
Setelah memaksa kakaknya untuk bersiap-siap dan masuk ke dalam kamar, Yudha lalu kembali keluar untuk menemui laki-laki yang pasti masih berada di teras rumah sang kakak.
Yudha tersenyum sinis saat dugaannya tepat sasaran, sementara laki-laki itu langsung berbalik saat melihat kedatangannya.
"Yu-yudha, di mana kakakmu?" tanya Aksa saat melihat kedatangan Yudha, membuat laki-laki itu menatapnya dengan nanar.
Dengan santai, Yudha menarik kursi yang ada di samping Aksa lalu mendudukkan tubuhnya di sana. Tentu saja dengan tatapan yang tetap terhunus ke arah laki-laki itu.
"Kau benar-benar tidak punya kaca, ya. Apa perlu, aku membelikannya untukmu?" ucap Yudha dengan sarkas membuat Aksa langsung terkesiap.
"Dengar ya, Kakak ipar. Ah, aku lupa kalau kau sudah bercerai dari mbakku. Jadi yang benar adalah mantan kakak ipar." Yudha menekankan setiap kata-kata yang dia ucapkan, apalagi saat menyinggung status hubungan mereka saat ini.
"Jadi dengarkan aku, mantan Kakak ipar. Apa kau paham dengan arti perceraian yang sudah terjadi di antara kau dan juga mbak Hyuna? Aku rasa kau tidak paham ya, karena sampai detik ini. Kau masih saja mengganggu dan merasa masih menjadi suami mbakku."
Kata-kata yang Yudha ucapkan benar-benar terasa menusuk-nusuk dada Aksa. Rasa sakit dan kesal bercampur jadi satu, hingga wajahnya memerah menahan amarah.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, Yudha?" tanya Aksa dengan tidak kalah tajam membuat Yudha langsung tergelak.
"Jangan bertanya padaku, tapi bertanyalah pada dirimu sendiri. Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan ini, apa kau sedang menjilat ludahmu sendiri?" ucap Yudha dengan sarkas.
"Kau tidak ingat, hari di mana dunia mbakku hancur karena perbuatanmu? Apa kau mau aku ingatkan kembali, hah?"
Aksa benar-benar terkejut dengan semua ucapan yang keluar dari mulut Yudha, tidak disangka jika mantan adik iparnya itu benar-benar bermulut pedas.
"Aku mengerti dengan apa yang kau katakan, Yudha. Aku juga sudah minta maaf atas semua yang telah aku lakukan, jika ada yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku itu. Maka aku pasti akan melakukannya."
__ADS_1
Yudha langsung tergelak saat mendengar ucapan Aksa. Menebus kesalahan? Yang benar saja.
"Tidak perlu, mantan kakak ipar. Itu tidak perlu kau lakukan, karena sudah ada orang lain yang jauh lebih segala-galanya darimu. Dan satu hal yang harus kau ingat, urus sendiri keluargamu dan jangan libatkan mbakku dalam kehidupanmu. Karna kau dan mbak Hyuna sudah berakhir. Kau adalah sumber luka dan kehancuran mbak Hyuna, jika kau tetap tidak sadar. Jangan salahkan aku jika menghancurkan keluargamu yang memang sudah hancur itu."
Yudha beranjak bangun dari kursi saat mendengar suara pintu kamar Hyuna terbuka, sementara Aksa mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Dari pada sibuk mengurusi hidup mbak Hyuna, lebih baik kau urus adikmu yang gila itu. Jangan-jangan saat ini dia sudah berusaha untuk bunuh diri lagi,"
"Tutup mulutmu!" Aksa mencengkram kerah kemeja Yudha membuat laki-laki itu tersenyum sinis. "Sejak tadi aku diam bukan berarti kau bisa mengatakan apapun sesuka hatimu."
"Kenapa? Ini mulutku, terserah aku ingin mengatakan apa." Yudha langsung menepis tangan Aksa membuat cengkraman laki-laki itu terlepas. "Jika sekali lagi kau muncul di hadapan mbak Hyuna, akan aku pastikan kau tidak akan lagi mengenal yang namanya senyuman. Hidupmu pasti akan dirundung dengan kehancuran."
Aksa yang akan membalas ucapan Yudha terpaksa mengurungkan niatnya saat mendengar langkah kaki, dia lalu menoleh ke arah samping di mana Hyuna sedang mengunci pintu.
"Wah, Mbak cantik sekali. Kak Vicky pasti akan sangat menyukainya," ucap Yudha membuat wajah Hyuna memerah.
"Oh ya. Apa kau masih ingin di sini, Mas?" Hyuna menoleh ke arah Aksa yang menatapnya dengan sayu.
"Apa, apa kau mau pergi?" tanya Aksa dengan lirih, dan dijawab dengan anggukan kepala Hyuna.
"Ayo, Mbak!" ajak Yudha kemudian. Sepertinya percuma bicara panjang lebar dengan laki-laki itu, karena Aksa masih saja mencoba untuk mengganggu kakaknya.
Hyuna menganggukkan kepalanya dan bersiap untuk pergi dari tempat itu, tetapi lagi-lagi suara Aksa kembali menghentikan langkah mereka.
"Ba-bagaimana soal yang aku katakan tadi, Hyuna? Kau bisa me-"
__ADS_1
"Maaf, Mas Aksa. Aku tidak bisa merawat adikmu atau siapa lah itu, karena ke depannya mungkin aku akan sangat sibuk. Sampaikan salamku pada keluargamu, juga pada Laura. Aku harap dia bisa merawat adik iparnya," ucap Hyuna dengan cepat. Dia lalu menghampiri Yudha yang sudah duduk di atas kuda besinya.
Yudha tersenyum miring sambil melihat ke arah Aksa, dia lalu mengedipkan matanya seolah mengejek laki-laki itu. Sementara Aksa, jangan ditanya. Hatinya terasa seperti sedang diremmas-remmas dengan sangat kuat.
"Oh yah, ada hal penting yang sepertinya aku lupakan," ucap Yudha membuat Hyuna tidak jadi naik ke atas motor.
"Apa yang lupa? Biar mbak ambilkan ke dalam." Hyuna menunjuk ke arah rumah, yang mungkin saja sesuatu itu tertinggal di rumah.
Yudha menggelengkan kepalanya, dia lalu menatap Aksa yang masih setia di tempat itu.
"Bagaimana jika kau lebih perhatian pada istrimu, mantan kakak ipar. Aku lihat akhir-akhir ini dia sering keluar masuk hotel bersama dengan seorang laki-laki."
Aksa tersentak kaget saat mendengar ucapan Yudha, begitu juga dengan Hyuna yang menatap adiknya penuh tanda tanya.
"Aku tau kalau kau tidak menyukaiku, Yudha. Tapi bukan berarti-"
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Dari pada tidak ada kerjaan di rumah orang lain, lebih baik kau pastikan sendiri kebenarannya."
Yudha lalu menyuruh sang kakak untuk naik ke atas motornya karena mereka sudah harus pergi. Setelah Hyuna naik, dia lalu melaju pergi meninggalkan Aksa yang terpaku di tempatnya berada.
"Keluar masuk hotel bersama seorang lelaki?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.