SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
1. Suatu Mimpi Tentang Saat Masih Bersekolah


__ADS_3

"Kamu boleh percaya boleh tidak kalau orangtuaku bahkan sanggup membelikanku 10 buah mobil mewah seperti yang kamu punya itu.


Jadi stop menyombongkan diri di depanku karena aku nggak minat sama semua omong kosongmu ini."


"Wuuuu...."


Sorak-sorai terdengar riuh menanggapi ucapan Leona tadi.


"Aku ngga ngerasa sedang menyombongkan diri," kilah Lionel dengan tenang, nampak tak sedikitpun terpancingkan provokasi yang sedang dilancarkan teman-teman sekelasnya serta Leona juga disekitar mereka berdua berdiri berhadapan saat ini, "Mobil itu memang mobil milikku sendiri, dari uang yang kudapat hasil jerih payahku sendiri, kupakai ke sekolah memang sebagai akomodasiku sehari-hari. Dan aku tidak pernah sekalipun memamerkannya kedepan matamu.


Jadi dimana unsur menyombongkan diri seperti yang barusan kau sebut itu?


Hati-hati kalau berbicara. Jangan mengeluarkan kata-kata yang pada akhirnya tak bisa kau pertanggung-jawabkan atau malah nantinya kata-kata itu akan berbalik menjadi bumerang untukmu."


"Wuaahh... gaya bicaranya ini. Ck...ck...ck..."


"Ada masalah apa dengan gaya bicaraku ini?"


"Gaya bicara orang song*ng. Orang bel*gu! Tau, tidak?!"

__ADS_1


"Hey"


"Apa. Nggak terima? Mestinya aku yang nggak terima! Kamu bilang apa kemarin itu ke Imran yang kamu anter pulang sekolah dengan mobilmu itu? Ha?  'Halahh, mobil orangtua Leona sih nggak ada apa-apanya dibanding mobilku ini. Lagian mobil yang dipake nganter dia ke sekolah itu 'kan mobil orangtuanya. Beda sama yang ku punya ini, ini mobil milikku sendiri.' ... Ngaku gak kamu pernah ngomong begitu ke Imran? Hayo, ngaku saja"


Bengong.


Lionel mengangkat sedikit alisnya.


Teman-teman sekelas ikut terdiam demi mendengar apa yang baru saja dicetuskan dengan lebih berapi-api lagi oleh Leona dibanding ucapan gadis itu sebelumnya.


Anita sahabat Leona menggamit sikut gadis itu, bersuara setengah membisik, "Na, memangnya Imran ada ngomong kayak gitu. Kapan? Trus, kamu taunya dari mana?"


"Na... Imran 'kan... sudah 2 hari ini ngga masuk sekolah."


Ganti Leona yang terbengong, "Ha?"


"Imran lagi sakit tipus, Naa...", Anita menjelaskan, "Sudah 2 hari dia tidak masuk sekolah. Jadi 'kemarin-itu' yang kamu maksud tadi, apa maksudnya? Kamu ketemu dan bicara dengan Imran hari ini? Dimana? Ditelpon? Dirumahnya?"


"Ngg... Ditelpon!"

__ADS_1


"Di telpon? Ngga mungkin. Kamu sama Imran? Kamu dan Imran ngapain juga telpon-telponan? Ngga kalian banget."


"Yaa Imran koq yang nelpon aku duluan! Imran menghubungi aku tadi...tadi pagi sebelum aku berangkat sekolah, ngasih tau ke aku tentang omongan si manusia belagu ini."


"Leona!", Lionel menghardik dengan tatapan mata mengecam, "Kamu benar-benar ngga punya saringan ya kalau bicara?'


"Yang ngga punya saringan itu aku atau kamu?!"


-----&&&&&-----


Ooo.. myyy... God!


Leona terjaga dari tidurnya karena termimpi yang barusan itu.


Ia bermimpi tentang Lionel berikut adegan mereka seolah seperti semasih bersekolah dulu, hampir 15 tahun lalu yang mana tema mimpi itu...


Hihihihii...


Didunia nyata mereka berdua sama-sama berasal dari keluarga menengah kebawah kalau tidak berlebihan disebut miskin. Tapi di mimpinya barusan, mereka berdua menjelma menjadi anak-anak orang kaya dengan mobil-mobil mewah yang mereka ributkan. Mobil mewah milik mereka sendiri masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2