Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 82. Bukti Kebaikan Hati Vicky.


__ADS_3

Mona terkesiap saat mendengar ucapan Hyuna, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya dan menatap wanita itu dengan deraian air mata.


"Tidak, Hyuna. Ibu tulus meminta maaf padamu, tolong maafkan semua kesalahan yang sudah ibu lakukan selama ini," ucapnya dengan lirih. Wajahnya mengernyit sayu, dengan mata sembab akibat terus menangis.


Hyuna terdiam saat mendengar ucapan wanita paruh baya itu, dia lalu menghela napas kasar dan ingin semua ini cepat berlalu.


"Aku sudah memaafkan semua kesalahan Ibu, tapi maaf, aku tidak bisa melupakannya," ucap Hyuna dengan tajam dan penuh penekanan, membuat keadaan menjadi hening dan menegangkan.


"Ibu hanya meminta maaf dariku, 'kan? Jadi aku sudah memaafkan semuanya, lebih baik Ibu kembali ke rumah sakit untuk menemani Riska," sambung Hyuna sambil berbalik dan kembali membuka pintu mobil Vicky.


"Se-sebentar, Hyuna." Mona kembali menahan tangan Hyuna membuat wanita itu terpaksa tidak jadi melangkahkan kakinya.


"Ka-karna kau sudah memaafkan ibu, apa kau tidak bisa melihat Riska sebentar saja? Ibu mohon," pinta Mona sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Hyuna tersenyum sinis saat mendengar ucapan Mona. "Benar 'kan, apa yang aku katakan tadi?" Dia berbalik dan menatap wanita itu dengan nanar.


"Ti-tidak, Hyuna. Ibu hanya minta tolong agar kau menemui Riska sekali saja, setelah itu ibu janji tidak akan pernah mengganggumu lagi," ucap Mona dengan lirih dan penuh harap.


Aksa menatap ibunya dengan sendu, dia merasa tidak tega melihat ibunya sampai bersimpuh seperti itu. Namun, dia juga sadar jika ibunya telah membuat kesalahan pada Hyuna.


"Ibu mohon padamu, Hyuna. Ibu sadar jika selama ini sudah berbuat jahat padamu, tapi ibu mohon jangan limpahkan kesalahan itu pada Riska. Ibu mohon." Mona terus menghiba dengan terisak. Dia merasa kaget karena Hyuna sama sekali tidak bereaksi, padahal dulu wanita itu akan langsung menuruti apa yang dia inginkan.


"Bukankah seperti ini yang namaya hukum karma, Bu?" ucap Hyuna dengan lirih, tetapi ucapannya terasa menusuk dada.


"Selama ini aku diam dengan semua yang Ibu lakukan, aku bahkan tetap diam dan menerima saat Ibu menikahkan suamiku dengan wanita lain. Lalu, sekarang Ibu meminta maaf dan memohon agar aku mau menemui putri Ibu. Bukankah aku dulu juga pernah memohon seperti ini pada Ibu? Tapi Ibu sama sekali tidak mendengarnya dan malah memilih wanita lain untuk suamiku," sambung Hyuna dengan getir. Wajahnya memerah menahan rasa sakit yang pernah dia rasakan dulu.

__ADS_1


Mona terdiam dengan tubuh bergetar saat mendengar semua ucapan Hyuna. Dia merasa tertampar, dan dadanya seperti tertusuk benda tajam yang membuat rasa sakit dan sesak.


"Maaf, maafkan ibu, Hyuna." Mona kembali terisak sambil terus meminta maaf. Ingatan tentang masa lalu terus berlarian dalam kepalanya, dan membuat rasa penyesalan semakin besar.


"Kami akan datang ke rumah sakit."


Deg.


Semua orang tersentak kaget saat mendengar ucapan Vicky, terutama Hyuna yang langsung menatap laki-laki itu dengan penuh tanda tanya.


Vicky yang mengerti arti dari tatapan Hyuna tanpak mengulas senyum, lalu mendekati wanita itu dengan tatapan hangatnya.


"Roda dunia itu berputar. Semua yang berada di atas dan suka menyakiti orang lain, suatu saat akan terjatuh dan merasakan buah dari apa yang mereka tanam. Itulah yang namanya hukum karma," ucap Vicky dengan tajam. Wajah yang tadi tersenyum hangat, berubah menjadi tajam dan kelam saat menatap Aksa dan juga Mona.


"Seharusnya kalian sadar diri dan merasa malu untuk menemui Hyuna, karena kalian adalah manusia kejam yang sudah memberi penderitaan padanya. Bukannya berpikir dan menyadari kesalahan, tapi kalian malah masih saja menyusahkannya. Benar-benar manusia yang tidak punya akal layaknya binatang."


Deg.


Aksa dan Mona terkesiap saat mendengar ucapan Vicky, sementara Yudha yang sejak tadi diam langsung tersenyum lebar saat mendengarnya.


"Ini kali terakhir kalian menemui atau mengganggu Hyuna, jika aku kembali melihatnya. Maka jangan salahkan aku jika menginjak kalian sampai hancur!" ucap Vicky dengan geram. Rahangnya mengeras saat mengingat bagaimana menderitanya Hyuna karena perbuatan mereka.


Untuk sekali lagi, Aksa dan Mona kembali diam dengan kepala tertunduk. Tentu saja mereka tidak berani membantah atau pun membalas ucapan Vicky, atau laki-laki itu akan benar-benar menghancurkan hidup mereka.


"Ayo kita pergi, kita harus ke rumah sakit dulu!" ajak Vicky kemudian sambil menarik tangan Hyuna masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Hyuna tersenyum simpul saat melihat apa yang Vicky lakukan. Walau semua orang merasa takut melihat laki-laki itu, tetapi hati Vicky sangatlah baik dan hangat. Buktinya saja laki-laki itu mengiyakan permintaan Mona walau penuh dengan ancaman.


Mereka semua lalu masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi menuju rumah sakit, begitu juga dengan Aksa dan juga Mona.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Vanes sedang mondar mandir di depan rumahnya. Sudah hampir satu jam berlalu, tetapi Vicky tidak juga meneleponnya.


"Sebenarnya anak ini ke mana sih? Dari tadi ditelpon enggak di angkat-angkat, apa jangan-jangan tidak jadi pergi ke rumah Hyuna?" ucap Vanes dengan wajah panik. Dia segera menelepon Damian untuk memastikan apa semuanya baik-baik saja.


Malam tadi, Vicky memberitahunya jika hari ini akan pergi ke rumah orang tua Hyuna. Itu sebabnya dia juga memutuskan untuk pergi hari ini juga karena merasa sudah tidak sabar untuk melamar wanita itu. Dia bahkan sudah mempersiapkan semuanya sampai 4 mobil banyaknya.


"Tante."


Vanes tersentak kaget saat mendengar panggilan seseorang, dia lalu berbalik dan mengernyitkan kening saat melihat Risa membawa koper.


"Kau mau ke mana, Risa?" tanya Vanes dengan bingung.


"Kak Vicky sudah mencarikan rumah untukku, Tante. Jadi aku akan pindah ke rumah itu. Terima kasih karena selama ini Tante sudah merawatku dengan baik, bahkan sudah mau menyayangiku layaknya anak Tante sendiri."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2