
Vicky dan juga Damian menunggu di depan ruang IGD dengan khawatir. Vicky lalu segera menghubungi Yudha untuk memberitahukan apa yang terjadi pada Hyuna, dan meminta laki-laki itu untuk datang ke rumah sakit.
Yudha yang saat itu sedang bekerja di sebuah kafe langsung menemui bosnya, dan meminta izin untuk menemui kakaknya yang sedang berada di rumah sakit.
Tanpa sepengetahuan sang kakak, sudah hampir sebulan dia bekerja di sebuah kafe yang berada tidak jauh dari kampus. Tentu saja dia tidak bisa hanya duduk diam membiarkan sang kakak banting tulang untuk membiayainya, apalagi kakaknya juga harus membiayai diri sendiri.
Yudha memacu kuda besinya hingga melesat cepat di jalanan. Hingga butuh waktu 15 menit saja dia sudah sampai di rumah sakit. Dia bergegas turun dan berlari ke ruang IGD.
Sangking buru-burunya, Yudha tidak sengaja menabrak seorang lelaki yang berjalan keluar dari rumah sakit.
Tubuh mereka berdua terhuyung ke samping, tetapi masih bisa dikendalikan sehingga tidak terjatuh membentur lantai.
"Maaf, saya-" Yudha tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat siapa lelaki yang baru saja dia tabrak.
"Yudha? Apa yang kau lakukan di sini?"
Aksa yang baru selesai memeriksakan Laura di rumah sakit itu ingin pergi keluar untuk mencari Riska, tetapi langkahnya terhenti saat ditabrak oleh seorang lelaki. Namun, siapa sangka jika lelaki itu adalah Yudha?
"Maaf, aku sedang buru-buru."
Yudha bergegas pergi dari tempat itu untuk melihat bagaimana keadaan sang kakak, sementara Aksa terus menatap kepergian Yudha dengan heran.
"Apa yang dia lakukan di sini? Mungkinkah, mungkinkah Hyuna sedang sakit?"
Mendadak Aksa menjadi sangat khawatir. Dia yang berniat untuk mencari Riska berubah haluan dan segera menyusul langkah Yudha.
"Tuan!"
Vicky dan juga Damian langsung menoleh ke arah samping kanan saat mendengar suara seseorang, dan terlihat Yudha sedang berlari ke arah mereka.
"Ba-bagaimana keadaan mbak Hyuna, Tuan? Dia, dia baik saja kan?" tanya Yudha dengan napas tersengal-sengal akibat terus berlari.
"Tenangkan dirimu, Yudha. Duduklah."
Vicky menepuk kursi yang ada di sampingnya membuat Yudha langsung duduk di sana, kemudian dia menyuruh Damian untuk membelikan minuman untuk calon adik iparnya itu.
"Dokter masih melakukan pemeriksaan, semoga kakakmu baik-baik saja."
Yudha langsung mengaminkan ucapan Vicky, dia lalu bertanya sebenarnya apa yang terjadi pada sang kakak hingga bisa berada di rumah sakit seperti ini. Pasalnya sejak dulu Hyuna jarang sekali sakit, wanita itu sudah seperti robot yang tidak pernah sakit dan juga lelah.
Vicky segera menceritakan apa yang terjadi pada Hyuna di restoran tadi, dan kemungkinan wanita itu terlalu lelah hingga membuatnya pingsan.
__ADS_1
Dari kejauhan Aksa terus memperhatikan Yudha dan juga Vicky. Ternyata dugaannya benar jika Hyuna sedang tidak baik-baik saja. Ingin sekali dia berada di samping wanita itu, tetapi dia tidak mungkin melakukannya. Apalagi saat melihat keberadaan Vicky.
"Sebenarnya ada hubungan apa kau dengan laki-laki itu, Hyuna? Apakah kau menjalin cinta dengannya?"
Tiba-tiba dada Aksa berdenyut sakit saat memikirkan hubungan Hyuna dengan laki-laki lain, apalagi saat ini laki-laki itu sedang menunggu dan terlihat cemas dengan keadaannya.
Aksa lalu memutuskan untuk tetap berada di tempat itu sampai mendengar kabar tentang Hyuna, dia tidak akan merasa tenang jika belum mengetahui bagaimana kondisi kesehatan wanita itu.
Beberapa saat kemudian, Dokter keluar dari ruang IGD membuat Vicky dan yang lainnya segera menghampiri beliau.
"Bagaimana keadaan mbak Hyuna, Dokter?"
"Bagaimana keadaan Hyuna, Dokter?"
Tanya Yudha dan Vicky secara bersamaan membuat Dokter itu tersenyum tipis.
"Kondisi pasien baik-baik saja, Tuan. Beliau hanya terlalu lelah hingga membuat tubuhnya kurang cairan dan lemas, juga menyebabkan rasa sesak ditenggorokan hingga membuatnya tidak sadarkan diri."
