Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 116. Kebahagiaan Semua Orang.


__ADS_3

Risa masih mematung di tampatnya saat melihat apa yang Damian lakukan. Kaget, bahagia, terharu, semua rasa bercampur di dalam hati membuat suara tidak kunjung keluar dari mulutnya yang tertutup oleh tangan.


Damian yang sedang bersimpuh di depan Risa lama-lama merasa pegal juga. Kakinya sudah kesemutan menahan berat tubuhnya sedari tadi, tetapi tidak juga terdengar jawaban yang keluar dari mulut wanita itu. Mungkinkah Risa tidak ingin menerima pernyataannya ini?


"Kenapa dia diam terus? Apa dia tidak tahu kalau kakiku sudah mati rasa sekarang?" Damian menggurutu dalam hati, tetapi baiklah. Dia akan menahan semua itu walau kakinya harus patah sekalipun, demi momen yang sangat penting ini. Dia sudah memutus semua urat malunya, bahkan sampai menyiapkan semua acara ini demi melamar sang pujaan hati. Dia bahkan sampai menjadi badut karena saran dari Yudha, awas saja kalau sampai dia ditolak, maka dia akan memberi laki-laki itu pelajaran.


"Yes, I will, Damian,"


"Oh, ba- tu-tunggu. Kau, kau bilang apa?" tanya Damian dengan tidak percaya. Sangking lamanya menunggu, dia sampai tidak sadar dengan apa yang Risa ucapkan.


Risa tersenyum manis dan langsung menarik tubuh Damian agar berdiri sejajar di hadapannya, membuat laki-laki itu menurut sampai tidak merasakan jika kakinya sedang kesemutan.


"Aku mencintaimu, Damian. Ayo, kita menikah dan hidup bahagia!" Lirih Risa. Tangannya mendekap tubuh Damian dengan erat, dan tubuhnya sedikit bergetar karena menahan tangis yang entah kenapa langsung meluncur bebas diwajahnya.


Kali ini Damian yang terpaku tidak percaya. Balasan perasaan dari Risa saja sudah sangat bahagia untuknya, dan kini wanita itu menerima pinangannya bahkan mengajaknya untuk hidup bersama dengan bahagia. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?


"Aku juga sangat mencintaimu, Risa. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa berjanji bahwa aku tidak akan menyakitimu walau tanpa sengaja, tapi aku berjanji bahwa aku ajan memberikan semua yang terbaik untukmu, dan akan selalu membahagiakanmu sebagai satu-satunya wanita yang aku cintai dalam hidupku," ucap Damian dengan tegas, mantap, dan penuh dengan kepercayaan diri membuat Risa menganggukkan kepala dengan perasaan bahagia luar biasa.


Suara tepuk tangan yang sangat meriah tiba-tiba menggema di tempat itu membuat Damian dan Risa langsung terkesiap. Dengan cepat mereka melepaskan pelukan itu, dan langsung menoleh ke arah samping kanan untuk melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


"Ka-kalian?" Pekik Damian dan Risa secara bersamaan.


Vicky, Hyuna, Yudha, dan juga Vanes serta antek-antek mereka yang lain tampak sudah berkumpul di tempat itu. Tidak, sebenarnya sejak awal mereka memang sudah ada di sana setelah mendengar berita dari Yudha jika malam ini Damian akan memberi kejutan untuk Risa dan melamar wanita itu secara langsung.


Tentu saja semua orang menjadi sangat antusias, terlebih-lebih Vanes yang sudah menganggap Damian dan Risa sebagai anak-anaknya sendiri.


"Selamat untuk kalian berdua!" ucap Vanes dengan suara nyaring yang penuh semangat. Dia menghamburkan tubuhnya dan memeluk Risa dengan erat, sebagai dukungan dan turut serta merasakan kebahagiaan seperti apa yang sedang wanita itu rasakan saat ini.


"Terima kasih, Tante. Terima kasih." Lirih Risa dengan isak tangis yanb sejak tadi sudah membanjiri wajahnya.


Hyuna yang melihat semua itu tentu saja ikut mendekat, dan memeluk Risa dengan erat seraya menumpahkan kebahagiaan untuk wanita itu.


"Terima kasih, Tuan. Semua ini atas kebaikan Anda," balas Damian sambil menganggukkan kepalanya. Rasa syukur teramat dalam dia ucapkan dalam hati, karena keberuntungan terbesar dalam hidupnya adalah bertemu dengan orang baik seperti Vicky. Jika tidak, maka hidupnya mungkin tidak akan penuh dengan kebahagiaan seperti ini.


"Yang menerima cintamu itu Risa, kenapa malah berterima kasih padaku?" tanya Vicky dengan bingung, dan terheran-heran.


Semua orang langsung tergelak saat mendengar ucapan Vicky. Dasar laki-laki itu, dalam keadaan seperti ini bisa-bisanya masih membuat kelucuan.


Setelah momen penting bagi Damian dan Risa selesai, mereka semua lanjut menikmati makan malam yang tertunda. Cacing-cacing diperut mereka sebenarnya sudah keroncongan, tetapi tidak terasa karena sangking semangatnya dalam acara lamaran yang sangat luar biasa malam ini.

__ADS_1


Tepat pukul 11 malam, mereka semua bubar barisan ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan, Hyuna tertidur sambil bersandar di bahu Vicky. Laki-laki itu tersenyum saat melihat istrinya tertidur, wajah lelah sang istri membuat hati Vicky menjadi sedikit bersalah.


"Apa aku terlalu cepat memberikan restoran itu untuknya? Sangking semangatnya, dia jadi selalu kelelahan," gumam Vicky. Dia mengusap wajah Hyuna dengan lembut, lalu mendaratkan kecupan singkat di kening wanita itu.


Vanes yang duduk di kursi depan bersama dengan Yudha yang sedang mengendarai mobil tampak tersenyum bahagia, melihat perhatian yang Vicky berikan untuk sang istri. Rasanya beban berat sebagai orang tua tunggal yang ada dipundaknya lenyap sudah, berganti dengan kebahagiaan melihat putra semata wayangnya hidup dengan bahagia bersama dengan pendamping yang baik dan juga shaleha.


"Suamiku, kau pasti orang pertama yang akan menangis bahagia saat melihat apa yang terjadi pada Vicky sekarang. Sampai dinapas terakhirmu, kau sangat mengkhawatirkan bagaimana kehidupannya kelak jika tanpamu. Yah, dia memang merasakan penderitaan yang cukup besar, hingga aku saja sudah merasa putus asa dan merasa gagal sebagai orang tua. Tapi, rasa sakit itu sekatang terbayarkan. Aku hanya bisa berdo'a agar kebahagiaan Vicky tetap abadi sampai maut memisahkan, dan aku juga berdo'a agar kau tenang di syurga-Nya suamiku."





Tbc.


Mampir juga ke karya teman aku ya 😍


__ADS_1


__ADS_2