
Vicky yang akan beranjak pergi ke kamar terpaksa mengurungkan niatnya saat tangannya dicekal oleh Yudha, apalagi ketika mendengar ucapan laki-laki itu.
"Kau mau bicara tentang kakakmu?"
Yudha langsung menganggukkan kepalanya membuat Vicky masuk ke dalam kamar tersebut, dia lalu menutup pintu kamarnya dan berlalu duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
Yudha diam sejenak sambil menatap Vicky dengan tajam. Dia meyakinkan diri sendiri jika ini saat yang tepat untuk membicarakan tentang kakaknya dengan laki-laki itu.
"Apa, apa Tuan mencintai mbak Hyuna?"
Tepat seperti dugaan Vicky. Jelas dia sudah tahu jika Yudha pasti akan menanyakam hal sepert itu padanya, terlebih-lebih laki-laki itu selama ini selalu waspada dengan apa yang dia lakukan.
"Menurutmu bagaimana? Apa aku mencintai kakakmu?"
Vicky balik bertanya pada Yudha. Dia ingin melihat sebenarnya kekhawatiran seperti apa yang sedang laki-laki itu rasakan, apakah Yudha takut jika dia mempermainkan Hyuna?
"Saya tidak tahu, Tuan. Sebenarnya selama ini saya selalu mengawasi semua yang Anda lakukan kepada Mbak Hyuna, saya juga tahu jika Anda yang sudah bicara pada pihak pengadilan agar perceraian mbak Hyuna segera di selesaikan."
Vicky cukup terkejut dengan apa yang Yudha katakan, dia tidak menyangka jika laki-laki biasa seperti Yudha bisa sangat teliti dan mengetahui apa yang dia lakukan di belakang Hyuna.
"Aku tidak tau apakah mencintai Hyuna atau tidak."
Vicky memilih untuk mengatakan yang sejujurnya, meskipun dia menyadari jika ada perasaan tertentu untuk Hyuna. Namun, semuanya masih terasa samar. Apakah dia mencintai wanita itu, atau hanya sekedar merasa suka dan juga kagum? Terkadang perasaan seperti itu sangat susah untuk dibedakan, dan hanya waktu yang bisa menjawab semuanya di kemudian hari.
"Selama ini Mbak Hyuna sangat menderita dalam rumah tangganya. Bukan hanya karena mertuanya yang jahat, tapi juga karena sikap mantan suaminya yang tidak tegas. Dia bahkan menikah dengan wanita lain hanya karena mbak Hyuna belum memberikan anak, bukankah semua itu diluar kemampuan mbak Hyuna?"
Untuk pertama kalinya Vicky melihat kemarahan dan kebencian dalam sorot mata Yudha. Biasanya laki-laki itu hanya akan menatap datar tanpa ekspresi, bahkan saat bicara pun hanya sekedarnya saja.
Namun, Vicky cukup terkejut saat mendengar ucapan Yudha. Jika tentang masalah anak, tentu dia sudah tahu saat menemui pihak pengadilan agama. Akan tetapi, dia tidak tahu jika mertua wanita itu juga bersikap jahat padanya.
"Apa mereka pernah melakukan kekerasan fisik?"
Yudha menggelengkan kepala karena setahunya Hyuna tidak pernah mengalami pemukulan.
"Mereka memang tidak pernah memukul mbak Hyuna, tapi mertuanya selalu menyudutkan dan juga menghinanya. Tidak peduli di mana mereka berada, bahkan di hadapan banyak orang pun mereka menginjak-nginjak harga diri mbak Hyuna."
__ADS_1
Tangan Vicky langsung terkepal kuat saat mendengar ucapan Yudha. Darahnya terasa mendidih saat mengetahui apa yang terjadi pada Hyuna, dan tentu saja emosinya sudah naik sampai ke ubun-ubun.
"Saya tidak menginginkan apapun dari Anda, tapi saya mohon jangan sakiti mbak Hyuna lagi. Jika Anda benar-benar mencintainya, maka saya akan sangat berterima kasih. Dan jika Anda tidak mencintainya, saya mohon jangan memberikan harapan yang akan menyakiti mbak Hyuna. Percayalah jika mbak Hyuna akan memberikan seluruh cinta dan juga hidupnya pada laki-laki yang tulus mencintainya."
Deg.
Hati Vicky langsung bergetar saat mendengar kata-kata terakhir Yudha. Amarah yang sejak tadi dia rasakan seolah berubah menjadi getaran-getaran aneh yang membuat jantungnya berdegup kencang.
"Bukankah sangat beruntung jika bisa mendapatkan pendamping seperti Hyuna? apakah aku adalah laki-laki yang beruntung itu?"
Vicky tersenyum dengan apa yang terlintas dalam pikirannya, tetapi saat ini ada sesuatu yang jauh lebih penting dari semua itu.
