SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
15. The Risk Accepted


__ADS_3

Itulah yang sebenarnya Lionel inginkan.


Bukan melancarkan suatu pedekate yang asal dan grabag-grubug tak jelas. Tapi suatu pendekatan yang berkelas dan bertata-krama, berkesan manis dan menarik, PDKT-PDKT sesuai dengan cara dan kebiasaan Lionel selama ini dalam mendekati serta memperlakukan seorang wanita. Walau kadang setelah itu pedekate nya...bablas 'lepas kontrol'.


Tapi ternyata situasi menuntun pria itu kearah itu dengan lebih cepat dan ia spontan saja menurutkan situasi yang berkembang dan mengalir tersebut.


Maka tercetuslah kata-kata keramat itu,


'mau gak kamu jadi pacarku?'


Sesudah mencetuskan kalimat tadi, Lionel sempat juga merasa berdebar-debar. Beruntungnya ia suara Nath yang memanggil untuk datang ke meja makan dan terdengar pula oleh Leona, menyelamatkan debaran kencang dalam dada pria itu hingga tak perlu lah pria itu mengalami cedera dan kerusakan pada sang jantung.


Pun Leona yang tak berniat menyahuti kata-kata terakhirnya sebelum menyudahi percakapan mereka, hal itu tak kalah menolong bagi debarannya.


Lalu,


Hari demi hari Lionel biarkan berlalu dengan tanpa mengontak Leona satu kali pun.


Ia pun yakin, Leona juga pasti sedang membiarkan waktu berlalu begitu-begitu saja dengan tanpa wanita itu mencoba menghubungi via WA.


Seyakin anggapan perasaan Lionel yang menebak Leona sedang diam disana tapi diam-diam wanita itu mengharap Lionel memulai lagi lebih dulu komunikasi mereka berdua...

__ADS_1


Oke, tunggu sebentar lagi please.


Lionel masih belum siap mental menagih jawaban dari Leona.


Belum siap terlempar méntal kalau pada akhirnya Leona cuma memberi jawaban berupa penolakan, atau sebaliknya bila wanita itu menerima dan menyambutnya.


Yeahh,


Sama tak siap untuk kedua kemungkinan itu.


Belum, belum siap saja untuk di saat ini.


Beri waktu dulu sejenak dua jenak dengan mengulur-ulur waktu. Hehehe...


Dengan resiko hal ini bisa keburu basi lalu mengendap, blap. Menguap.


The risk accepted.


----------#####----------


"Lion, kapan kau akan memulai terapimu di Indonesia?"

__ADS_1


"Segera, bu. Aku masih harus menyelesaikan sisa pekerjaanku disini sebelum yang berikutnya kualih-tugaskan sementara pada asistenku.. dan pada papa Brian juga selama aku cuti kerja dan tinggal beberapa  waktu di Indonesia."


"Begitu. Ya sudah, kabari ibu ya kalau kau sudah siap untuk pulang ke sini."


"Ya, bu. Pasti."


"Ya. Sudah. Ibu tutup dulu telponnya. Jaga dirimu baik-baik."


"Iya. Ibu juga."


"He-eh, nak."


Ibu Lionel sudah 5 tahun ini hidup menjanda setelah suaminya, ayah Lionel, meninggal akibat sakit paru-paru.


2 kakak perempuan pria itu telah menikah dan pisah rumah dari sang ibu, menyisakan 2 adik laki-laki Lionel saja yang kini tinggal bersama sang ibu dirumah.


Sedangkan kedua orangtua angkat Lionel hanya memiliki 2 orang anak perempuan, yang menjadi faktor pendorong 15 tahun lalu beliau berdua - biasa dipanggil akrab oleh Lionel sebagai papa Brian dan mommy Linda - sepakat mengambil Lionel secara resmi menurut hukum menjadi anak angkat mereka.


Semata-mata karena papa Brian dan mom Linda menginginkan seorang anak laki-laki ditengah keluarga sekaligus dipersiapkan untuk menjadi salah satu penerus serta pewaris kerajaan bisnis keluarga mengingat kakak perempuan tertua Lionel menolak membantu mengelola bisnis itu, lebih memilih fokus mewujudkan impian dan cita-citanya menjadi seorang Pendeta.


Sementara kakak perempuan nomor 2 sudah sejak lahir mengidap Autis sehingga sungguh sulit mengharapkan Nathaline untuk bisa lebur kedalam bisnis-bisnis yang mereka miliki.

__ADS_1


__ADS_2