Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 39. Pemimpin Rapat.


__ADS_3

Suasana di ruang sidang terlihat tegang saat menunggu pembacaan keputusan oleh hakim. Hyuna memejamkan kedua matanya sejenak untuk menarik napas panjang dan yakin jika semua ini adalah yang terbaik untuknya.


"Baik, saya mohon perhatian bagi semua orang yang ada di ruangan ini agar tetap tenang pada saat pembacaan keputusan," ucap hakim sambil melihat ke arah semua orang.


"Saya, selaku ketua hakim pada sidang perceraian antara Tuan Aksa Dharmendra dengan Nona Hyuna Isvara. Menyatakan bahwasannya Tuan Aksa dinyatakan terbukti telah menikah lagi dengan wanita lain tanpa izin dari pihak istri. Semua harta yang tertera dalam gugatan menjadi hak milik Nona Hyuna, sementara harta yang lain akan menjadi milik tuan Aska. Kami juga telah mengambil keputusan, bahwasannya sejak hari ini. Tuan Aska Dharmendra dan Nona Hyuna Isvara sudah resmi bercerai."


Duak


Duak


Duak


Hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali sebagai tanda bahwa keputusan yang telah dibacakan tidak dapat diganggu gugat lagi.


Seketika hati Hyuna menjadi sangat lega saat sudah mendengar hasil keputusan hakim, walau hatinya ada rasa sesak dan sakit yang terasa menusuk relung hatinya.


Yudha dan juga pengacara Hyuna langsung mengucap syukur karena perceraian Hyuna dan juga Aksa telah selesai. Kini wanita itu sudah resmi berpisah, dan hidup bebas tanpa belenggu dari laki-laki itu lagi.


Mona dan juga Laura bersorak senang karena Aksa dan juga Hyuna sudah resmi berpisah, sementara Aksa sendiri terdiam dengan air mata yang menetes dari sudut matanya.


Hyuna lalu mengucapkan banyak terima kasih pada hakim dan juga jajarannya, dia lalu berbalik dan menghampiri Yudha.


"Ayo kita pergi, Aksa!"


Aksa tersentak kaget saat tangan Laura menepuk bahunya, sontak dia menghapus air mata yang membasahi wajah membuat wanita itu menatap tajam.


"Kau menangis?" Pekik Laura dengan tidak percaya membuat semua orang menoleh ke arah mereka, termasuk Hyuna dan juga Yudha.


Aksa lalu beranjak pergi dari tempat itu tanpa menjawab ucapan Laura. Dia pergi bukan karena malu, hanya saja hatinya terasa sangat sakit dengan perpisahan yang telah terjadi.


"Kenapa rumah tangga kita jadi seperti ini, Hyuna? Kenapa?"


Aksa mengusap wajahnya dengan kasar. Dia menyandarkan tubuhnya di balik tembok dengan air mata yang terus saja keluar membasahi wajah.


Hyuna dan Yudha lalu beranjak pergi dari tempat itu dan langsung pulang ke rumah. Hari ini dia meminta shif malam karena jadwal persidangan, sekaligus ingin menenangkan diri sejenak.


Sesampainya di rumah, Hyuna dikejutkan dengan keberadaan ibu, ayah, dan juga sang adik. Sontak dia langsung menghamburkan dirinya ke dalam pelukan sang ibu membuat air mata mengalir deras.


"Menangislah, Nak. Menangislah."


Aida mengusap punggung Hyuna dengan lembut. Dia sangat mengerti betapa sakit dan hancurnya perasaan sang putri saat ini, dan tidak salah jika Hyuna menumpahkan segala rasa sakitnya melalui air mata.

__ADS_1


Hyuna terus memeluk tubuh sang ibu dengan erat. Rasa sakit yang sejak tadi dirasakan langsung menyeruak di dalam dada, sungguh membuatnya sesak dan tidak bisa berpikir jernih.


Setelah merasa lebih baik, Aidan melerai pelukannya dan mengambil segelas teh yang sudah dia buat untuk sang putri.


"Minum dulu, Nak."


Hyuna mengangguk dan menerima teh yang ibunya beri, dia lalu meminumnya sedikit dan kembali meletakkannya di atas meja.


"Kenapa ayah dan ibu tidak bilang jika datang ke sini?" Hyuna menatap kedua orangtuanya dengan sendu. "Aku bisa menyiapkan sesuatu untuk ayah dan ibu."


"Itu tidak perlu, Nak. Asal kau dan adikmu sehat, kami sudah merasa senang."


Hyuna menganggukkan kepala sambil mengulas senyum tipis. Dia tahu jika Yudha pasti memberitahu tentang sidang perceraiannya dengan kedua orang tua mereka, sehingga ayah dan ibu datang di saat yang tepat.


"Maaf karena kami tidak bisa menemanimu di pengadilan, Nak," ucap Beni membuat Hyuna langsung menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Ayah minta maaf? Aku sudah sangat senang sekali saat melihat Ayah dan Ibu tadi, rasanya hatiku menjadi tenang dan melupakan semuanya."


