, aku harus segera kerja, Mbak. Gak ada waktu buat nemenin Mbak."


"Apa?" Hyuna merasa kesal karena sejak tadi adiknya selalu melakukan pemaksaan padanya, sampai akhirnya dia sudah berada di dalam ruangan Vicky.


Yudha lalu bergegas keluar untuk melanjutkan pekerjaannya, dia lalu tersenyum simpul saat melihat raut wajah sang kakak yang tampak sedang kebingungan.


"Kak Vicky pasti akan terkejut saat melihat mbak Hyuna ada di ruangannya." Yudha terkekeh geli membuat Damian menggelengkan kepalanya.


"Tumben kau ngajak kakakmu ke sini?" tanya Damian saat Yudha sudah berdiri di sampingnya.


Yudha menghela napas kasar. "Tadi di rumah ada Aksa, laki-laki itu terus saja menganggu mbak Hyuna. Itu sebabnya aku ajak ke sini."

__ADS_1


Damian mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dia menyuruh Yudha untuk melanjutkan pekerjaan yang sudah dia berikan, dan dia merasa senang karena laki-laki itu sangat cepat sekali mengerti apa yang dia ajarkan.


Hyuna yang sedang berada di dalam ruangan Vicky mendudukkan tubuhnya ke sofa. Dia memperhatikan setiap sudut ruangan mewah itu, tampak jelas jika barang-barang yang ada di sana sangat mahal.


Mata Hyuna lalu melihat ke arah sebuah foto yang ada di atas meja kerja Vicky, membuat dia beranjak dari sofa untuk melihat siapakah yang ada di dalam foto tersebut.


"Apa wanita ini almarhum istrinya mas Vicky?" Hyuna mengusap foto wanita cantik dengan gaun berwarna biru muda, dengan senyum lebar dan ceria. Dari wajahnya saja, dia sudah tahu jika wanita itu adalah kakak kandung Risa karena wajah mereka sangat mirip.


Hyuna tersenyum sambil kembali meletakkan bingkai foto itu, dia lalu berbalik dan kembali duduk di sofa sambil tetap memperhatikan ruangan itu.


Vicky yang baru selesai rapat beranjak keluar dari ruangan. Dia merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sangat kaku.


"Kau sudah datang, Yud?"


Yudha yang tengah fokus menyelesaikan pekerjaannya mendongakkan kepala. "Iya, Tuan. Maaf karena tadi pagi ada kelas." Walau bagaimana pun, dia harus tetap berlaku formal jika sedang berada di dalam perusahaan.


Vicky mengangguk lalu masuk ke dalam ruangannya membuat Yudha dan Damian saling pandang, lalu mereka tergelak bersama saat membayangkan reaksi tuan mereka ketika melihat Hyuna.


Vicky yang sudah berada di dalam ruangan berjalan lurus ke meja kerjanya, tanpa melihat ke arah Hyuna yang sudah berdiri dari duduknya.


"Dasar Wildan. Sekarang anak itu selalu saja minta bacakan dongeng sampai larut malam, memangnya dia tidak tahu kalau papanya orang sibuk," gerutu Vicky.


Dia mendudukkan tubuhnya ke kursi dengan kasar. Semenjak pertengkarannya dengan Risa, wanita itu tampak menjauhinya termasuk Wildan juga. Jadilah dia yang harus membacakan dongeng untuk putranya, dan jika menolak maka Wildan tidak mau tidur.


Hyuna tersenyum saat mendengar ucapan Vicky. "Apa aku yang harus membacakan dongeng untuk Wildan?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2