Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 68. Pengakuan Setelah Penantian Panjang.


__ADS_3

Hyuna membeku di tempatnya saat mendengar ucapan Vicky, khususnya saat laki-laki itu mengungkapkan sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang.


Vicky yang baru menyadari keberadaan Hyuna langsung merutuki kebod*ohannya. Bagaimana mungkin dia mengatakan cinta di hadapan Hyuna dengan cara seperti ini?


"Saya akan membawa nona Risa pergi, Tuan," ucap Damian yang langsung paham dengan keadaan.


Vicky menghela napas kasar sambil menganggukkan kepalanya. Baiklah, semuanya sudah terjadi, mungkin inilah jalan yang Tuhan tunjukkan padanya agar bisa membuat pengakuan cinta.


Damian segera membawa Risa pergi dari tempat itu tanpa perlawanan. Wanita itu hanya diam saat ditarik olehnya, terlihat jelas jika Risa sangat syok dan terpukul saat ini.


"Ayo kita pulang, Mbak!" ajak Yudha membuat Hyuna tersentak kaget.


"I-iya." Hyuna menganggukkan kepalanya dan berjalan ke arah motor Yudha.


"Kami akan menunggu kakak di rumah," ucap Yudha pada Vicky, tentu saja dia paham jika saat ini laki-laki itu pasti sedang merenungi apa yang dikatakan tadi.


Vicky hanya mengangguk saja untuk menanggapi ucapan Yudha, kemudian Yudha beranjak pergi dari tempat itu bersama dengan sang kakak.


"Si*alan!"


Vicky meninju-ninju udara yang ada di hadapannya dengan kesal. Dia mencoba untuk tenang, tetapi tetap saja semua ini seharusnya tidak terjadi.


"Padahal aku ingin mengungkapkan cinta di tempat yang istimewa, tapi kenapa jadi begini sih?"


Vicky benar-benar sangat kesal. Dia lalu mencoba untuk menenangkan diri, dan berlalu pergi dari tempat itu. Nasi sudah menjadi bubur, jadi dia harus menikmatinya dan membuat bubur itu menjadi enak.


Sesampainya di rumah, Hyuna duduk termenung di ruang tamu. Pikirannya terus tertuju dengan apa yang Vicky ucapkan tadi, hingga akhirnya dia mengucap istighfar untuk menenangkan gejolak hati yang seakan sedang terbakar.


"Ya Allah, aku mohon ketenangan dari-Mu." Hyuna memejamkan kedua matanya sejenak, hingga kedua mata itu kembali mengerjap saat mendengar suara mobil Vicky.


Hyuna segera beranjak dari sofa dan berjalan ke arah depan, terlihat laki-laki itu baru keluar dari mobil sambil membuka jas yang membalut tubuhnya.


Deg.

__ADS_1


Deg.


Jantung Hyuna semakin berpacu cepat saat melihat kedatangan Vicky, sungguh dia belum pernah segugup dan segelisah ini sebelumnya.


"Apa aku boleh masuk?" tanya Vicky yang sudah berdiri di hadapan Hyuna, dan mengagetkan wanita itu.


"Si-silahkan."


Hyuna langsung mempersilahkan Vicky untuk masuk ke dalam rumahnya, lalu dia mengikuti langkah laki-laki itu yang sudah duduk di sofa.


"Aku, aku akan membuatkan minuman dulu,"


"Tidak perlu, Hyuna. Duduklah, ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Vicky.


Glek.


Hyuna menelan salivenya dengan kasar sambil berlalu duduk di hadapan Vicky. Tubuhnya menegang dengan dabaran jantung yang terus berdetak kencang.


"Kau mungkin sudah mendengar apa yang aku ucapkan tadi, dan sungguh aku tidak bermaksud untuk mengucapkannya dalam keadaan seperti itu. Hanya saja semua terjadi begitu cepat, dan aku juga tidak bisa mengendalikan diri," ucap Vicky sambil menatap Hyuna dalam, seakan ingin menunjukkan kesungguhan dari setiap ucapnnya.


"Apa yang kau dengar itu benar, Hyuna. Aku mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu."


Suara Vicky terdengar sangat lembut dan penuh dengan ketulusan, berharap agar Hyuna menerima pengakuannya yang sangat tidak romantas ini.


Tanpa sadar air mata Hyuna jatuh membasahi wajah, bahkan semakin mengalir deras hingga dia terisak lirih.


"Ke-kenapa kau menangis?"


Vicky terkesiap. Tentu saja dia terkejut saat melihat Hyuna menangis, sampai akhirnya dia berpindah tempat duduk ke samping wanita itu.


"Maaf, seharusnya aku tidak mengatakannya." Vicky menatap dengan sendu, dia menyesal karena perkataannya membuat Hyuna menangis.


Hyuna menggelengkan kepalanya. Dia sendiri tidak tahu kenapa menangis saat mendengar pengakuan Vicky, dan rasanya sangat menyesakkan dada.

__ADS_1


"Aku, aku tidak apa-apa Mas." Hyuna mengusap air mata yang ada di wajahnya, dan berusaha untuk tersenyum.


"Kalau tidak apa-apa, kenapa menangis?" Vicky menatap dengan curiga, dia mengepalkan kedua tangannya yang hampir saja menggenggam tangan Hyuna.


Hyuna kembali menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau, Mas. Tiba-tiba air mataku keluar begitu saja."


Vicky menghela napas kasar. Apa segitu tidak suka Hyuna padanya, sehingga langsung menangis saat dia mengungkapkan cinta? Dia bahkan belum meminta wanita itu untuk menjadi istrinya.


"Tapi terima kasih untuk pengakuan yang telah kau ucapkan padaku, sungguh jantungku berdebar-debar saat mendengarnya."


Deg.


Vicky yang sudah merasa lemas langsung menatap Hyuna dengan berapi-api. "Apa kau serius?"


Hyuna mengangguk malu, walau air mata masih saja keluar dari sudut matanya. "Aku tidak tau kenapa aku menangis, tapi aku tau jika jantung ini berdebar kencang karena pengakuanmu."


Senyum lebar langsung terbit di bibir Vikcy saat mendengar apa yang Hyuna ucapkan, bahkan jantungnya sedang jedag-jedug saat ini.


"Tapi maaf, Mas. Aku belum bisa membalas apa yang kau rasakan, aku sendiri juga tidak tau apakah rasa ini berubah menjadi cinta," ucap Hyuna membuat senyum Vicky semakin mengembang.


"Aku akan menunggu. Aku akan menunggu jawaban darimu, jadi pikirkan dan rasakanlah baik-baik. Kau tidak perlu terburu-buru, Hyuna. Karena aku akan menunggu kapan pun kau siap untuk memberi jawaban, dan aku harap jawaban itu sesuai dengan apa yang aku inginkan."


Hyuna menganggukkan kepalanya sambil menatap Vicky penuh senyuman. Kemudian Vicky beranjak pamit karena hari semakin larut malam, dan menyuruh Hyuna untuk segera istirahat.


Setelah mengantar Vicky ke mobil, Hyuna kembali masuk ke dalam rumah dan kembali duduk di ruang tamu. Degup jantungnya sama sekali tidak berkurang, bahkan dia merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang menari-nari dalam perutnya.


"Ya Allah, aku tidak tahu perasaan apa ini. Aku mohon bantu aku, dan tunjukkan jawabannya padaku."




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2