
Risa mengusap air mata yang masih membekas diwajahnya saat pintu lift terbuka, dia lalu beranjak pergi menemui Damian untuk menyerahkan berkas-berkas pribadinya.
Tok, tok.
"Permisi, Tuan Damian,"
"Masuk."
Risa membuka pintu ruangan itu saat mendengar suara sahutan Damian dari dalam ruangan, terlihat laki-laki itu sedang sibuk dengan laptop tanpa melihat ke arahnya.
"Maaf, Tuan. Saya ingin-" Risa tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat sosok lelaki yang sedang duduk tidak jauh dari Damian.
"Apa yang laki-laki itu lakukan di sini?" Mata Risa melebar saat melihat keberadaan Yudha.
Damian mendongakkan kepalanya saat tidak lagi mendengar suara seseorang yang masuk ke dalam ruangannya tadi.
"Kenapa kau diam?"
Risa tersentak kaget dan hampir saja menjatuh berkas yang dia bawa. "Ma-maaf, Tuan. Ini berkas saya." Dia lalu menyerahkan berkas itu pada Damian.
Damian menerimanya dan langsung membaca apa yang ada di dalamnya, sementara Yudha melirik ke arah Risa dengan sinis.
"Kenapa dia sekaget itu saat melihatku? Apa dia pikir aku enggak pantas bekerja di sini?" Yudha menjadi kesal sendiri.
Risa terus menundukkan kepalanya dengan rasa malu yang teramat besar. Jelas dia malu saat mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu, juga ada rasa kesal yang masih tersisa di dalam relung hatinya.
"Mulai besok kau bisa bergabung dalam tim keuangan. Aku akan mengantarmu pada mereka besok, sekarang perbaiki resumemu ini," ucap Damian sambil mengembalikan berkas yang tadi dia pegang. Bagaimana mungkin resume seorang magister seburuk itu? Yudha yang baru masuk kuliah saja punya resume yang jauh lebih bagus.
"Ba-bagian mana yang harus saya perbaiki?" tanya Risa dengan bingung.
"Semuanya. Jika kau melamar di perusahaan lain dengan menggunakan resume seperti itu, kau pasti akan diterima dan di tempatkan dibagian office girl."
"A-apa?" Risa terkesiap saat mendengar ucapan Damian. Apa resumenya seburuk itu? Padahal dia sudah berusaha keras untuk membuatnya.
__ADS_1
"Ppfftt."
Risa langsung menoleh ke arah Yudha saat mendengar suara tawa yang tertahan, terlihat laki-laki itu sedang memalingkan wajahnya dengan bahu bergetar pertanda sedang tertawa tanpa suara.
"Kurang ajar. Beraninya dia menertawaiku!" Risa mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Kau tunggu apa lagi?" ucap Damian dengan nada suara yang sudah mulai meninggi, membuat Risa terlonjak keget.
"Ba-baik, Tuan. Saya permisi."
Risa menundukkan kepalanya lalu beranjak pergi dari tempat itu. Setelah berada di luar ruangan, dia langsung menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.
"Dasar bocah. Dia pasti menertawakanku karena ucapan Damian tadi, awas saja dia!" Risa segera pergi dari tempat itu dengan langkah seribu. Dia harus segera memperbaiki resumenya sebelum Damian murka.
Setelah kepergian Risa, tawa Yudha langsung pecah di tempat itu membaut Damian langsung menoleh ke arahnya.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Damian dengan heran, dan untuk pertama kalinya dia melihat tawa lepas dari laki-laki itu.
"Ah, maafkan saya Tuan. Saya hanya merasa lucu saat melihat wajahnya," ucap Yudha sambil menundukkan kepalanya.
Damian lalu mengajak Yudha bergosip dengan membahas masalah resume Risa. Mereka tidak menyangka jika mempunyai bakat terpendam seperti ini.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Hyuna dan Vicky sudah duduk di salah satu ruangan pribadi di restoran. Para pelayan tampak menyajikan makanan dan minuman untuk mereka, lalu mempersilahkan untuk dinikmati.
"Aku dengar dari Yudha kalau kau sudah tidak bekerja lagi, Hyuna," ucap Vicky sambil menatap Hyuna yang sedang meminum segelas jus.
Hyuna menganggukkan kepalanya lalu meletakkan gelas yang sedang dia pegang ke atas meja. "Iya Mas, tadi pagi aku sudah mengundurkan diri. Tapi, kapan Yudha ngomong sama Mas?" Dia merasa heran, padahal baru tadi pagi dia menemui pemilik dari restoran tempatnya bekerja.
"Tadi pagi. Dia menelponku saat kau sudah pergi menemui Abian," jawab Vicky membuat Hyuna terkesiap.
"Mas mengenal tuan Abian?"
Vicky menganggukkan kepalanya. "Tentu saja. Dia salah satu juniorku saat sedang kuliah, apa dia mengatakan sesuatu padamu?"
__ADS_1
Hyuna ikut menganggukkan kepalanya. "Dia hanya bertanya apakah aku dan Mas akan menikah."
"Lalu, kau menjawab apa?" tanya Vicky dengan penasaran.
"Em ... yah aku hanya menjawab inysaallah saja. Ucapan baik itukan sebuah do'a, semoga apa yang dia katakan menjadi kenyataan."
Vicky langsung mengaminkan ucapan Hyuna dengan senyum lebar. Tanpa sadar wanita itu telah memberi jawaban padanya, hingga membuat dadanya berdegup kencang.
Mereka lalu menikmati makanan itu sambil bercerita panjang lebar. Tidak lupa Hyuna menanyakan tentang pekerjaan yang dilakukan oleh Yudha, jangan sampai pekerjaan itu mengganggu sekolah adiknya.
"Dia hanya akan membantu pekerjaan Damian sebagai sekretarisku, dan Yudha laki-laki yang sangat kompeten sekali. Damian bilang kalau dia sangat cepat tanggap, dan langsung mengerti apa yang harus dilakukan hanya dengan sekali penjelasan saja," ucap Vicky membuat Hyuna menghela napas lega. Sepertinya dia tidak perlu khaawatir karena Yudha bekerja dengan Vicky.
"Oh ya, Hyuna. Lusa aku berniat untuk mengunjungi kedua orang tuamu,"
"A-apa?" Hyuna terlonjak kaget saat mendengar ucapan Vicky. "U-untuk apa Mas datang?" Dia menjadi salah tingkah.
"Tentu saja untuk silaturahmi dengan orang tua calon istriku, aku 'kan baru sekali bertemu dengan mereka," ucap Vicky dengan penuh penekanan. Tentu saja dia melakukan itu untuk mendesak Hyuna agar segera menjawab pengakuan cintanya.
Hyuna terdiam dengan gugup. Mendadak hatinya menjadi gelisah dan merasa seperti sudah akan menikah.
"Apa aku tidak boleh datang ke sana?" tanya Vicky dengan sedih.
Hyuna langsung menggelengkan kepalanya. "Bu-bukan seperti itu, Mas. Aku hanya, hanya terkejut saja." Dia mengulas senyum tipis.
"Berarti boleh 'kan?" tanya Vicky kembali untuk memastikan.
"I-iya silahkan saja, Mas. Aku akan memberitahu ayah dan ibu."
Vicky menganggukkan kepalanya dengan penuh bahagia. "Aku akan datang bersama keluargaku, jadi katakan pada orang tuamu untuk bersiap."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.