
Risa menatap Vanes dengan senyum hangat dan mata berkaca-kaca. Beberapa tahun hidup bersama dengan wanita paruh baya itu, membuat dia merasakan kasih sayang seorang Ibu.
Risa yang sejak kecil sudah ditinggal oleh ibunya, benar-benar haus akan kasih sayang. Bukan berarti selama ini almarhum sang kakak tidak menyayanginya, hanya saja kasih sayang mereka terasa berbeda.
"Kenapa Vicky tidak mengatakannya pada Tante?" tanya Vanes dengan bingung.
Vicky memang pernah mengatakan jika sudah membeli rumah untuk Risa, tetapi Vanes tidak tahu jika hari ini wanita itu akan pindah ke rumah tersebut.
"Mungkin Kak Vicky sedang sibuk, itu sebabnya tidak sempat mengatakannya pada Tante," ucap Risa. Dia mengerti jika Vicky masih sangat marah padanya, atau bahkan laki-laki itu sangat membencinya sekarang. Itu sebabnya Vicky tidak mengatakan perihal pengusirannya, lagi pula itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dibicarakan.
Vanes mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau begitu ayo, tante akan mengantarmu!" Dia menarik tangan Risa untuk masuk ke dalam mobil.
"Ti-tidak perlu, Tante. Aku bisa sendiri," ucap Risa dengan cepat yang berisi penolakan. Bagaimana mungkin orang tua Vicky yang mengantarnya? Jika laki-laki itu tahu, maka dia juga yang akan terkena imbasnya.
"Tapi, Bukannya Tante mau pergi?" ucap Risa kembali yang masih mencoba untuk menahan wanita paruh baya itu, dan apa yang dia lakukan membuahkan hasil.
Vanes terdiam. Benar juga, dia lupa jika akan pergi ke rumah Hyuna. Namun, masalahnya sekarang, kenapa sampai saat ini Vicky tidak juga memberi kabar padanya? Apa jangan-jangan putranya itu sudah mati?
"Huh, awas saja kalau ketemu nanti," gumam Vanes dengan geram. Tidak bisa satu hari saja putranya membuat dia senang.
"Tante."
Vanes terkesiap saat mendengar panggilan Risa, dia lalu berbalik dan melihat ke arah wanita itu. "Benar, tante harus pergi ke rumah Hyuna. Tapi, apa kau tidak ikut? Kau tidak ingin melihat Vicky lamaran?"
Risa terkesiap saat mendapat pertanyaan dari Vanes. Tidak, dia sama sekali tidak ingin melihat Vicky lamaran, atau nantinya malah dia yang akan membuat keributan di sana.
Namun, tidak mungkin juga jika dia langsung mengatakan tidak, atau Vanes akan merasa curiga dan tahu jika dia sudah membuat kesalahan besar.
"Kau sedang ribut dengan Vicky, Ris?" tanya Vanes saat tidak mendapat jawaban dari wanita itu. Matanya menyipit penuh curiga, membuat wanita itu mengibas-ngibaskan tangan dengan wajah panik.
"Ti-tidak kok Tante, kami baik-baik saja," jawab Risa dengan senyum canggung, dan jujur saja, jawabannya malah membuat kecurigaan Vanes berubah menjadi keyakinan.
__ADS_1
"Apa karna bertengkar, kau jadi pindah rumah?"
Jleb.
Pertanyaan Vanes yang selanjutnya terasa menusuk tepat sasaran, membuat wajah Risa kian memucat, dengan keringat dingin yang bercucuran.
"Sa-sama sekali tidak benar, Tante. Kami baik-baik saja," jawab Risa sambil mencoba untuk tenang. Beberapa kali menarik napas panjang, lalu menghembuskannya agar tidak panik.
"Ya sudah. Kalau gitu masukkan kopermu ke dalam, lalu ikut tante melamar Hyuna."
Jreng.
Risa tidak bisa lagi mengelak dan terpaksa menuruti perintah wanita paruh baya itu. Dia berjalan gontai ke dalam rumah sambil menyeret kopernya setengah hati.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Hyuna dan yang lainnya sudah berada di rumah sakit, tepatnya di dalam ruangan yang di tempati Riska.
Seperti biasa, Riska tampak duduk termenung dengan tatapan kosong ke arah luar jendela. Siapa pun yang bicara sama sekali tidak dia pedulikan, persis seperti mayat hidup yang tidak memiliki nyawa.
Hyuna duduk tepat di hadapan wanita itu. Penampilannya sangat memprihatinkan, dengan perban yang menutup luka percobaan bunuh diri yang dilakukan.
Hyuna menggenggam tangan Riska, dan sama sekali tidak ada respon darinya. "Riska, mbak datang ke sini untuk menemuimu. Bagaimana kabarmu hari ini, hem?" Dia tersenyum cerah, mencoba menekan air mata yang akan meluncur bebas.
Hening. Sama sekali tidak ada jawaban dari Riska, membuat Mona kembali terisak. Jangankan jawaban, Riska bahkan tidak bergerak sedikit pun.
Hyuna terdiam, mencoba memutar otak untuk mencari cara agar Riska mau bicara, atau setidaknya merespon apa yang dia katakan.
Vicky yang melihatnya ikut mendekat, dan berdiri di sampung Hyuna. "Dia tidak akan pernah merespon apapun, karena saat ini pikirannya hanya tertuju pada satu fokus saja."
Hyuna mendongakkan kepalanya dan menatap Vicky dengan penuh tanda tanya, begitu juga dengan semua orang yang berada di sana.
"Ja-jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Hyuna dengan bingung.
__ADS_1
Vicky terdiam. Dia sedang memikirkan apa yang saat ini sedang berada dalam pikiran Riska, sesuatu yang sangat mengguncang hidup wanita itu.
"Benar, dia pasti memikirkan itu."
Vicky lalu berjalan ke arah meja, di mana ada gelas, piring, dan berbagai perlengkapan lainnya. Dengan cepat, dia menarik semua barang-barang itu hingga jatuh dan menimbulkan suara yang sangat nyaring.
Pyar.
Semua orang memekik kaget saat melihat apa yang Vicky lakukan. Dalam hati mereka bertanya-tanya, sebenarnya dia ingin menyadarkan Riska atau membuat kegaduhan?
"Tidak bereaksi, ya," gumam Vicky. Dia lalu memanggil Yudha dan Damian agar mendekatinya. "Hancurkan semua barang-barang yang ada di sini, dan buat suara keagaduhan yang sangat berisik."
"Apa?" Damian dan Yudha terkejut saat mendengarnya. "Tuan, kita bisa diusir oleh pihak rumah sakit."
"Ikuti saja perintahku," ucap Vicky dengan penuh penekanan. Dia lalu mengambil ponselnya untuk mencari sesuatu.
Yudha dan Damian saling pandang, mau tidak mau mereka terpaksa mengikuti perintah dari Vicky, sementara yang lain hanya menatap dengan heran.
Akhirnya suara berisik menggema di dalam ruangan itu membuat seisi rumah sakit menjadi gempar, para petugas medis segera mendatangi mereka.
Vicky menghidupkan suara teriakan dan tangisan seorang wanita dari ponselnya, membuat Riska merespon suara itu. Dia lalu memutar suara tawa lelaki membuat tubuh Riska menegang.
"Tidak, tidak. Tolong, mbak Hyuna tolong aku!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1