Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 48. Menjenguk Tuan Besar.


__ADS_3

Hyuna sudah berusaha untuk melupakan apa yang dia lihat, tetapi tetap saja tubuh Vicky terasa seperti sudah dilem dalam kepalanya.


Untuk pertama kalinya Hyuna melihat laki-laki lain selain suami dan juga keluarganya bertelanjang dada. Apalagi Vicky tadi memakai celana pendek di atas lutut membuat tampilannya sangat luar biasa. Di tambah dengan otot-otot perutnya yang terlihat sangat kekar, membuat para wanita pasti akan sangat memujanya.


Setelah menyelesaikan semua pekejaannya, Hyuna bergegas membersihkan diri dan keluar dari restoran. Dia duduk di kursi depan di mana dulu Aksa biasa menunggunya, lalu sekarang dia yang menunggu Yudha karena adiknya itu menelepon.


"Mbak kan bisa pulang sendiri, Dek. Lagi pula jaraknya dekat," ucap Hyuna saat Yudha sudah sampai di tempat itu.


"Bahaya cewek malam-malam jalan sendirian Mbak. Udah, ayo naik!"


Hyuna hanya menghembuskan napas kasar saja saat mendengar ucapan Yudha, dia lalu bersiap untuk naik ke atas kuda besi itu.


Namun, lagi-lagi Hyuna teringat dengan Vicky dan entah kenapa ingin sekali melihat laki-laki itu.


"Ada apa Mbak? Apa ada yang ketinggalan?"


Hyuna menggelengkan kepalanya, dia lalu mengatakan pada Yudha tentang keadaan Vicky saat ini. Dia juga mengatakan ingin sekali menjenguk laki-laki itu.


"Mbak menyukainya?"


"A-apa?" Hyuna tersentak kaget saat mendengar ucapan Yudha. "A-apa yang kau katakan, Yudha? Mbak, mbak hanya khawatir biasa saja. Dan bukannya suka atau gimana-gimana."


Hyuna menjadi panik sendiri sambil mengibas-ngibaskan tangannya membuat Yudha menghela napas kasar.


"Kalau gitu ayo kita jenguk dia. Nanti kita berhenti ditoko buah, tapi enggak apa-apa kan, kalau datang dijam segini?"


Hyuna langsung melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya, dan sekarang sudah pukul 9.


"Mungkin tidak apa-apa. Ayo kita ke sana!"


Hyuna langsung naik ke atas motor Yudha dengan semangat membara, tentu saja semua itu membuat Yudha tersenyum simpul.


Pada saat yang sama, terlihat Aksa sedang berada di depan sebuah kontrakan. Dia segera mengetuk pintunya dengan sedikit kencang, sampai akhirnya ada yang membuka pintu tersebut.


"Cari sia-"


Bima tidak bisa melanjutkan ucapannya saat mengenali siapa lelaki yang saat ini ads di hadapannya. Dengan cepat Aksa mencengkram kerah kemeja laki-laki itu dan menariknya masuk ke dalam kontrakan.


Brak.


Aksa menghempaskan tubuh Bima sampai laki-laki itu memekik sakit karena pinggangnya terkena sudut meja, dia lalu kembali mencengkramnya dan bersiap memberikan pukulan.


"Se-sebentar, Kak. Aku, aku bisa menjelaskan semuanya."

__ADS_1


Tangan Aksa menggantung di udara saat mendengar ucapan laki-laki itu. Dia lalu menyeringai dan langsung melayangkan pukulannya.


Buak.


Buak.


Buak.


Tiga pukulan melesat cepat ke wajah laki-laki itu membuat bibirnya pecah, dan darah segar mengalir di wajahnya.


"Sekarang katakan padaku kenapa kau melakukan semua itu pada adikku!" ucap Aksa dengan penuh penekanan.


Bima yang sudah terkapar tidak berdaya mencoba untuk bangun, sambil memegangi mulutnya yang bersimbah darah.


Untung saja disekitar tempat itu sangat sepi, jadi Aksa bisa meluapkan emosinya. Namun, di tempat sepi seperti inilah yang membuat sepasang kekasih melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.


"Aku, aku hanya menuruti kemauannya saja, Kak. Lagi pula Riska sudah tidak peraw*an saat pertama kali berhubungan denganku."


Aksa mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Darahnya terasa mendidih dengan apa yang laki-laki itu katakan.


"Beraninya kau memutar balikkan fakta dan memfitnah adikku seperti itu!"