"Apakah sekarang mereka masih mengganggu Hyuna?"
Yudha kembali menganggukkan kepalanya. "Istri kedua dari laki-laki itu selalu berusaha untuk menjatuhkan mbak Hyuna, dia bahkan berulang kali menyakiti dan sengaja ingin membuat mbak Hyuna malu."
Yudha seperti sedang mengadu pada kakaknya sendiri tentang apa yang terjadi. Dia yang awalnya menjaga jarak karena harus selalu waspada, kini seperti sedang mengikis jarak tersebut.
Vicky lalu mengangguk paham. Dia pasti akan membalas semua rasa sakit yang Hyuna rasakan selama ini, dan jangan harap jika ada sedikit saja belas kasihan yang akan dia berikan.
*
*
Setelah selesai, Hyuna beranjak keluar dari kamar dan segera menuju dapur. Dia memakai kaos oversize dengan celana training yang ada di dalam lemari, tidak lupa dengan hijab pendek sedada yang juga ada di lemari tersebut.
"Selamat pagi semuanya."
Beberapa pelayan yang ada di dapur tersentak kaget saat melihat kedatangan Hyuna, mereka segera menjawab sapaan wanita itu dengan kepala tertunduk.
"Apa ada yang bisa aku bantu?"
Mereka semua terkesiap dan saling bertatapan saat mendengar ucapan Hyuna, membuat kepala pelayan yang bernama Eni menghampiri wanita tersebut.
"Terima kasih karena sudah berniat untuk membantu, Nona. Tapi semua ini sudah tugas yang harus kami kerjakan."
Hyuna mengangguk paham dengan senyum simpul diwajahnya. "Kalau gitu bisakah aku menyiapkan menu sarapan untuk pagi ini? Tapi kalian juga harus membantuku."
__ADS_1
Eni menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Nona. Mari, saya akan menemani Anda memasak."
Hyuna lalu tersenyum senang dan mulai berkutat di dapur. Pagi ini dia akan menyiapkan sarapan yang akan menghangatkan perut semua orang, dan pilihannya jatuh kepada bubur ayam. Apalagi saat ini cuaca sangat dingin dengan rintik hujan yang membasahi bumi.
Setelah satu jam berkutat di dapur, akhirnya semua menu sarapan pagi ini selesai juga. Sudah ada bubur ayam lengkap dengan sambal dan juga kerupuk, tidak lupa pencuci mulut yang akan menyegarkan perut.
Vanes yang baru saja bangun bergegas membersihkan diri dan berlalu keluar dari kamar. Dia tersenyum saat melihat Hyuna sudah berada di dapur, dan dia tidak perlu khawatir bagaimana kebutuhan makan Vicky nanti saat sudah menikah dengan wanita itu.
"Wah, apa yang sedang kau lakukan, Hyuna?"
Hyuna yang sedang sibuk menyusun menu sarapan pagi ini mendongakkan kepalanya saat mendengar suara seseorang, dia lalu tersenyum pada orang tersebut.
"Aku hanya sedang menyiapkan sarapan untuk semuanya, Tante. Tidak apa-apa kan?"
"Tentu saja, Sayang. Kau boleh melakukan apapun di rumah ini termasuk masak, apalagi Vicky dan Wildan sangat menyukai masakanmu."
Wajah Hyuna merona malu saat mendengar pujian dari Vanes, tetapi apa yang wanita paruh baya itu katakan benar adanya.
Risa yang akan ke dapur menghentikan langkahnya di ambang pintu, dia lalu tersenyum sinis saat melihat menu sarapan yang wanita itu siapkan.
Setelah semuanya selesai, Vanes menyuruh Hyuna untuk membangunkan Wildan sebelum cucunya itu terlambat ke sekolah, sementara dia sendiri akan ke kamar Vicky untuk membangunkan bayi besar itu.
"Biar aku saja yang banguni Wildan, Tante. Setiap pagi kan, dia biasa bersama denganku."
Hyuna yang akan beranjak pergi terpaksa mengurungkan niatnya saat mendengar ucapan Risa, terlihat wanita itu tersenyum padanya lalu segera pergi menuju lantai 2.
"Maafkan Risa, Hyuna. Mungkin dia takut jika Wildan tidak terbiasa dengan yang lain." Vanes merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, Tante. Seperti ucapan Risa jika Wildan sudah biasa dengannya."
Vanes hanya bisa tersenyum saat mendengar ucapan Hyuna. Andai saja almarhum menantunya tidak menitipkan Risa pada Vicky, dia pasti sudah membelikan rumah untuk wanita itu. Bukannya dia merasa tidak senang, hanya saja dia tahu jika selama ini Risa menyimpan perasaan pada Vicky.
"Jika dia berani berbuat yang tidak-tidak, aku akan langsung mengirimnya pergi."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.