Aida langsung mengusap punggung tangan sang putri saat mendengar ucapannya. "Kau ini bisa saja. Ya sudah, kalian belum makan 'kan?"


"Belum, Bu. Tapi aku sudah menyuruh Yudha untuk pesan makanan, mungkin sebentar lagi sampai."


Aida lalu menganggukkan kepala dan beralih membahas tentang hal yang lain. Dia harus mengalihkan perhatian Hyuna dari apa yang terjadi hari ini, setidaknya untuk sesaat saja.


Beberapa saat kemudian, Aksa sudah sampai di tempat tujuan dan bergegas untuk masuk ke dalam perusahaan. Dia mempercepat langkah kakinya saat melirik ke arah jam yang sudah hampir menunjukkan pukul 2 siang.


"Maaf saya terlambat," ucap Aksa sambil masuk ke dalam ruangan dengan pintu yang tadi sudah tertutup.


Semua orang yang ada di ruangan itu hanya diam dan tidak berani mengeluarkan suara, sementara Vicky dan Damian juga diam memperhatikan laki-laki itu.


Rapat hari ini sangatlah penting, itu sebabnya Vicky memutuskan untuk langsung memimpin rapat dan melihat bagaimana perkembangan para karyawannya.


Melihat Vicky, tentu saja membuat Aksa kembali mengingat kedekatan laki-laki itu dengan Hyuna hingga membuatnya tidak fokus memperhatikan apa yang Damian katakan.


"Tidak mungkin Hyuna bisa dekat dengan orang seperti mereka, tapi kenapa waktu itu dia bisa bersama dengan Vicky dan juga Damian?"


Aksa ingin sekali menanyakan semua itu pada Hyuna, tetapi wanita itu pasti tidak akan mau menjawabnya.


"Apa kau tidak mendengar suaraku, Tuan Aksa?"


Aksa tersentak kaget saat mendengar suara Damian yang kuat menggelegar di ruangan itu.

__ADS_1


"Ma-maaf, Tuan. Saya tidak memperhatikannya dengan baik."


Aksa menundukkan kepalanya dan merutuki kebod*ohan yang telah di lakukan. Bagaimana jika Vicky murka dan memecatnya? Dia pasti akan menjadi gembel karena tidak bisa lagi bekerja di perusahaan lain jika sudah dipecat dari perusahaan ini.


"Jika kau sedang memikirkan hal lain, lebih baik keluar dari ruangan ini sekarang juga!" ucap Damian dengan penuh penekanan, sementara Vicky hanya diam sambil melirik Aksa dengan tajam.


"Maafkan saya, Tuan. Hal seperti ini tidak akan terjadi lagi."


Damian yang akan kembali marah, tiba-tiba tidak jadi mengeluarkan suaranya saat tangannya di tepuk oleh Vicky.


"Lanjutkan laporan tentang permintaan pasar."


"Ba-baik, Tuan."


Aksa langsung membuka berkasnya dan melaporkan semua permintaan pasar selama 6 bulan terakhir, dia menjabarkan segala rincian yang tertera pada setiap bagian membuat semua orang langsung paham.


"Sayangnya kau sangat pintar, Aksa. Jika tidak aku pasti akan menendangmu dari perusahaanku."


Mudah saja bagi Vicky untuk memecat orang lain, tetapi dia lebih mementingkan kinerja dalam perusahaan ketimbang masalah pribadi. Namun, jika suatu saat Aksa berulah sedikit saja. Maka jangan salahkan dia jika langsung memecat laki-laki itu.


2 jam berlalu begitu saja dan rapat hari ini sudah selesai dilaksanakan. Vicky memberikan kata-kata motivasi yang berisi ancaman untuk membakar jiwa mereka agar semangat memajukan perusahaan.


Setelah selesai, semua orang bergegas keluar dari ruangan itu hingga tinggal 3 orang saja yang berada di sana.


Rasa penasaran Aksa membuatnya tetap tinggal di ruangan itu, walaupun tidak punya keberanian bertanya langsung pada sang CEO.


"Apa kau ingin mengatakan sesuatu?"


Vicky yang sadar jika sejak tadi Aksa terus melihat ke arahnya langsung menanyai laki-laki itu, walaupun dia sudah tahu jika Aksa pasti ingin membahas tentang Hyuna.


"Ma-maaf, Tuan. Saya permisi dulu."


Nyali Aksa ternyata masih sebesar biji jagung hingga tidak berani bertanya, tentu saja membuat Vicky tersenyum tipis dengan apa yang laki-laki itu lakukan.


"Kenapa dia tidak jadi bertanya? Padahal aku akan mengatakan hubunganku dengan Hyuna jika dia bertanya."


"Memangnya hubungan Anda dan nona Hyuna apa, Tuan?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2