Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 90. Tugas di Malam Hari.


__ADS_3

Setelah semua keluarga selesai bermusyawarah, akhirnya mereka memutuskan bahwa acara pernikahan Vicky dan Hyuna akan diadakan tepat di hari minggu. Terhitung 5 hari dari hari ini, dan segala persiapan diserahkan langsung pada Damian dan Vanes yang terlihat sangat bersemangat sekali.


Semua orang tampak sangat bahagia saat mengetahuinya, terutama Vicky yang tampak tersenyum cerah dan tidak sabar menunggu hari di mana dia dan Hyuna resmi menikah.


"Kau harus menyiapkan semuanya dengan baik dan benar, Damian. Aku ingin menjadikan Hyuna seorang ratu di hari bahagia itu," ucap Vicky sambil menepuk bahu Damian.


"Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Saya pasti tidak akan mengecewakan Anda," balas Damian dengan penuh keyakinan.


Vicky menganggukkan kepala dan menyerahkan semuanya pada Damian. Dia yakin laki-laki itu akan menyiapkan semuanya dengan istimewa, karena selama ini pekerjaan Damian selalu di luar ekspetasinya.


Damian yang sedang menyandarkan tubuhnya tiba-tiba mengambil ponsel yang ada dalam saku celana, karena merasa jika benda pipih itu sedang bergetar.


Dia menyipitkan mata dengan kening mengkerut saat menerima email dari seseorang. Dengan cepat Damian beranjak menjauh dari tempat itu karena ingin melakukan panggilan.


"Hiks. Huhuhu."


Langkah Damian terhenti saat mendengar suara seseorang. Dia lalu menoleh ke arah samping dan terlonjak kaget saat melihat seorang wanita sedang terduduk di tanah dengan kedua kaki terlipat.


"Apa-apaan wanita ini? Apa dia sedang menangisi akhir tragis dari cintanya pada tuan?"


Damian melirik Risa dengan tajam. Hampir saja dia berteriak saat melihat wanita itu, apalagi ketika mendengar suara tangisan seperti yang terjadi di tv-tv saat melihat film horor.


Risa yang tidak menyadari keberadaan Damian tampak menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, dengan mulut menggerutu kesal.


"Dasar si*alan. Kenapa air mata ini gak mau berhenti keluar sih?" ucap Risa dengan kesal. Dia mengusap wajahnya yang masih saja basah, padahal dia sudah menahannya sekuat tenaga.


"Lagian kenapa aku ada di sini sih?" gerutu Risa kembali. "Tapi, aku juga tidak bisa menolak ajakan tante Vanes." Dia menghela napas frustasi sambil mengusap-ngusap kepalanya, sampai membuat rambutnya acakan-acakan.


"Apa dia sudah gila?" Damian tidak habis pikir dengan apa yang Risa lakukan, dan dia lebih tidak habis pikir lagi kenapa dia masih ada di sana melihat wanita itu.


"Terseralah." Risa menjadi depresot sendiri. Dia lalu beranjak bangun dari tempat itu sambil menepuk-nepuk pantatnya untuk membersihkan tanah yang menempel di sana.

__ADS_1


"Astaga!"


Risa memekik kaget sampai tubuhnya mundur menabrak mobil saat melihat seorang lelaki berdiri di sampingnya. Apalagi saat melihat siapa sosok yang berdiri di tempat itu saat ini.


Glek.


"Apa yang dia lakukan di sini? Dan sejak kapan dia ada di sana, apa dia melihat semua yang aku lakukan?"


Wajah Risa berubah panik dan memerah, membuat Damian tersenyum sinis karena tahu apa yang sedang wanita itu pikirkan saat ini.


"Kenapa? Kau kaget, karena aku melihatmu sedang menangisi kisah cinta yang berakhir tragis itu?" cibir Damian dengan smirik iblis diwajahnya, membuat wajah Risa kian panik.


"Kurang ajar, dia pasti mendengar semuanya."


Risa memalingkan wajahnya yang memerah karena merasa malu dan kesal secara bersamaan. Kedua tangannya juga terkepal erat karena geram dengan apa yang Damian lakukan. Tapi tunggu, kenapa laki-laki itu ada di tempat ini? Apa sengaja ingin mengintip apa yang dia lakukan?


"Kenapa Anda ada di sini?" tanya Risa dengan tajam sambil memalingkan wajah ke arah laki-laki itu.


"Kenapa? Apa kau pikir sejak tadi aku mengawasimu?"


Pertanyaan Damian menancap tepat sasaran membuat Risa mencebikkan bibirnya. Dia berdecih, lalu kembali memalingkan wajah dengan kesal.


"Sekarang berhenti menangisi kisah cinta atau apalah itu. Ambil laptopmu dan kerjakan proposal ini," perintah Damian sambil menyodorkan ponselnya ke hadapan Risa, membuat wanita itu kembali menatap ke arahnya.


Risa mengernyitkan kening bingung. Ini kan diluar jam kerja, udah gitu dia masih belum resmi masuk ke perusahaan. Namun, kenapa malah disuruh kerja malam-malam begini sih? Dia benar-benar merasa kesal luar biasa.


"Kenapa diam? Kau tidak mau?" tanya Damian dengan tatapan menusuk, membuat tangan Risa bergerak dengan sendirinya mengambil ponsel itu.


Hati Risa ngedumel kesal, tetapi dia merasa takut juga sehingga tidak berani menolak perintah Damian. Memangnya, siapa yang tidak takut dengan laki-laki itu? Orang-orang kantor bahkan jauh lebih takut dengannya dari pada Vicky sang pemilik perusahaan.


Damian lalu mengambil kunci mobil yang ada di dalam saku sambil berjalan ke arah di mana mobilnya berada. Dia membuka pintunya, dan masuk ke dalam mobil tersebut.

__ADS_1


"Tunggu, apa kami akan mengerjakan proposal ini di dalam mobil berduaan?"


Tiba-tiba Risa merasa gelisah, dan gugup secara bersamaan. Wajahnya kembali memerah, saat memikirkan harus berduaan dengan Damian di dalam mobil dijam segini.


"Ada apa, Tuan? Kenapa Anda memanggilku?"


Risa terkesiap dari lamunannya saat mendengar suara seseorang, sontak dia melihat ke arah Damian di mana sudah ada Yudha juga di tempat itu.


"Kerjakan proposal ini dengan wanita yang jadi patung di sana," ucap Damian sambil menunjuk ke arah di mana Risa berada, membuat Yudha mengikuti arah yang dia tunjuk. "Ini sangat mendesak, aku harus mengirimnya besok pagi." Dia kembali melajutkan ucapannya membuat Yudha kembali melihat ke arahnya.


"Baiklah. Aku akan mengerjakannya," ucap Yudha dengan patuh, sambil menganggukkan kepalanya.


Risa yang masih berada di tempat itu tampak menundukkan kepala. Dia merutuki apa yang ada dalam pikirannya, padahal semua itu tidak benar. "Aku benar-benar sudah gila."


"Kenapa kau diam saja?"


Risa terkesiap saat mendengar suara Yudha. Dengan cepat dia menghampiri kedua lelaki itu dan masuk ke dalam mobil.


"A-aku ngerjain yang bagian mana?" tanya Risa pada Yudha, yang saat ini duduk di sampingnya.


"Bagian ini." Damian yang menjawab sambil memajukan tubuhnya untuk menunjukkan bagian mana yang harus Risa kerjakan, membuat wajahnya berada tepat di depan wajah wanita itu.


Glek.


"Kenapa jantungku berdegup kencang sih?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2