Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 84. Aku Juga Merasakan Hal yang Sama.


__ADS_3

Seisi rumah sakit dibuat gempar oleh Vicky akibat suara berisik yang berasal dari ruangan Riska. Orang-orang yang berada di tempat itu bergegas untuk melihat apa yang terjadi, begitu juga para petugas medis dan pihak keamanan rumah sakit tersebut.


"Apa yang Anda lakukan?" teriak seorang Dokter senior yang berdiri di ambang pintu.


Vicky tetap melakukan aksinya tanpa peduli dengan apa yang mereka lakukan. "Amankan mereka, Damian."


Damian menganggukkan kepalanya dan bergegas berjalan ke arah pintu. Dia mencoba untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi, dan akan bertanggung jawab penuh dengan apa yang mereka lakukan.


"Tapi Anda mengganggu para pasien yang ada di rumah sakit ini, Tuan. Kami tidak bisa-"


"Diam!" teriak Vicky dengan nada membentak membuat Dokter itu terkesiap, begitu juga dengan orang-orang yang sudah berkerumun di depan pintu ruangan itu.


"To-tolong aku, aku mohon tolong aku," ucap Riska dengan lirih dengan tubuh gemetaran. Dia mendekap tubuhnya sendiri dan meringkuk di atas kursi.


Hyuna yang berada di hadapan Riska langsung menggenggam tangan wanita itu. "Tidak apa-apa, Riska. Mbak ada di sini, tidak ada yang bisa menyakitimu." Dia berucap dengan sendu.


"Tidak. Dia, dia menyakitiku. Dia akan membunuh bayiku."


Hyuna langsung memeluk tubuh Riska yang gemetaran dengan erat. Pakaian yang dipakai wanita itu sudah basah terkena keringat, padahal ada pendingin ruangan di tempat itu.


"Tenanglah, mbak ada di sini. Mbak akan melindungimu dari orang jahat, dan mereka tidak bisa menyakitimu," ucap Hyuna dengan terisak.


Semua orang terdiam saat melihat apa yang terjadi, terutama Dokter yang merawat Riska. Dia tidak menyangka jika pasiennya mau merespon apa yang mereka lakukan.


"M-mbak, Mbak Hyuna?"


Deg.


Hyuna langsung melerai pelukannya saat mendengar ucapan Riska, dia lalu menatap wanita itu dengan sendu.

__ADS_1


"Iya, ini Mbak, Riska. Mbak ada bersamamu." Lirih Hyuna dengan mata berkaca-kaca.


Riska mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Hyuna lekat-lekat. Lalu tiba-tiba dia memeluk wanita itu membuat semua orang terkesiap, terutama Hyuna.


"Mbak Hyuna, huhuhuhu. Tolong aku, tolong aku." Riska memeluk tubuh Hyuna dengan erat seraya menumpahkan semua tangisannya membuat Aksa dan Mona menatap dengan sendu.


Mereka lalu masuk ke dalam ruangan itu untuk menghampiri Riska. Ada perasaan bahagia dan juga sedih yang sedang dirasakan. Mereka merasa senang karena Riska sudah mau bereaksi dan juga bicara, tetapi ada perasaan sedih saat melihat kehancuran di mata wanita itu.


Para petugas medis segera membubarkan orang-orang yang masih berkerumun di tempat itu, dan kembali ke pekerjaan masing-masing. Hanya tinggal 2 orang Dokter dan beberapa perawat saja yang masih berada di tempat itu, karena mereka yang merawat Riska selama ini.


Vicky menghela napas kasar saat melihat apa yang terjadi. Senyum tipis terbit dibibirnya karena apa yang dia lakukan membuahkan hasil yang sangat baik.


"Terima kasih, Tuan. Terima kasih banyak," ucap Aksa sambil menundukkan tubuhnya sampai membungkuk. Dia benar-benar merasa sangat berhutang budi dengan Aksa, karena sudah membuat adiknya kembali bicara.


"Pindahkan dia ke rumah sakit Griya kasih, aku yang akan menanggung semua biayanya."


Deg.


"Pindahkan saja. Aku mengenal Dokter yang bagus di sana, dan mereka merawat pasien dengan sepenuh hati," ucap Vicky. Ucapannya itu memuat sebuah sindiran untuk petugas medis yang masih berada di tempat itu, hingga mereka hanya bisa menunduk dan tidak sanggup menegakkan kepala.


Setelah keadaan Riska tenang, mereka membawanya keluar dari ruangan yang sudah seperti kapal pecah itu, tetapi tetap dalam pelukan Hyuna yang mencoba memberikan ketenangan.


Riska lalu dipindahkan ke ruang perawatan yang berada tidak jauh dari ruangan yang sebelumnya. Semua orang berkumpul di tempat itu, kecuali Damian dan Yudha yang sedang mengurus ganti rugi atas keributan yang mereka lakukan.


"Riska, kau mendengar kakak?" tanya Aksa dengan pelan, membuat Riska mengangguk lemah.


Seketika hati Aksa langsung lega saat melihatnya. Beban yang selama ini dia rasakan seakan menghilang dari pundaknya.


"Maaf, maafkan kakak," sambung Aksa dengan mata berkaca-kaca, bahkan beberapa tetes air mata berhasil keluar dari sudut matanya.

__ADS_1


Riska terdiam dengan kedua tangan yang saling bertautan. Rasa takut atas apa yang terjadi kembali menghantuinya membuat tubuhnya kembali bergetar.


Aksa langsung merangkul tubuh Riska sambil membisikkan kata-kata yang membuat adiknya tenang. Dia ingin menunjukkan bahwa dia akan selalu berada di samping Riska.


Begitu juga dengan Mona, dia berusaha untuk mendekati Riska walau putrinya tampak lebih ketakutan saat melihatnya. Namun, dia tetap berada di dalam ruangan itu untuk menemani sang putri.


Hyuna yang melihatnya tersenyum senang. Dia lalu beranjak keluar dari ruangan itu saat tidak melihat keberadaan Vicky.


"Mas!"


Vicky yang sedang duduk di kursi menoleh ke arah Hyuna, dia lalu tersenyum dan menepuk kursi yang ada di sampingnya untuk menyuruh wanita itu duduk di sana.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Vicky sambil tersenyum hangat. Senyum yang membuat Hyuna tidak bisa memalingkan mata.


"Tentu saja, Mas. Terima kasih karena sudah membantu, aku tidak menyangka jika Mas paham masalah psikologis seperti itu," jawab Hyuna. Dia merasa jika Vicky adalah laki-laki yang serba bisa, dan tahu tentang semua hal.


Vicky terdiam dan hanya tersenyum saja untuk menanggapi ucapan Hyuna. Dia lalu mengajak wanita itu untuk pergi dari rumah sakit menuju tujuan mereka yang seharusnya.


Hyuna mengangguk dan kembali masuk ke dalam ruangan untuk pamit pada Aksa dan yang lainnya. Mereka banyak mengucapkan banyak terima kasih padanya, dan berjanji akan merawat Riska dengan baik.


Vicky terus menatap wajah Hyuna yang tersenyum cerah. Senyuman wanita itu terasa benar-benar menenangkan, padahal tadi dia hampir bereaksi sama seperti Riska.


"Tentu saja aku paham, Hyuna. Karna aku juga mengalami hal yang sama seperti wanita itu."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2