
Tutur kata, gaya berbicara serta jenis suara yang terdengar dari pria itu sama sekali tak berubah dari yang pernah diingat Leona di 15 tahun silam. Berbicara dalam volume kalem dan tenang, lambat-lambat dan sabar dalam menanti lawan bicaranya menyelesaikan kalimat.
Meski hanya berbicara sebentar saja, Lionel sudah memberitau bahwa ia memang sedang berada di Indonesia untuk suatu keperluan mendesak yang masih pria itu rahasiakan apa sebenarnya.
Selama ini tepatnya sejak lulus SMA, pria itu langsung kuliah dan menetap di Amerika Serikat.
Karena seorang pengusaha bule sukses dan kaya disana telah menjadikannya sebagai seorang anak angkat dan mengharuskannya menetap di Amerika untuk kemudian pada waktunya nanti Lionel ditugaskan melanjutkan mengurusi usaha wiraswasta si pengusaha berkebangsaan Amerika namun berdarah 1/4 Indonesia itu.
Nasib Lionel yang sangat beruntung, bathin Leona. Padahal dulu ia hanyalah anak sekolah biasa-biasa saja yang berasal dari sebuah keluarga tak mampu...
"Maaf Leona, aku belum bisa dulu bicara banyak denganmu sekarang. Aku juga sedang dalam kesibukanku di tempatku ini. Tolong jangan hubungi aku di nomor ini karena nomor ini nomor HP temanku yang saat ini rumahnya sedang ku jadikan tempat menginap. Dan tolong dirahasiakan saja kalau kita sudah bicara. Aku belum ada waktu luang meladeni teman-teman kita yang lain."
" Ooh, begitu. Oke. Oke deh paham. Beres lah itu, Lion, kamu jangan khawatir."
Dan Leona sungguh jadi tak berani untuk mencoba menghubungi lagi pria itu atau sekadar meng-sms nya. Ia sangat menghormati apa yang sedang diinginkan oleh pria itu.
Tapi selebihnya, Leona bisa merasakan puas. Bersyukur dan teramat nasibnya ini sedang beruntung karena kepenasaranannya selama ini dengan tiba-tiba saja terjawabkan sudah.
__ADS_1
Lionel, dengan begitu hangat mengakrab telah memunculkan diri kembali walau masih setengah-setengah, kedalam hidupnya dan meladeni bicaranya seolah seperti mereka tak pernah terpisahkan selama 15 tahun ini.
Sekarang, tinggal menunggu pria itu menghubunginya lagi lebih dulu, setidaknya seperti itu yang terkesan tertangkap Leona dari cara pria itu berpesan tadi.
----------#####----------
"Wah, koq sama denganmu yaa dia itu, Na? Dia dan kamu kompakan sama-sama belum pernah menikah sampai disaat ini."
"Iya. Tau tidak Nit, aku sampai merasa malu sendiri jadinya waktu ngejawab pertanyaan dia : 'aku belum menikah, leona. belum pernah satu kalipun. bagaimana denganmu?'
"Kau jawab dengan jujur."
"Lalu reaksi Lionel?"
"Cuma bilang : 'ooo...begitu.' Begitu. Lalu dia sendiri yang langsung mengalihkan pembicaraan kami ke bahasan lain.
Oh ya Anita, ingat pesanku tadi yaa, rahasiakan dulu tentang ini pada siapapun teman se-SMA kita."
__ADS_1
"Iya, siap, Na. Dia sudah jadi warga negara Amerika Serikat, aku jadi merasa segan padanya dengan sendirinya, ngga berani macem-macem apalagi aku dan dia belum saling bicara lagi seperti kau ke dia itu."
"Bagus deh."
"Tapi jangan lupa untuk kabar-kabari ke aku ya kalau kalian ada petkembangan interaksi lagi. Aku masih kepingin tau kelanjutan tentang ketemuannya kau dengan dia ini."
"Iya-iya. Kau tunggu saja."
"Okee.."
----------#####----------
'aku tidak akan lama berada di indonesia ini. ini alamat rumah temanku itu. kalau kau ingin datang leona, datanglah dalam 3 hari ini. tapi tetap, rahasiakan dulu tentang ini'
Wuahh...
Lionel ini benar-benar memberi kejutan tanpa tanggung-tanggung.
__ADS_1
Tau-tau saja pria itu memberikan alamatnya sekaligus mengundang Leona untuk datang kesana.