SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
46. Apa Kau Mau Menikah Denganku Suatu Saat Nanti?


__ADS_3

Kerut di dahi Leona tidak dibuat-buat. Ia sepenuhnya penasaran, "Lebih dari wanita? Maksudnya?"


Alih alih menjawab, Lionel balik mengajukan pertanyaan yang terdengar mengambang bagai pria itu sedang melamun saja,


"Suatu saat nanti apa kau mau menikah denganku...?"


Hwhaaaats !?


"Lionel --" Leona tergagap...Lionel mengurangi kadar cengiran, menikmati sesaat ekspresi merona di paras sang kekasih, membiarkan sang kekasih meresapi apa yang barusan dikatakannya dengan Leona mati-matian menunjukkan bahasa tubuh tak mau bereaksi berlebihan, mengucapkan kalimatnya pura-pura disantaikan meski nyata tergagap-gagap, " -- kamu...kamu itu...kamu lagi bahas tema tentang...tentang itu lho."


"Sudah bukan masanya lagi untuk seusia kita berpacaran apalagi dengan berlama-lama." Tanpa ampun tanpa bermaksud bikin Leona makin kelimpungan dan mungkin dalam dada wanita itu mulai berdebar berpacu berkejaran, mengapa tidak, Lionel bahas tentang hubungan yang lebih jauuuuuuh lagi dari hubungan baru terjalin ini di antara mereka berdua...pria itu meneruskan kalimat secara serius, "Karena aku sendiri tak begitu suka hal yang bertele-tele. Kalau saat ini kau mau menjadi pacarku, apa kalau sebentar lagi aku mengajakmu menikah kau akan mau?"


Deg!


"Ya ampun Lionel..."


"Jawablah"

__ADS_1


"Ya aku kan mesti punya waktu untuk berfikir dulu."


"Berapa lama?"


Mamaaa...


"Be-berapa...lama?"


"Aku masih normal. Meskipun kondisiku sekarang berkursi roda, aku tidak lantas kehilangan libido, gairah atau nafsu ****-ku. Aku sudah pernah...mencobanya, walau tidak sampai meniduri wanita temanku itu."


Paras Leona seketika itu juga memerah. Mulai dirambahi debar-debar memburu dan suatu pemikiran nyalang asing sepintas meliputi imajinasinya begitu Lionel gamblang mengucapkan kalimat demi kalimat terakhir termasuk 3 huruf dari 1 kata sakral itu.


Lionel sangat blak-blakan dengan kata-katanya sejak tadi sekaligus sangat serius dan bersungguh-sungguh. Pria itu tidak sekadar bicara melantur sebab yang diajukannya adalah sebuah lamaran untuk Leona. Kata-kata pemaparannya, oh ya ampun, Leona total merinding sejadi-jadinya...


Transparansi penyampaiannya sangat bisa terbaca oleh Leona bahwa LionelĀ  ingin secepat mungkin bisa menikah dengan dirinya.


Dan membahas tema yanggg...ituu...apa yang bisa Leona katakan untuk menanggapi yang satu itu?

__ADS_1


Permintaan Lionel, pertanyaan dan pernyataan Lionel, meski Leona sesungguhnya sudah sempat terfikirkan tentang itu di beberapa kali kesempatan melamun mengkhayalkan Lionel, tak urung wanita itu tak bisa menyembunyikan reaksi syok usai Lionel to the point mengajukan kata lamarannya.


"Lionel --"


"Leona --"


Tak sengaja saat Leona berpaling melihat pada wajah Lionel sambil mengucap nama pria itu, bersamaan pria itu juga memanggil nama Leona sambil berpaling dari pandangan yang sempat diterawangkan ke depan...jadilah keduanya saling bertolehan lalu bersitatap. Mata bertemu mata. Mata berbicara.


Pancaran mata Lionel tersirat teduh melembut, mengimbangi tatapan polos Leona yang masih bersiratkan rasa syok.


Nampak cukup tenang saat Lionel bertahan memandangi wajah dan terutama kedua mata sang kekasih dalam pria itu meneruskan lagi bicaranya, tanpa mengabaikan kalau Leona terlihat olehnya perlahan memperlihatkan reaksi lain yakni mulai salah tingkah.


"Sosial media sudah cukup membantuku untuk memahamimu.


Aku memantau akun-akunmu, dari situ aku bisa yakin kalau aku cukup menyukaimu. Sekarang sudah berganti menjadi sangat. Aku sekarang...sangat menyukaimu.


Ditambah kita pernah menjadi teman sekolah, teman sekelas selama 2 tahun terakhir di sana, aku sedikitpun tak ragu terhadapmu, Leona.

__ADS_1


__ADS_2