
Setelah hati dan pikiran dapat dikendalikan, Hyuna mulai melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tentu saja Vicky tetap berada di sampingnya dan menuntunnya dengan sabar.
"Te-terima kasih, sekarang Mas bisa kembali ke sana."
Hyuna memutuskan untuk memanggil Vicky dengan sebutan Mas agar lebih sopan, tentu saja panggilannya itu membuat senyum Vicky semakin mengembang bak mentari di pagi hari.
"Apa Mas mendengarku?"
Vicky tersentak kaget dan langsung menganggukkan kepalanya. "Aku akan menunggumu di sini."
Hyuna menghela napas kasar. Bagaimana dia bisa tenang di dalam kamar mandi jika laki-laki itu menunggu tepat di depan pintu?
"Mas bisa kembali ke sofa, aku akan memanggil jika sudah siap,"
"Kenapa?"
"Hah? Apanya yang kenapa?" Hyuna merasa bingung.
"Kenapa aku harus kembali ke sana sementara aku bisa menunggumu di sini?"
Hyuna terdiam. Bagaimana dia harus menjelaskan jika dia takut Vicky mendengar suaranya buang hajat? Dan memangnya ada, wanita yang menjelaskan tentang hal seperti itu pada laki-laki?
"Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan menganggumu, jadi nikmati waktumu di dalam sana,"
"Dasar gila!"
Hyuna jadi ingin sekali memaki Vicky saat ini juga. Namun, dia mencoba untuk menenangkan diri dan segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Terserah jika laki-laki itu mendengarnya atau tidak, dia sama sekali tidak peduli.
Sementara itu, di rumah sakit lain terlihat Dokter dan perawat masih melakukan operasi. Mereka terpaksa melakukan pengangkatan rahim dikarenakan pendarahan yang cukup berat. Jika tidak diambil tindakan, maka akan terjadi infeksi dan pembusukan.
Salah satu perawat harus keluar untuk memberitahukannya pada keluarga pasien, setidaknya mereka tidak akan terkejut saat mengetahuinya nanti.
"Maaf Tuan, Nyonya. Kami terpaksa melakukan pengangkatan rahim,"
"Apa?"
Baik Aksa, Ruby, dan khususnya Mona terlonjak kaget saat mendengar ucapan perawat itu.
__ADS_1
"Kau, kau bilang apa?" Pekik Mona dengan tidak percaya, dia segera menghampiri perawat itu dan mencengkram kedua lengannya.
"Ibu, apa yang Ibu-"
"Katakan, kau bilang apa tadi?"
"Maaf, Nyonya."
Perawat itu berusaha untuk melepaskan cengkraman Mona di lengannya, begitu juga dengan Aksa dan Ruby.
"Beraninya kalian melakukan hal itu pada putriku! Apa kalian tidak tahu, jika dia belum menikah, hah?"
Mona berteriak dengan sangat kuat membuat beberapa orang yang ada di tempat itu langsung memperhatikan.
"Tenanglah, Bu. Lepaskan tangannya."
Aksa menarik paksa tangan sang Ibu lalu membawanya sedikit menjauh, sementara perawat itu langsung masuk kembali sambil menahan sakit di lengannya.
"Berhenti kau, jangan lakukan itu pada anakku!" teriak Mona kembali sambil berusaha untuk masuk ke dalam ruang operasi.
"Cukup, Bu. Hentikan semua ini," ucap Aksa saat sudah berada di luar rumah sakit.
Plak.
Mona langsung menampar putranya membuat Ruby tersentak kaget, sementara Aksa sendiri hanya diam dengan tatapan nanar.
"Seharusnya kau yang berhenti, Aksa. Dan suruh mereka menghentikan semua ini, apa kau tidak memikirkan masa depan adikmu, hah?" teriak Mona dengan air mata berjatuhan.
"Justru karena memikirkannya lah aku melakukan semua ini, Bu. Apa Ibu mau melihat Riska tiada?"
Mona menatap Aksa dengan geram dan bersiap untuk kembali menamparnya, tetapi tiba-tiba tangannya di tahan oleh Ruby membuatnya langsung menatap tajam.
"Sudah cukup, Bu. Tidakkah Ibu sadar dengan apa yang terjadi sekarang?"
Mona langsung menghempaskan tangan Ruby dengan kasar, dia lalu duduk di kursi yang ada di tempat itu dengan dada naik turun menahan emosi.
"Dokter terpaksa melakukan itu demi menyelamatkan nyawa Riska, Bu. Apa menurut Ibu itu salah?" tanya Aksa dengan sendu.
__ADS_1
"Apa gunanya dia hidup jika tidak punya masa depan."
"Astaghfirullah, Ibu!"
Aksa benar-benar tidak menyangka jika ibunya sanggup berkata hal seperti itu. Apakah rahim jauh lebih penting dari pada hidup anaknya sendiri?
Ruby sendiri tersenyum dengan sinis. "Benar. Dari dulu Ibu memang sangat egois dan hanya memikirkan diri Ibu sendiri, apa Ibu tidak merasa jika semua yang terjadi ini karena perbuatan Ibu?"
Deg.
Mona langsung menatap Ruby dengan tajam. "Apa maksudmu, Ruby? Apa kau menyalahkan kehamilan kakakmu pada Ibu?"
Ruby menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. "Tidak. Semua itu memang kesalahan kak Riska, tapi apa yang terjadi setelahnya adalah kesalahan Ibu." Bibirnya sampai bergetar saat mengucapkan kata demi kata.
"Kak Riska bersalah karena sudah membuat malu keluarga, tetapi apakah kesalahannya itu tidak bisa di maafkan atau diperbaiki? Kenapa Ibu sama sekali tidak bisa melihat kesedihan dan penderitaan dalam mata kak Riska? Mungkin dia sudah salah dalam pergaulan, tapi bukankah sebagai keluarga kita harus merangkulnya dan membawanya kembali ke jalan yang benar?"
Mona dan Aksa terdiam saat mendengar ucapan Ruby. Tiba-tiba suasana tegang berubah menjadi sendu.
"Kita merasa malu dan juga marah padanya, tapi percayalah jika Kak Riska merasakan penderitaan yang jauh lebih parah dari itu. Dia terpaksa menanggung malu, kemarahan, penolakan, dan bahkan siksaan seperti ini dari orang yang sangat dia cintai. Dia pasti sangat menderita saat tidak ada tempat untuk bersandar, lalu ke mana kita sebagai keluarganya?" Ruby menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Ibu marah dan tidak terima saat rahimnya di angkat, tapi apa Ibu tidak memperdulikan nyawanya? Dia bisa saja mati jika dibiarkan seperti itu, dan Ibu harus ingat apa yang sudah Ibu lakukan pada Mbak Hyuna."
Deg.
Wajah Mona langsung pias saat Ruby menyebut nama Hyuna, begitu juga dengan Aksa.
"Ibu selalu menyebut Mbak Hyuna mandul dan mandul, Ibu selalu menghina dan mempermalukannya di hadapan semua orang. Lalu lihat sekarang, bukankah apa yang Ibu katakan benar-benar terjadi?" Ruby menghapus air mata yang membasahi wajah.
"Semua ucapan Ibu menjadi kenyataan, tapi sayangnya bukan pada mbak Hyuna. Tapi pada anak Ibu sendiri, anak Ibu sendiri sudah mandul sekarang."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1