
Hyuna tersentak kaget saat mendengar teriakan Aksa, dengan cepat Vicky menarik tubuhnya sementara Aksa berlari ke belakangnya untuk melindungi dari tiang infus.
"Aargh."
"Aksa!"
"Kakak!"
Mona dan Ruby berteriak secara bersamaan saat tubuh Aksa tertimpa tiang infus, sementara Hyuna sendiri berada dalam pelukan Vicky karena berhasil ditarik menjauh dari tempat itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Vicky dengan khawatir.
Hyuna menganggukkan kepalanya dengan jantung berdebar keras, tentu saja dia terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Dokter dan beberapa perawat yang baru masuk ke dalam ruangan itu terpaksa menyuntikkan obat penenang untuk Riska, dan meminta semua orang untuk keluar dari tempat itu.
"Kau tidak apa-apa, Aksa?" tanya Mona saat sudah membawa Aksa keluar dari ruangan Riska.
Aksa menganggukkan kepala sambil memijat bahunya yang terasa sedikit nyeri. "Aku tidak apa-apa, Bu. Cuma ketimpa tiang itu aja kok."
Hyuna yang berada di samping Vicky menatap Aksa dengan sendu, kemudian dia menghampiri laki-laki itu.
"Terima kasih karena sudah menolongku, Mas. Karena aku Mas jadi tertimpa tiang itu."
Aksa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, sementara Mona menatap Hyuna dengan mata berkaca-kaca.
"Aku enggak apa-apa, kok. Jadi kau enggak perlu merasa tidak enak."
Aksa tahu jika Hyuna pasti merasa bersalah atau tidak nyaman, sementara Hyuna menganggukkan kepalanya lalu segera pamit untuk pulang ke rumah.
"Kabarin mbak kalau Riska udah sadar nanti, Ruby."
Ruby mengangguk paham lalu ingin ikut mengantar Hyuna keluar dari rumah sakit, tetapi Hyuna memintanya untuk tetap berada di sana.
"Terima kasih karena sudah menjenguk Riska, Hyuna. Terima kasih juga saya ucapkan pada Anda, Tuan."
Aksa menundukkan kepalanya di hadapan Vicky yang di balas dengan anggukkan kepala laki-laki itu, kemudian dia juga mengucapkan terima kasih pada Yudha karena sudah datang ke rumah sakit.
"Kami pamit Mas, Bu, Ruby. Assalamu'alaikum," ucap Hyuna sambil berbalik dan berjalan pergi dari tempat itu, tentu saja dengan diikuti oleh Vicky dan juga Yudha.
"Wa'alaikum salam," jawab Aksa dan yang lainnya secara bersamaan. Dia terus melihat ke arah Hyuna pergi dengan sendu, dadanya berdenyut sakit saat melihat wanita itu bersama dengan laki-laki lain.
__ADS_1
Setelah dari rumah sakit, Vicky mengajak Hyuna dan Yudha untuk singgah ke rumahnya karena Wildan terus merengek ingin bertemu dengan Hyuna.
"Tante!"
Wildan langsung berlari ke arah Hyuna yang masih berdiri di ambang pintu, sementara Vanes dan juga Risa mengikutinya dari belakang.
"Wildan, apa kau tidak melihat papamu ada di sini?"
Wildan yang sedang memeluk tubuh Hyuna langsung mendongakkan kepalanya, dan menatap sang papa dengan cemberut. Dia lalu melepaskan pelukan itu dan meletakkan kedua tangan di pinggang.
"Kenapa Papa tidur sama tante enggak ngajak aku?"
Langkah Vanes dan juga Risa langsung terhenti saat mendengar ucapan Wildan, sementara Hyuna memalingkan wajah karena merasa malu dengan apa yang bocah itu katakan.
"Kenapa papa harus mengajakmu?"
Wildan semakin memanjangkan bibirnya dengan kesal, sementara Vanes sudah senyum-senyum sendiri karena salah paham dengan apa yang cucunya ucapkan.
"Jadi, kalian sudah tidur bersama?"
Deg.
"Tentu saja, aku kan semalam tidak tidur di rumah."
Vanes langsung tersenyum lebar dan langsung mengajak Hyuna untuk masuk ke dalam rumah, sementara Risa mengepalkan kedua tangannya dengan emosi.
"Beraninya dia melakukan hal seperti itu, dasar wanita tidak tau diri." Ingin sekali Risa memaki dan mencakar wajah Hyuna, tetapi tidak mungkin dia melakukan semua itu di hadapan banyak orang.
Yudha yang berada di tempat itu terus memperhatikan Risa, terlihat jelas kemarahan dan kebencian yang terpancar diwajah wanita itu untuk kakaknya.
"Jangan membenci sesuatu yang bahkan tidak melakukan apapun."
Risa tersentak kaget saat mendengar ucapan Yudha. "A-apa maksudmu?" Dia menatap laki-laki itu dengan tajam.
"Anda pasti tahu apa maksud ucapanku, Tante."
Yudha langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan Risa yang terdiam sambil menatapnya dengan tajam.
"Dia panggil aku apa, Tante?"
Risa menghantakkan kakinya dengan kesal, kurang ajar sekali laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan tante sementara dia masih berusia 25 tahun.
__ADS_1
Vanes menggandeng lengan Hyuna dan mengajaknya untuk menikmati makan siang bersama, sementara Hyuna hanya tersenyum canggung dengan wajah tertekan.
"Nah, ayo semuanya kita makan! Tante udah siapin masakan yang enak untuk kalian. Ayo Yudha, jangan malu-malu!"
Yudha menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis, dia lalu duduk di samping Risa yang langsung meliriknya dengan sinis.
"Papa-"
"Makan dulu, Will."
Wildan langsung menutup mulutnya saat sudah mendapat ultimatum dari sang papa, sementara Vicky tersenyum tipis karena tahu jika putranya itu pasti akan kembali membahas masalah tidur bersama dengan Hyuna.
Akhirnya mereka semua menikmati makan siang dengan tenang dan damai, terutama Vanes yang sejak tadi terus tersenyum lebar.
Setelah selesai makan, Vicky segera mengajak Yudha dan Wildan untuk suduk di taman yang ada di samping rumah. Cuaca yang lumayan panas pasti sangat sejuk jika duduk di bawah pohon, sambil menikmati hembusan angin.
"Biar Bik Jum saja yang beresin, Non," ucap Bik Jum, salah satu pembantu di rumah Vicky.
"Tidak apa-apa, Bik. Cuma beresin piring aja kok."
Hyuna tersenyum sambil menepuk punggung tangan bik Jum, dia lalu membawa piring kotor itu dan meletakkannya di westafel.
Setelah selesai, Hyuna lalu berjalan ke arah di mana semua orang sedang berkumpul. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Risa.
"Ayo kita ke sana, Risa!" Ajak Hyuna sambil menunjuk ke arah Vicky dan yang lainnya.
Risa hanya diam dengan tatapan tajam, membuat Hyuna mengernyitkan kening bingung.
"Apa Mbak tidak merasa, jika terlalu menjadi wanita rendah dan murahan?"
"A-apa?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1