
Sementara itu, di tempat lain terlihat Damian dan juga Risa sedang berada di dalam sebuah taksi. Damian terpaksa membawa Risa pergi karena tidak mau membuat tuannya semakin murka.
"Turunlah, kita sudah sampai," ucap Damian saat mobil yang mereka naiki sudah sampai di depan gerbang rumah Vicky.
Risa terdiam di tempatnya tanpa berniat untuk turun sedikit pun, membuat Damian menatap dengan tajam.
"Saya bilang-"
"Aku tidak mau turun," potong Risa dengan cepat.
Damian mengernyitkan kening saat mendengar ucapan wanita itu, begitu juga dengan supir yang sejak tadi menjadi pendengar budiman.
"Kalau tidak mau turun, Anda mau di mobil ini selamanya?" ucap Damian dengan tajam. Lama-lama dia jadi kesal juga melihat wanita itu.
Risa menggelengkan kepalanya sambil kembali terisak, padahal selama perjalanan tadi dia sudah tidak mengeluarkan air mata.
"Kenapa dia menangis sih? Bikin repot saja."
Ingin sekali dia meninggalkan wanita itu begitu saja, tetapi pada akhirnya nanti sang tuan juga yang akan repot jika terjadi sesuatu dengan Risa.
"Aku, aku ingin ke apartemenmu,"
"Apa?"
Damian memekik kaget saat mendengar ucapan Risa. Bagaimana mungkin wanita itu ingin ke apartemennya, sementara dia tinggal seorang diri? Bukankah wanita dan lelaki tidak boleh berduaan dalam satu rumah?
"Jalan Pak."
Tiba-tiba Risa memberi perintah pada supir untuk kembali melajukan mobil itu, tentu saja membuat Damian menggeram marah.
"Tidak. Cari saja hotel yang ada di dekat sini," ucap Damian kemudian membuat tangisan Risa langsung terhenti.
__ADS_1
Supir itu dibuat bingung dengan kedua penumpangnya saat ini. Dia tidak tahu mana yang harus dipilih, sudah begitu pun dia tidak tahu di mana letak apartemen dan hotel terdekat yang mereka maksud.
"Baiklah. Terserah kalau kau mau membawaku ke hotel, tapi jangan salahkan aku jika membuat masalah," ucap Risa sambil membuang muka ke arah luar jendela.
Damian benar-benar dibuat kesal setengah mati dengan Risa saat ini. Tanpa pikir panjang, dia langsung menyebutkan alamat dari apartemennya dan menyuruh supir untuk pergi ke sana.
Risa tersenyum tipis saat mendengar ucapan Damian, dia lalu menyandarkan tubuhnya dan memejamkan kedua mata yang rasanya sangat perih sekali.
Bukan hanya mata saja yang terasa perih, bahkan hatinya jauh lebih terluka parah dari pada itu. Rasa sakit, malu, kecewa, dan semua rasa yang lain memenuhi hatinya saat ini.
Niat hati ingin memberi pelajaran pada Hyuna, malah berakhir tragis dengan rasa sakit dan malu yang teramat dalam. Masih teringat jelas kejadian beberapa waktu lalu antara dia dan wanita itu, juga ungkapan kekecewaan Vicky yang terasa menyayat-nyayat hatinya.
Apakah semua ini benar-benar kesalahannya? Tetapi kenapa, kenapa dia yang di salahkan untuk semuanya? Bukankah dialah yang menjadi korban dalam keadaan ini?
Bertahun-tahun dia menyimpan cinta dan harapan, tetapi semuanya langsung dipatahkan begitu saja oleh sosok wanita yang baru saja memasuki kehidupan laki-laki yang dia cintai.
Bukankah semua itu tidak adil? Kenapa Tuhan tidak membiarkan Vicky membalas cintanya, kenapa laki-laki itu malah mencintai wanita yang baru dikenal?
"Tidak. Semua ini tidak adil," gumam Risa sambil kembali mengusap air matanya.
"Dia pasti akan sangat merepotkan. Apa tidak ada satu pun keluarga atau teman yang wanita ini miliki?"
Damian berdecak kesal. Pekerjaannya saja sudah sangat banyak, dan sekarang dia masih harus di repotkan dengan mengurus wanita yang gila cinta.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai dikawasan apartemen mewah milik Damian. Damian segera menyerahkan sejumlah uang kepada supir itu, untuk membayar biaya taksi mereka.
"Kembaliannya, Tuan."
"Ambil saja," ucap Damian membuat supir itu langsung tersenyum cerah dan mengucapkan banyak terima kasih padanya.
Kemudian Damian menoleh ke arah Risa yang ternyata sedang tidur. "Nona, kita sudah sampai." Dia mengguncang tubuh wanita itu, tetapi Risa tidak bangun juga.
__ADS_1
Lagi-lagi Damian berdecak kesal, dia lalu segera mengangkat wanita itu dan membawanya keluar dari mobil.
Dua orang petugas keamanan yang menjaga apartemen itu menyambut kedatangan Damian, mereka lalu membukakan pintu lift untuknya.
Damian terus membawa Risa dalam gendongannya, sampai akhirnya mereka sampai di depan pintu apartemen yang dia tempati.
Damian lalu menekan password dengan menyanggah tubuh Risa menggunakan kaki, dan hebatnya wanita itu sama sekali tidak terbangun.
Akhirnya penderitaan Damian berakhir juga. Dia merebahkan tubuh Risa ke atas ranjang, lalu menarik selimut untuk menutupinya.
"Lihat. Aku bahkan harus menggendongnya."
Damian mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak mau semakin kesal, dia memilih untuk segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya dengan air.
Tidak butuh waktu lama untuk Damian membersihkan diri. Terlihat dia sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah segar, bahkan rambutnya masih tampak basah hingga air tetesannya membasahi bahunya yang terbuka.
Tanpa memperhatikan Risa, Damian berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian. Saat ini dia hanya menggunakan handuk saja yang melingkar di pinggingnya, membuat tubuhnya terpampang nyata di mata siapa saja yang melihat.
Risa yang terbangun saat mendengar suara gemercik air, membulatkan matanya saat melihat ke sekeliling tempat. Ternyata dia sudah sampai di apartemen Damian, bahkan dia sudah berbaring di ranjang laki-laki itu.
Ketika berbalik, dia dikejutkan dengan kemunculan Damian yang hanya menggunakan handuk saja. Tentu dia benar-benar merasa sangat syok, tetapi laki-laki itu dengan santai berjalan di hadapannya dan mengambil pakaian dari dalam lemari.
Glek.
Risa menelan salivenya dengan kasar saat melihat tubuh indah nan seksi milik Damian. Tidak disangka tubuh yang selama ini terbungkus rapi di dalam kemeja dan jas, ternyata sangat atletis sekali. Bahkan dia ingin sekali memegang otot-otot yang terlihat menggoda itu.
"Kau jangan gila, Risa. Kau bisa dibunuh oleh laki-laki itu jika tau kalau kau melihat tubuhnya."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.