Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 58. Kembali ke Rumah.


__ADS_3

Mona terdiam dengan kaku saat mendengar semua ucapan Ruby, sementara Aksa menundukkan kepalanya dengan air mata yang menetes membasahi wajah.


Ruby lalu beranjak pergi dari tempat itu menuju ruang operasi, lebih baik dia menunggu operasi sang kakak selesai dari pada bertengkar dengan ibunya.


Untuk beberapa saat, keheningan tercipta di tempat itu. Mona terus terdiam dengan dada berdegup kencang, dia merasa tertampar dengan apa yang Ruby katakan. Benarkah semua ini karena perbuatannya?


Tiba-tiba wajah Hyuna melintas dalam pikirannya membuat dia tersentak kaget, apalagi saat dia mengingat hinaan dan cacian yang dia lontarkan pada wanita itu.


"Tidak, semua itu tidak ada hubungannya dengan hal ini. Aku hanya mengatakan sesuatu yang benar, jika wanita itu mandul."


Mona menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan sesak yang ada di dadanya, membuat Aksa langsung memegang kedua bahunya.


"Ada apa, Bu? Apa Ibu baik-baik saja?" tanya Aksa dengan khawatir. Tampak wajah Mona sangat pucat, dan matany terlihat sayu.


"Ibu, Ibu baik-baik saja. Hanya, hanya-"


"Sudahlah, lupakan semuanya, Bu. Ayo, kita harus melihat apakah operasi Riska sudah selesai atau belum!"


Mona mengangguk lemah membuat Aksa langsung menggendong tubuhnya. Aksa segera membawa sang ibu kembali masuk ke rumah sakit untuk melihat keadaan Riska.


Hampir 4 jam berlalu dan akhirnya ruang operasi itu sudah terbuka. Aksa dan yang lainnya segera menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana keadaan Kakak saya Dok?" tanya Ruby dengan raut kecemasan.


"Operasi berjalan lancar, dan saat ini keadaan pasien cukup stabil. Namun, kami terpaksa mengeluarkan janin yang sedang pasian kandung, juga terpaksa melakukan pengangkatan rahim karena terjadinya pendarahan yang sangat besar."


Walau sudah mendengarnya dari perawat, tetapi tetap saja hati mereka berdenyut sakit saat mendengarnya langsung dari Dokter.


"Ka-kami mengerti, Dokter." Aksa menganggukkan kepalanya.


Kemudian Dokter memindahkan Riska ke ruang perawatan, tetapi untuk saat ini wanita itu masih belum boleh diganggu.


*


*

__ADS_1


Keesokan harinya, Hyuna terbangun saat sinar mentari pagi terasa menyilaukan mata. Perlahan namun pasti, kedua matanya terbuka dan sedikit menyipit karena terkena sinar matahari.


"Kau sudah bangun?"


Hyuna tersentak kaget saat mendengar suara baritone seseorang, sontak dia mendudukkan tubuhnya sambil mengusap wajah dengan kasar.


Hyuna membelalakkan matanya saat melihat ke arah jendela. Ternyata hari sudah terang seterang masa depannya.


"Ya Allah, sudah jam berapa ini?"


Hyuna yakin jika saat ini sudah sekitar jam 9 atau jam 10. Padahal dia yang mengatakan tidak akan bisa tidur jika ada Vicky, tetapi kenyataannya dia tidur dengan nyenyak bahkan sampai matahari naik ke permukaan.


"Ada apa? Kenapa baru bangun tidur wajahnya seperti itu?"


Hyuna langsung mengusap wajahnya sambil membersihkan mata, mulut, hidung dan juga telinga saat mendengar ucapan Vicky. Dia langsung merasa tidak percaya diri dengan wajahnya saat ini.


"Kenapa wajahmu tampak bingung dan gelisah? Aku tidak masalah bagaimana pun penampilanmu."


Blush.


Wajah Hyuna langsung memerah saat mendengar ucapan Vicky. Entah apa maksud ucapan laki-laki itu, yang jelas saat ini jantungnya sedang berdegup kencang.


Setelah Hyuna selesai, Vicky juga masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan hal yang sama. Dia tersenyum saat mengingat saat-saat yang dia habiskan bersama dengan Hyuna, tentu saja membuat hatinya sangat berbunga-bunga.


"Apa dia juga menyukaiku?" Vicky ingat betul bagaimana reaksi Hyuna saat dia menggodanya, tentu dia sengaja melakukan itu karena ingin melihat bagaimana reaksi wanita itu.


"Entahlah. Tapi tidak mungkin kan, dia bisa menolak pesonaku?"


Vicky mengibaskan rambutnya yang kebetulam sedang dibasahi. Setelah selesai dia segera keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya dengan handuk kecil.


Seorang Dokter masuk ke dalam ruangan itu dan segera melakukan pemeriksaan. Setelah selesai, dia sudah memperbolehkan Hyuna untuk pulang. Namun, dengan catatan jika Hyuna harus banyak istirahat.


Dengan sigap, Vicky mengantar Hyuna untuk pulang ke rumah. Terlihat mereka seperti sepasang suami istri, apalagi saat sedang berjalan berdampingan.


"Istirahatlah dan jangan banyak bergerak, nanti aku akan kembali lagi ke sini."

__ADS_1


Sebenarnya Hyuna ingin mengatakan jika Vicky tidak perlu repot-repot untuk kembali menemuinya, apalagi laki-laki itu tidak berkewajiban untuk menjaga dan juga menemaninya. Namun, Hyuna memilih untuk mengangguk saja dari pada menimbulkan masalah.


Vicky dan Damian segera berangkat ke perusahaan setelah memastikan jika Hyuna istirahat di rumah, sementara Yudha memilih untuk menemani kakaknya.


"Bukannya kau ada kelas, Yudha?"


Yudha menganggukkan kepalanya. "Iya, Mbak. Tapi temanku bilang dosennya enggak masuk."


Hyuna ber-oh ria saat mendengarnya, tetapi tunggu. Sepertinya ada sesuatu yang salah di sini.


"Jika kau tau dosen tidak masuk, kenapa tadi malam tetap pulang dan membiarkan Mbak berdua dengan laki-laki itu?"


Glek.


Yudha menelan salivenya dengan kasar, dia lalu cepat-cepat memutar otak untuk mencari alasan.


"Aku taunya baru tadi pagi, Mbak. Makanya aku langsung ke rumah sakit."


Hyuna menyipitkan matanya dengan tidak percaya, sementara Yudha mencoba untuk tetap tenang agar tidak ketahuan.


Kemudian Hyuna memilih untuk tidak membahasnya lagi, dan merebahkan tubuh di atas ranjang. Lalu, tiba-tiba dia ingat jika sudah 2 hari tidak memegang ponsel.


"Oh ya Dek, apa kau tidak jadi mengambil ponsel mbak di restoran?"


Yudha baru ingat tentang ponsel sang kakak, padahal sejak semalam dia sudah mengambil benda pipih tersebut. Kemudian dia beranjak ke kamar untuk mengambilkan apa yang kakaknya tanyakan.


Hyuna segera menerima ponsel itu dengan senyum lebar. Dengan cepat, dia segera menempelkan jarinya ke bagian belakang benda pipih itu untuk membukanya dengan sidia sidik jarinya.


Mata Hyuna membulat saat ada puluhan panggilan dari Riska, juga ada panggilan dari Aksa.


"Kenapa dia menelepon sampai puluhan kali?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2