Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab.112. Liburan Ala Wildan


__ADS_3

Di Sydney, Wildan yang sudah merasa puas dengan liburannya pun bersiap-siap karena keesokan harinya mereka akan pulang tepat pukul 10 pagi.


Jadi, malam terakhir ini dia akan menghabiskan sisa liburannya dengan berkuliner di tempat-tempat yang sangat indah serta memiliki ciri khas tersendiri.


Pertama kali, mereka pergi ke restoran yang terdapat makanan Indonesia seperti baso. Hanya saja baso disini terbuat dari daging kambing, bukan sapi ataupum ayam.


Akan tetapi rasanya tidak menyangat sama seperti mereka makan baso pada umumnya, mungkin sedikit berbeda. Bahkan selera mereka masih jatuh pada baso buatan Indonesia yang terdapat macam-macam. Disini hanya ada beberapa, harganya pun juga berkali-kali lipat dari harga baso pada umumnya.


Wildan kembali mengajak Risa dan Damian pergi ke Restoran dessert. Sudah beberapa hari ini Wildan tidak makan makanan yang manis, mumpung tidak ada Oma dan Papahnya. Jadi mau tidak mau Wildan harus diam-diam memakannya dengan memberikan sedikit rayuan pada Risa maupun Damian.


"Paman ayolah aku mau makan dessert, mulutku rasanya pahit banget." bujuk Wildan sambil merengek di hadapan Damian yang sedang berdiri.


"Tidak, makanan yang manis itu tidak baik!" ucap Damian, tegas.


"Ishh, Paman enggak seru nih. Ya udah nanti Wildan aduin ke Oma kalau Paman sama---"


"Ckk, dasar pengadu. Dahlah ayo!"


Damian yang kepalang kesal, bahkan takut rahasianya diketahui oleh Vanes ataupun Vicky langsung saja mengabulkan apa yang Wildan inginkan.


Setidaknya kejadian adegan mereka berpelukan tidak sampai terdengar ke telinga Vanes maupun Vicky.


"Yeeyy, hahah ... Gitu dong, Paman Damian yang tampan milik Tante Risa."


Degh!


Sudah di kasih hati tetapi malah meminta jantung? Itulah Wildan, sudah di perbolehkan memakan yang manis-manis. Dia malah meledek Damian dan Risa kembali, sampai wajah keduanya langsung merona malu.


Entah mengapa Wildan merasa bahagia saja, bila dia selalu menggoda Paman dan Tantenya itu. Apa lagi saat Wildan melihat wajah mereka yang malu-malu kucing, membuat Wildan sakit perut akibat tertawa puas.


Damian berusaha tetap cool di depan Risa, agar tidak membuatnya menjadi percaya sama apa yang dikatakan Wildan.


Setelah itu mereka pergi ke Restoran kedua yang juga tak jauh dari Restoran pertama. Di situ khusus semua dessert pun ada, tetapi tetap dalam lebel halal.


Sama seperti semua makanan yang mereka makan, jadi harus pintar-pintar untuk memilih semua makanan agar tidak kecolongan.


Sesampainya di sana mereka duduk di salah satu meja bundar yang terdapat 3 kursi. Terlihat sekali jika mereka itu seperti keluarga kecil, bahkan sampai ada yang salah sangka bila Wildan tidak memanggil Pan


Man ataupun Tante.


Wildan memesan satu buah cake yang sangat menggiurkan, begitu juga Risa yang juga memesan cakek yang sama dengan ponakannya.


Sementara Damian dia tidak memesan cake, hanya sekedar minuman juice yang menyegarkan tenggorokannya.


Cake pun datang bersama minuman, dimana mata Wildan membola saat melihat penampilan cake tersebut sangat indah.

__ADS_1


Hiasan yang terdiri dari buah blueberry, strawberry lalu daun mint serta toping es krim rasa vanilla berhasil hampir membuat Wildan mengeluarkan air liurnya. Tak lupa ada gula putih halus yang di taburkan sebagai pemanis penampilan agar tidak terlalu monoton.