Vicky, Yudha, dan juga Damian menghela napas lega saat mendengar ucapan Dokter, begitu juga dengan Aksa yang berada tidak jauh dari mereka.
"Namun, pasien tetap harus di rawat selama beberapa hari agar kembali sehat. Juga tidak boleh menjalankan aktivitas yang menguras banyak tenaga, karena pasien benar-benar harus banyak istirahat."
Mereka semua mengangguk paham dengan apa yang Dokter itu katakan, kemudian Dokter dan beberapa perawat memindahkan Hyuna ke ruang VIP sesuai dengan permintaan Vicky. Lalu mereka semua segera pergi ke ruangan tersebut.
Aksa juga menelepon Ruby, tetapi wanita itu mengatakan jika Riska tidak ada dirumah. Akhirnya dia menyusuri jalanan yang ada disekitar rumah, kemungkinan adiknya berada di tempat itu.
Hyuna yang sudah berada di ruang perawatan tampak seperti orang yang sedang tertidur lelap, sementara ketiga lelaki yang sejak tadi mengkhawatirkannya sedang duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Kau bekerja di kafe, Yudha?"
Yudha yang sedang memperhatikan sang kakak beralih melihat Vicky. "Loh, kenapa Anda bisa tahu?"
Vicky langsung menunjuk ke arah baju yang sedang Yudha pakai membuat laki-laki itu langsung kelabakan.
Dengan cepat Yudha berlari ke kamar mandi untuk mengganti seragam kafe yang setiap hari dia pakai. Sangking buru-burunya, dia sampai tidak ingat jika masih memakai baju tersebut.
Setelah selesai berganti pakaian, Yudha kembali bergabung dengan yang lain. Dia lalu meminta maaf karena langsung pergi karena masih memakai seragam kafe.
"Belum ada satu bulan saya bekerja di kafe xx, tapi kalau mbak Hyuna tau. Dia pasti marah dan tidak akan mengizinkannya."
Vicky tahu benar kenapa Hyuna tidak mengizinkan Yudha untuk bekerja. Pasti wanita itu hanya ingin jika adiknya fokus pada pendidikan saja.
__ADS_1
"Bagaimana jika kau bekerja denganku, Yudha?"
Damian langsung menatap Vicky saat mendengar ucapannya, sementara Yudha tercengang saat mendapat tawaran darinya.
"Aku tau jika kau adalah laki-laki yang pintar dan berbakat, mungkin kau bisa sedikit meringankan pekerjaan Damian."
Vicky melirik ke arah Damian yang tersenyum getir. Tentu saja dia butuh bala bantuan yang bisa dipercaya, karena selama ini hanya dia yang mengerjakan semua perintah Vicky. Bahkan ada masanya di mana dia benar-benar tidak kuat dan ingin mengibarkan bendera menyerah.
"Saya, saya tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Saya merasa tidak pantas untuk menerima tawaran Anda, karena saya hanya orang kampung yang tidak tau apa-apa."
Damian langsung tersenyum saat mendengar ucapan Yudha. "Jika kau orang kampung, maka aku juga jauh lebih dari kata kampung."
Yudha mengernyitkan kening bingung saat mendengar ucapan Damian. Lalu laki-laki itu menceritakan jika dulu dia tinggal di desa yang sangat pelosok, bahkan desa itu lebih pantas disebut dengan hutan karena hanya ada beberapa orang saja yang tinggal di sana.
Namun, semua bisa diketahui jika seseorang mau belajar dan berusaha. Tidak tergantung dari tempat asal, atau pendidikan yang dia punya.
Yudha mengangguk paham, kemudian dia bersedia untuk bekerja dengan Vicky. Dia yakin jika kakaknya tidak akan marah, setidaknya dia bekerja dengan orang baik dan tidak sembarangan.
Hyuna yang samar-samar mendengar suara seseorang sontak mengerjapkan kedua matanya. Dia menatap kesekeliling tempat dengan bingung, lalu beranjak duduk di ranjang itu.
"Aw."
Hyuna memekik kaget saat infus yang terpasang di tangannya tidak sengaja tersenggol, membuat ketiga laki-laki itu langsung melihat ke arahnya.
"Mbak udah sadar?"
Yudha segera mendekati Hyuna, begitu juga dengan Vicky yang tersenyum ke arah wanita itu.
"Apa yang terjadi, Yudha? Kenapa, kenapa mbak ada di sini?"
Hyuna merasa bingung. Bukankah dia sedang berada di ruang ganti? Kenapa sekarang malah berada di rumah sakit?
"Kau pingsan, Hyuna. Itu sebabnya aku membawamu ke sini."
Vicky lalu menceritakan apa yang terjadi pada Hyuna, membuat wanita itu merasa tidak percaya.
"Mbak harus banyak istirahat. Kata dokter Mbak terlalu lelah, makanya sampai tidak sadarkan diri."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.