Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 52. Hilang Kendali.


__ADS_3

Laura menatap Riska dengan tajam. Tentu saja dia marah saat melihat wanita itu ada dirumahnya, apalagi Riska sudah lancang masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Tanpa menjawab pertanyaan Laura, Aksa berjalan ke lemari dan mengambil jubah handuk yang ada di dalamnya.


"Pakai ini, Laura." Aksa lalu memberikannya pada Laura, tetapi wanita itu malah melemparnya ke lantai.


"Jawab saja pertanyaanku, Aksa. Kenapa wanita ini ada di rumah kita?"


Aksa menatap Laura dengan tajam. "Tentu saja dia ada di sini karena dia adalah adikku, dan mulai sekarang dia akan tinggal di sini."


"Apa?"


Laura memekik kaget saat mendengar apa yang Aksa katakan, bagaimana mungkin laki-laki itu mengambil keputusan seperti inu? Apa Aksa ingin membuatnya malu juga karena menyimpan wanita hamil tanpa suami di dalam rumahnya?


"Tidak, aku tidak setuju," tolak Laura dengan tajam. "Aku tidak akan membiarkan dia tinggal di rumah ini."


"Cukup, Laura. Aku tidak perlu izinmu untuk membawa siapapun tinggal di rumahku, apalagi Riska adalah adikku sendiri."


Aksa lalu beranjak keluar dari kamar sambil menarik tangan Riska. Persetan dengan apa yang Laura katakan, dia adalah pemilik rumah ini. Jadi tidak ada siapa pun juga yang bisa melarangnya.


Melihat Aksa pergi, tentu saja membuat emosi Laura langsung naik dengan pesat. Dia lalu menyambar jubah handuk yang ada dilantai dan bergegas mengejar langkah mereka.


Dengan cepat Laura mencekal tangan Riska yang sedang menuruni anak tanggga, membuat langkah wanita itu terhenti.


"Mau ke mana kau?" Laura mencengkram tangan Riska dengan kuat membuat wanita itu meringis kesakitan, sementara Aksa yang melihatnya tentu saja tidak tinggal diam.


"Lepaskan tangannya, Laura!"


"Tidak. Aku tidak akan melepaskannya sebelum kau membawa dia pergi dari rumah ini, apa kau mau membuat kita menanggung malu karena menyimpannya, hah?"


Aksa menatap Laura dengan nyalang. Dia lalu menarik tangan wanita itu sampai cekalannya di tangan Riska terlepas.


Riska segera menuruni tangga sebelum wanita itu kembali menahannya, sementara Laura berusaha melepaskan pegangan tangan Aksa di lengannya.


"Lepaskan aku, Aksa."


"Diam atau ku patahkan tanganmu!"


Deg.

__ADS_1


Laura terkesiap saat mendengar ucapan Aksa, sementara laki-laki itu melepaskan pegangan tangannya dan berlalu menuruni anak tangga.


Tidak, Laura tidak bisa membiarkan Riska tinggal bersama dengan mereka karena pasti akan sangat merepotkan. Tidak bisakah keluarga Aksa membiarkan mereka hidup berdua saja?


"Cepat bawa dia pergi dari rumah ini sebelum aku sendiri yang menyeretnya, Aksa!"


Aksa dan Riska yang sudah hampir mencapai pintu menghentikan langkah kaki mereka. Aksa lalu berbalik dan menatap Laura dengan tajam.


"Jika kau merasa tidak suka, lebih baik kau saja yang pergi dari rumah ini. Karena adikku akan tetap tinggal di sini," ucap Aksa dengan penuh penekanan membuat Laura langsung mendorong sebuah guci besar yang ada di samping tangga.


Pyar.


"Kau lihat itu, Riska? Bukan hanya menghacurkan hidupmu sendiri, tapi kau juga menghancurkan rumah tanggaku. Kenapa kau tidak pergi saja dengan laki-laki yang sudah menghamilimu, hah? Kenapa harus mengganggu dan membuat kami malu?"


"Laura!"


Riska menutup kedua telinganya dengan erat, sementara Aksa mengepalkan kedua tanggannya sambil berjalan menghampiri Laura.


"Kenapa, apa laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab, hah?" Laura tersenyum sinis. "Kau pantas mendapatkannya, Riska. Sekarang pergi dari sini sebelum aku-"


Plak.


"Jika sekali lagi kau menghina adikku, maka jangan salahkan aku jika akan melakukan sesuatu yang lebih parah dari ini, Laura."


Laura menatap Aksa dengan tajam, air mata tampak membasahi pipinya yang memerah akibat tamparan itu.