Belum lagi warna piring yang hitam pekat, menambah kesan membuat cake tersebut seeprti sangat menyalam. Dimana ada berbagai macam warna yang di padukan menjadi satu.


"Wahh, kelihatannya cake ini enak. Bener 'kan Tante?" tanya Wildan, matanya berbinar.


"Ya, jelas dong sangat enak. Ayo kita makan, keburu es krimnya meleleh nanti rasanya tidak akan enak lagi." jawab Risa, diangguki oleh Wildan.


Susah payah Wildan belajar untuk memotong cake itu, kemudian memakannya dengan suapan yang cukup besar.


"Hemm, nyami ... Enak banget Tante, Wildan mau nam--"


"Habiskan itu atau aku akan membuangnya?" ancam Damian yang tidak membolehkan Wildan kembali menikmati dessert yang lain.


"Ckk, menyebalkan!" keluh Wildan, kembali memakan dessertnya sesekali melirik sinis.


"Baru juga begini udah posesif, apa lagi nanti kalau punya anak? Wah, bisa-bisa anakku, akan berada di Pengawasannya. Bagaikan seorang bodyguard."


"Yeahh, kenapa aku malah kepikiran ke sono sih. Astaga Risa, apa otakmu sudah belok. Setiap kali menghayal kenapa harus membawa nama dia. Kaya tidak ada pria lain aja, orang tuh Lee Min Hoo kek apa gitu, ini malah Damian si tukang marah."


Risa mengoceh di dalam hatinya sambil menatap Damian yang ada di sebelah kirinya. Lalu tanpa di sadari tangannya mengaduk-adukkan es krim tersebut.


Damian yang menyaksikan Risa terus menatapnya, mulai menjadi curiga. Dia langsung mengatakan yang berhasil membuat Risa kelagepan dan menjadi gugup.


"Jangan pernah membicarakanku di dalam hatimu! Ingat, sekali kau menaruh perasaan. Bisa dipastikan itu akan sangat berbahaya, ngerti!" tegas Damian, menutup rasa malunya.


Damian yang melihat cara makan Wildan begitu lahap serta Risa yang sangat menikmati. Berhasil membuat dia mulai tergius, rasanya ingin sekali dia memakannya. Akan tetapi, dia harus menjaga kesehatannya dari makanan yang akan perutnya memiliki lemah.


Risa melirik ke arah Damian yang beberapa kali mengalihkan pandangannya. Disini ide jahil pin mulai terlintas, Risa benar-benar sengaja memainkan lidahnya agar semakin membuat Damian ketar-ketir dengan rasa cake tersebut.


Wildan yang mengerti Risa sedang menggoda Damian, pun menjadi ikut-ikutan. Setelah melihat wajah kesal Damian membuat mereka tertawa bersama. Kemudian tanpa di suruh, Risa berinisiatif untuk menyuapini Damian.


"Nih, aaa ...." Damian terkejut saat Risa menawarkan cakenya. Hanya saja bibirnya sudah basah dan dia pun langsung melahapnya.


"Gimana rasanya, enak?" tanya Risa tersenyum.


"Enak banget!" sahut Damian dalam keadaan mulut terisi penuh. Belum selesai makanan di mulutnya habis, Damian langsung menyerobot piring Risa dan memakannya sangat lahap.


Menyaksikan itu membuat Risa tertawa gemas, begitu juga Wildan yang terus meledek Damian.


Namun, Damian tidak menggubris perkataan Wildan. Setidaknya dia merasakan apa yang mereka rasakan tadi.


Setelah habis Damian merasa puas, jika dia sudah tidak penasaran lagi dengan rasanya. Risa yang melihat adanya sedikit noda di bibirnya, langsung saja mengelapnya menggunakan jari lentiknya.


Degh!

__ADS_1


Tatapan Damian terpaku kepada Risa yang tidak merasa jijik, dan malah membersihkannya tanpa menggunakan tisu.


