SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
65. Sang Cleaning Service Afisah


__ADS_3

"Jadi, Fi. Jam makan siang aku langsung punch-card pulang."


Afisah pun manggut manggut tanda mengerti seraya menuang sampah dari dalam tempat sampah mini dekat meja kerja Leona kedalam kantung sampah besar hitam kosong yang ia bawa dari luar.


Gadis 23 tahun itu berniat bertanya lagi tanpa menghentikan gerakan tangannya yang kemudian menyapukan kemoceng kepermukaan meja kerja Leona.


Ketika dilihatnya Leona masih bersantai mengembalikan perhatian pada majalah sambil berpindah dari tempat berdiri semula ke kursi sofa, menyandarkan pinggul ke tepian kursi sofa itu, tetap meneruskan membacai majalah terbuka terbentang ditelapak tangan kiri dengan sesekali membalik selembar halamannya.


Dimata Afisah sebagai seorang mantan gadis dusun polos, Leona adalah figur wanita pimpinan yang sangat baik pada dirinya selama ini. Ramah dan berperhatian terhadapnya yang hanyalah sekadar seorang pekerja rendahan Cleaning Service di toko buku G ini.


"Mbak...memangnya benar yah kalau mbak Na itu sekarang lagi pacaran sama orang bule?"


Ha?


Otomatis mengangkat wajah dan menoleh kearah Afisah dengan ekspresi melongo karena cukup kaget mendengar apa yang menjadi pertanyaan CS kesayangan Leona itu, wanita itupun bertukas dengan balik bertanya,


"Orang bule? Maksudnya? Kata siapa? Siapa yang cerita? Koq bisa sampai ada gosip begitu yang kau dengar, Fi?"


Sesaat Afisah diam mempertimbangkan sambil meragu lalu,

__ADS_1


"Mbak yang sering sama mbak Na itu yang bilang awalnya. Mbak itu bilang sering nguping mbak Leona ngomong pake bahasa Inggris kalo lagi telponan. Katanya yang mbak Na telpon itu orang Amerika dan ganteng. Poto profilnya sering keintip mbak itu kalo hape mbak Na lagi bunyi didekat dia."


Oke. Telah paham sekarang.


"Ooo...begitu tho rupanya. Si mbak Nanda kan ya? Iya, dia memang jadi sering ngelihat aku telponan atau WA an sama temanku itu."


"Teman?" ulang Afisah mengernyit samar.


"Ya teman." angguk Leona membalas pandangan Afisah. "Kenapa memang, Fi?"


"Bukan pacarnya mbak Na?" tanya Afi lagi.


"Ngg...gimana yaa...teman tapi yang temenaaan banget. Begitu."


"Oke, iya deh aku bilang saja ke kamu. Iya dia itu pacarku. Bukan bule tapi kebetulan tinggalnya memang di Amerika. Dia orang Indonesia asli koq. Tapi sst, kamu jangan cerita-cerita lagi ke yang lain yaa. Rahasiakan ini baik-baik."


"Begitu. Iya sip mba, aku tutup mulut deh. Cklek."


"Sip."

__ADS_1


Balik ke bacaan.


Rupanya Afisah masih juga penasaran.


Dalam kepolosan khas dusunnya gadis itu menatapi Leona lamat-lamat masih dari samping meja dengan kemoceng diam ditangan.


Sedetik dua detik lima detik, akhirnya menyadari akan hal ini, Leona kembali mengalihkan perhatian pada Afisah dan wanita itu pun tertawa singkat,


"Kamu kenapaa...malah ngelihatin aku dengan bengong begitu?"


Meneguk air ludah, Afisah langsung menjawab dengan balik bertanya seblak-blakan tadi tanpa segan, "mbak Na mau tinggal di Amerika ya kalau sudah jadian sama pacar mbak itu? Kawin sama dia?"


"Haaa?"


"Sehabis pacaran biasanya kan orang lanjut ke nikah. Apa mbak Na juga akan begitu?"


"Lhoo...kamu koq bisa kepikiran gitu nyamain yang itu ke aku?"


"Karena mbak Na gak pernah pacaran. Aku liat, aku ramal kalo sekarang mbak tau-tau lagi dekat sama cowoq, habis ini mbak pasti bakal langsung jadian sama dia, nikah sama dia. Aku bisa ngerasakeun begitu."

__ADS_1


"Hastaganagaaa..." Tak tau harus berkomen apa menanggapi pernyataan menggelikan Afisah barusan, Leona menyenyumi Afi lebar,


"Ngga tau deh akunya mesti ngejawab apa ke kamu Fi, tapi trims deh yaa buat ramalanmu juga kata-katamu yang terdengar indah imut kyut itu. Hmh?"


__ADS_2