Aksa kembali mencengkram kerah kemeja laki-laki itu, dan mendaratkan beberapa pukulan yang membuat Bima tidak bisa lagi bergerak.


Aksa mengibaskan tangannya yang terasa kesemutan, tetapi matanya masih menatap laki-laki itu dengan tajam.


"Kau dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan pernah membiarkan semua ini begitu saja, aku pasti akan memberikan hukuman yang seberat-beratnya padamu. Jika kau tidak ingin bertanggung jawab atas kandungan Riska, maka kau juga tidak pantas menjadi suami adikku!"


Aksa lalu menghempaskan tubuh laki-laki itu dan beranjak pergi dari sana. Dia sudah memberikan pelajaran pada laki-laki itu, tetapi semuanya tidak cukup dengan apa yang terjadi pada Riska.


"Aku pasti akan menjebloskanmu ke dalam penjara, bajing*an."


Aksa lalu masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi. Dia semakin menekan pedal gasnya dan melaju pesat di jalanan.


Sementara itu, Hyuna dan juga Yudha sudah berada di halaman rumah Vicky. Sebelumnya mereka harus diperiksa dulu seperti pada saat ualng tahun.


Dengan membawa buah-buahan dan juga buket bunga, Hyuna dan Yudha mendekati rumah tersebut dan langsung mengetuk pintunya.


Pelayan yang ada di rumah itu segera membukakan pintu untuk tamu yang datang, dia lalu memersilahkan Hyuna dan juga Yudha untuk masuk ke dalam rumah.


Hyuna dan Yudha lalu duduk di atas sofa dan meletakkan buah tangan mereka ke atas meja, sementara pelayan tadi segera memanggil sang nyonya yang berada di ruang perpustakaan.


"Apa, Hyuna datang ke sini?" Pekik Vanes dengan tidak percaya dan dijawab dengan anggukan kepala pelayan itu.

__ADS_1


Vanes lalu segera berlari keluar dari ruangan itu untuk bertemu dengan Hyuna. Sangking semangatnya, suara langkah kakinya menggema di tempat itu membuat Hyuna dan Yudha langsung menoleh ke arah tangga.


"Ja-jangan lari-lari Tante."


Hyuna langsung berdiri saat melihat Vanes berlarian dia tangga, dia merasa sangat takut jika wanita paruh baya itu terjatuh.


"Selamat datang di rumah tante, Sayang. Maaf karena tidak menyambut kedatanganmu."


Hyuna menyalim tangan Vanes sambil menggelengkan kepalanya. "Seharusnya aku yang minta maaf karena bertamu di jam segini, Tante. Pasti kedatangan kami menganggu istirahat Tante."


"Tidak kok, tante masih baca-baca buku tadi."


Vanes lalu duduk di sofa yang berada tepat di depan Hyuna. Dia lalu menerima buah tangan yang wanita itu bawa.


"Kau tidak perlu repot-repot, Sayang,"


"Tidak apa-apa, Tante. Oh ya, bagaimana keadaan Tuan Vicky? Aku dengar dari wildan jika papanya sedang sa-"


Hyuna tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat sosok yang sedang dia bicarakan berdiri di ujung tangga, tentu saja membuat Yudha dan juga Vanes langsung menoleh ke arah tersebut.


Vicky yang berniat mengambil minuman tidak memperhatikan siapa yang sedang bicara dengan mamanya. Namun, ketika dekat. Dia seperti kenal dengan suara dari orang tersebut lalu melihat ke arah sang mama.


Untuk beberapa saat Hyuna dan Vicky saling tatap karena sama-sama terkejut. Hyuna lalu memalingkan wajahnya karena tiba-tiba merasa malu hingga membuat wajahnya memerah.


"Kemarilan, Vicky."


Vicky terkesiap saat mendengar panggilan sang mama, dia lalu melihat ke arah tubuhnya sendiri dan bernapas lega karena dia memakai pakaian yang baik dan benar.


Vicky lalu berjalan ke arah mereka dengan langkah lebar dan langsung duduk di samping sang mama.


"Aku tidak menyangka jika kau datang ke sini, Hyuna. Apa video call kita tadi pagi masih kurang?"


Yudha dan juga Vanes langsung membulatkan mata mereka saat mendengar ucapan Vicky, mereka lalu menatap Hyuna yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.


"Ta-tadi pagi 'kan saya video call dengan Wildan, bukannya dengan Anda."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2