Lagi-lagi adegan itu berhasil membuat Wilda terus menggodanya tanpa henti. Risa segera memalingkan wajahnya yang sudah merah, dan Damian pun segera pergi ke kamar mandi karena dia tidak bisalahi menahan wajahnya yang benar-benar malu.


Untuk yang pertama kalinya Damian mendapatkan perlakuan manis ini dati seorang wanita. Sehingga membuat jantungnya berdebar tidak menentu.


Di rasa sudah cukup lama Damian di kamar mandi. Kemudian dia kembali ke temoat, dimana dia masih gugup melihat Wildan dan Risa.


"U-udah ayo pulang, ini udah malem besok kita harus pulang!" ucap Damian yang masih berdiri.


Risa mengganggukan kepalanya, begitu juga Wildan yang matanya sudah mulai sepet. Damian langsung membayar semuanya, lalu pergi sambil menggendong Wildan.


Semua itu karena Wildan sudah terlihat mulai mengantuk, jadi Damian tidak mau sampai Risa yang mengambil alih. Sebab, tubuh Wildan sudah mulai lumayan berat.


*


*


Keesokan harinya Wildan pulang liburan lebih dulu dari kedua orang tuanya. Karena Wildan hanya pergi kurang lebih 3 haris, sementara kedua orang tuanya seminggu. Jadi, saat Wildan sampai rumah besoknya Hyuna dan Vicky pun akan pun ke rumah.


Di dalam pesawat Wildan kembali bercanda bersama Risa membuat Damian diam-diam memfoto wajah Risa yang terlihat sangat cantik ketika tersenyum.


Untungnya tidak sampai ketahuan oleh mereka, kalau sampai ketahuan maka sudah bisa dipastikan Damian akan sangat malu.


Bayangkan saja, selama ini Damian selalu bersikap tegas kepada Risa sampai membuatnya sedikit trauma akan kehadirannya. Berbeda dengan sekarang, entah mengapa semakin kesini Damian semakin merasa nyaman bisa ada di depan Risa. Dia seakan-akan tidak ingin lepas darinya.


Apa boleh buat, status mereka masih sebagai atasan dan bawahan. Jadi, kalau oun mereka dekat ya sebatas profesional pekerjaan saja tidak seperti layaknya suami-istri.


Sesampainya di rumah, Wildan menceritakan semua ke seruannya kepada Vanes. Bahkan foro-foto mereka selama di sana langsung di tunjukkan oleh Wildan menggunakan ponsel Damian.


Tanpa di sengaja beberapa foto yang Damian curi dari Risa, membuat Vanes terkejut begitu juga Wildan. Lagi-lagi Wildan langsung menggoda Damian, begitu juga Vanes.


Wajah keduanya pun semakin terlihat merona, Risa saja yang tidak tahu apa-apa benar-benar syok melihat fotonya sendiri ada di ponsel Damian.


Disinilah membuat Vanes curiga bila ternyata mereka berdua diam-diam ada main, bukan main mengenaik perselingkuhan. Melainkan cinta di dalam gengsi.


Damian yang kepalang malu, langsung berpamitan pulang tak lupa membawa ponselnya. Sementara Risa dia masih berdiri syok saat mengetahui semua itu. Semakin kesini Risa semakin melihat bila memang Damian memiliki perasaan yang sama padanya.


Namun, mereka masih terikat gengsi yang cukup besar. Jadi mau tidak mau, salah satu dari mereka harus ada yang mau mengalah. Jika tidak semua itu akan tetap menjadi seperti ini.


Risa pun pamit dengan alasan kalau dia harus mengerjakan tugas yang beberapa hari tertunda. Padahal dia berusaha untuk menghindari Vanes, agar tidak mendapatkan pertanyaan yang akan membuat Risa sendiri bingung harus menjawab apa. Apa lagi dia juga belum tahu pasti tentang perasaannya maupun perasaan Damian.



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2