SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
43. Terapi Sesi Pertama Lionel


__ADS_3

Senyum terulas manis bernuansa menghibur dari bibir Leona sebagai tanggapan bagi senyum Lionel, adalah ungkapan penyampaian akan apa yang sekarang sedang bersemayam di dalam hati wanita itu tapi ia masih terlalu dikuasai rasa malu untuk menyuarakannya :


I love you.


So much, Lionel.


Untuk sesaat dalam jarak 2 meteran, baik Leona maupun Lionel saling bertautan pandang tanpa bersuara.


Sepertinya imbas dari sistem menge-rem diri, mereka malah jadi lebih keseringan hanya saling berpandang-pandangan dalam diam.


Dalam diamnya Lionel, pria itu tertawan lagi hatinya melihat Leona hadir dalam seragam kerja dan make-up yang khas di wajah. Mengerang dalam hati betapa ia sudah begitu ingin mencium pipi ber-make-up blush on Leona akan tetapi, tidak-masih belum bisa.


Dalam diamnya Leona, wanita hampir 34 tahun di satu bulan mendatang itu bisa melihat dan membayangkan betapa proses pengobatan yang telah dijalani Lionel bukan sekadar proses pengobatan sembarangan atau biasa-biasa saja.


Sebaliknya, proses pengobatan yang baru saja di selesaikan Lionel pada tahap pertama yakni di hari ini, pastilah lumayan menguras energi pria itu. Tersirat dari tampilan diri Lionel sekarang yang jadi kuyu, memucat dan hanya tersenyum tapi diam seribu bahasa begitu Leona berjalan mendekat menghampiri kehadapannya..

__ADS_1


"Lionel," Begitu dekat seperti ini, aroma rempah-rempah dari ramuan tradisional khas tempat terapi ini memenuhi penciuman Leona. Bau aromanya enak tetapi tetap saja mengandung unsur aroma obat-obatan, herbal, dan sangat tradisional. Bau atau wangi atau mungkin harum aroma ini menguar dari seluruh bagian tubuh Lionel yang saat itu berkemeja batik coklat tua bermotif ramai dipadu celana bahan berwarna hitam.


Penampilan yang berbeda lagi.


Selain muncul dan tampil agak memucat, wajahnya pun masih berlapis basah lembabnya keringat.


Semua itu ditatapi prihatin oleh Leona beberapa saat lamanya. Cukup menyadari Lionel menyenyuminya karena memang ia begitu terang-terangan meneliti sekujur tubuh sang pacar dari puncak kepala ke ujung kaki.


Kakinya tumben bersandal sendal laki-laki dan jari jemari kakinya...aw, seksi euy. Panjang-panjang ramping merapat, bersih dan putih mulus.


Setelah dirasa cukup 'berenergi' untuk mulai bicara, Lionel pun berkata setengah bergurau pada Leona,


"Di sesi kali ke dua nanti, aku akan memvideokannya untuk bisa kau lihat, Leona, apa-apa saja yang mereka perlakukan terhadapku di dalam sana."


"Ishh," sang pacar pura-pura mencibir, "tak usah. Aku sudah bisa menebak diapakan dan dibagaimanakan saja kamu di dalam sana itu."

__ADS_1


Lionel tertawa kecil, "Yeahh...lumayanlah. Sangat meng-Indonesia."


Leona ikut tertawa kecil.


"Jelas. Di Amerika mungkin kamu hanya diterapi sinar ultra violet atau dengan alat-alat canggih lainnya. Tapi disini, kamu sepertinya sudah siap diolah di dapur."


"Hahaha... Tepat sekali. Seperti itulah aku di dalam sana tadi itu. Daun-daunannya familiar dengan isi dapur ibuku. Aku masih bisa mengingat kefamiliarannya."


"Hush, hati-hati terdengar mereka, Lionel."


"Oops, sorry Leona."


Lionel dan Leona saling lempar cengiran. 


Sambil terus bersenda gurau keduanya dan pak Randu berjalan dan berkursi roda menuju tempat parkir.

__ADS_1


Diam-diam pak Randu tersenyum, mengamati bagaimana makin akrabnya Lionel dan Leona...


__ADS_2