Riska yang melihat semuanya bergegas pergi dari tempat itu. Dia tidak mau lagi melihat adanya pertengkaran, dan mulai merasa menyesal dengan apa yang sudah terjadi.


"Kenapa, apa kau pikir aku takut, hah?" Laura berusaha untuk bangun dengan menahan sakit di pipi dan juga pantatnya.


"Tampar saja, tampar aku maka aku juga akan menampar semua keluargamu. Wanita-wanita si*alan itu terus saja mengganggu hidup kita, mereka selalu membuat masalah dan tidak membiarkanku hidup tenang. Akan lebih baik jika mereka semua mati."


Aksa yang sudah emosi tingkat tinggi benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Dia kembali melayangkan tamparan sampai beberapa kali hingga membuat Laura mengeluarkan darah.


"Astaghfirullah. Hentikan, Tuan."


Asih yang baru saja pulang dari pasar terkejut dengan apa yang Aksa lakukan, Dia segera berlari menghampiri mereka untuk menghentikan perbuatan Aksa, sampai akhirnya laki-laki itu sadar.


Laura tergeletak di lantai dengan tidak berdaya. Wajahnya memerah dan bengkak, serta darah keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"La-Laura?"


Tangan Aksa bergetar saat menyadari apa yang sudah dia lakukan. Dengan cepat dia mengangkat tubuh Laura dan membawanya ke dalam kamar.


Sementara itu, Riska yang sudah pergi dari rumah Aksa terus menyusuri jalanan. Sekarang dia tidak tahu harus pergi ke mana, dia bahkan tidak punya satu orang pun yang berada di sisinya.


Namun, tiba-tiba Riska teringat dengan Hyuna. Dia lalu cepat-cepat menelepon wanita itu untuk meminta bantuan.


Hyuna yang saat ini sedang bekerja terlihat sangat sibuk menyiapkan semua pesanan pelanggan. Dia sengaja memasukkan ponselnya ke dalam tas agar tidak mengganggu konsentrasi, karena hari ini restoran mereka sedang kedatangan para petinggi pemerintahan. Itu sebabnya semua pekerja harus benar-benar melakukan pelayanan terbaik, bahkan pemilik dari restoran itu sampai hadir di sana.


Sangking sibuknya menyiapkan semua pesanan, Hyuna sampai tidak bisa meluangkan waktu sebentar saja untuk seorang lelaki yang sejak tadi berada di tempat itu.


Siapa lagi jika bukan Vicky, tentu saja laki-laki itu sangat bersemangat sekali datang ke restoran agar bisa bertemu dengan Hyuna. Namun, siapa sangka jika wanita itu sangat sibuk? Jangankan untuk bicara dengannya, bahkan melihat wajahnya saja tidak bisa.


"Cih. Memangnya orang penting itu cuma mereka saja?"


Vicky yang sengaja datang sendirian karena tidak mau diganggu oleh Damian, segera menelepon laki-laki itu. Dia lalu memerintahkan Damian untuk membawa semua partner bisnisnya datang ke restoran, tentu saja mereka tidak kalah penting dari petinggi pemerintahan.


"Lihat saja, aku akan membuat mereka tidak berkutik di hadapanku. Berani sekali mereka membuat Hyuna sibuk? Aku bahkan tidak bisa melihat wajahnya, tapi mereka malah terus-terusan berhadapan dengannya."


Vicky merasa kesal sendiri. Dia akan mengerahkan segala kekuasannya untuk mengalahkan mereka, dan tentu saja untuk membuat Hyuna beralih menemuinya.


Setelah beberapa kali menelepon Hyuna tetapi tidak diangkat, Riska lalu memutuskan untuk pergi menemui Bima. Mungkin saja saat ini laki-laki itu sudah berubah pikiran, dan mau bertanggung jawab sehingga tidak lagi membuat keluarganya bertengkar.


Dengan menaiki taksi, Riska berangkat menuju kontrakan Bima. Sesampainya di sana, dia segera membayar biaya taksi itu dan berlalu mendekati kontrakan tersebut. Dia lalu mengetuk pintunya, dan tidak berselang lama pintu itu dibuka oleh Bima.


"Kau? Apa yang kau lakukan di sini?"


Bima menatap Riska dengan tajam, dia lalu menarik wanita itu dan langsung menghempaskannya ke lantai.


Riska memekik kesakitan saat perutnya menghantam lantai, tetapi Bima tidak memperdulikan semua itu dan langsung menduduki tubuhnya.


"Beraninya kau melaporkan aku pada polisi?" Bima mencekik leher Riska hingga membuat wanita itu terbatuk-batuk. "Kau sangat ingin menjadi istriku bukan, maka baiklah. Hari ini aku akan menunjukkan apa yang harus kau lakukan jika menjadi istriku."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2