SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
89. Kita Ini Harus Bagaimana?


__ADS_3

Tapi kini, begitu sudah bisa berdiri tegak dan kokoh diatas kedua kakinya itu sendiri, nuansa percumbuan Lionel akhirnya terasakan jadi berbeda begitu pria itu mulai mencumbui Leona dalam posisi mereka berdua berdiri berhadapan rapat melekat seperti saat ini.


Ya seperti saat ini...tubuh sepanjang 170 ini, yang hanya sedikit saja lebih tinggi diatas puncak kepala Leona, sedang jahil bermaksud menggoda terus menerus perasaan wanita itu sambil terus menciumi dan merabai, mencoba membuat wanita itu jadi tak bisa berkutik terhimpit panjang tubuh atas tegap dan liat Lionel dengan sisi lemari dan tembok dibelakangnya yang mengkungkung keleluasaan wanita itu.


Terus dipancing agar keterangsangan wanita itu semakin mengalir ke permukaan. Ya keterangsangan di fisik maupun sound effect yang berupa gumaman, lenguhan, des*han, rintihan hingga ke jeritan kecil tertahan itu.


Seorang Chleonavita yang sangat ekspresif, wanita itu tak pernah segan dalam meluapkan perasaan terang-terangan kedalam rupa-rupa sound effect tadi.


Tak urung wanita itu jadi kewalahan juga. 'Kebingungan' bagaimana harus meladeni dan mengimbanginya kalau posisinya dalam keadaan berdiri begini.


Disetiap kali ia bereaksi menerima siksa tangan menggerayang Lionel, akhirnya ia hanya bisa meluruh kedalam pegangan tangannya yang menopang pada bahu atau pundak Lionel.


Lebih lama lagi pria ini memperlakukannya sedemikian, kedua kakinya akan benar-benar melumer tak kuat lagi menahan tubuh beserta gejolak reaksinya.


"Sayang, Chleonavita...aku bukan seorang yang maniak se*s. Aku bukan termasuk lelaki penggila se*s. Dan aku tidak pernah memandangmu sebagai sekadar objek ke-se"sualitasan semata.


Tapi jujur, ini harus kuakui, kecantikan wajahmu dan kecerdasanmu entah bagaimana selalu membuatku jadi tak bisa menjauhkan pikiranku dari se*s.


Sulit untuk mengontrol pikiranku untuk tidak bermain-main seperti ini denganmu.


Ditambah kau, hehe..selalu memancingku untuk kita melakukan itu. Bercinta...


Jadi sebenarnya kita ini harus bagaimana, sayang?"

__ADS_1


-----&&&&&-----


"Ya ampuuunn...apa lagi sekaraaang? Kemarin-kemarin nonstop belajar bahasa inggris, belajar renang, lalu menyelam, sekarang mau belajar menyupiri heliii???


Habis itu mau belajar apa lagi, Naaa?


Dan itu juga si Afisah, aduh beruntung banget dia bisa ikut terus sama kalian jalan-jalan keliling dunia.


Hadeeehh... lha giliranku kapan dong Lioneeell..Leonaaa...aku juga kan kepingin bisa ngelilingi duniaaa..


Paris, London, New York... Rio... Tokyooo...jadi kayak lirik lagu saja deh...Knapa kalian langsung ngeborong gitu siiiihh...bikin aku jadi ngiri saja. Hihihi..."


Voice note dari Anita yang segera menderaikan tawa Lionel dan Leona.


Afisah sendiri hanya bisa menyeringai dengan hati tak luput senang demi mendengar apa yang disuarakan mbak Anita tentang dirinya, dengan kehebohan yang khas dari sahabat majikan barunya Leona itu.


"Habis ini pelajarannya lebih berat, Nit. Hafalan. Menghafal nama-nama kolega Lion di perusahaannya sini. Bikin pusiiiing. Serasa jadi istri walikota New York saja harus bisa mengenal nama banyak orang."


"Hahaha... Yo wis kau nikmatin saja, bu. Salah sendiri, siapa suruh mau jadi nyonya Lionel Agustian? Hehehe...kidding.


Pokoknya Na, nikmati kebahagiaanmu dengan dia ini. Kalian baik-baiklah jadi pasangan suami-istri. Kalau ada apa-apa yang ada hubungannya dengan urusan pernikahan per-rumahtanggaan, cari aku. Konsultasi padaku. Kontak person, dibawah ini. Hehehe..."


"Siiiip, bu pakar, jangan khawatir. Next time, kapan-kapan, akan kubawa kau gantian keliling dunia. Oke, besti?"

__ADS_1


"Asyiiiiikk...Thank you, Leona. I'll wait for that for always lhoo. Hihii..."


Sesi berbalasan voice-note pada HP Leona pun selesai sudah.


"Afi, kapan tepatnya orang tuamu berangkat ke tanah suci?" Leona kemudian beralih berbicara pada Afisah di samping kiri duduknya.


"Oh, awal bulan depan, mbak Leona! --" Afisah bersemangat menyahut namun buru-buru menangkup telapak tangan kemulut begitu menyadari janji yang dijanjikannya sendiri. Maka gadis itu pun nyengir, "Salaahh. Ibu. Bu Lionel. Hehe."


"Haiss, sudah ngga usah digonta ganti." Sergah Leona. "Pakai mbak saja sudah ngga apa-apa. Biar kamu ngga perlu jadi ribet keserimpet."


Afisah makin melebarkan cengiran, "Hehehe...iyaa, memang berasa ribet, mbak. Ngga biasa manggil mbak Leona dengan sebutan Ibu. Mbak saja deh kalau memang mbak-nya membolehkan. Mbak Leona. Hehee...Oh ya, pak Lionel..."


"Ya, Fi?"


"Makasih sekali lagi paaak, pak Lion sudah berbaik hati sudi memperkerjakan saya jadi asisten mbak Leona di New York sini. Saya berjanji akan bekerja sebaik-baiknya pada kalian berdua supaya kalian berdua ngga kecewa sudah mau menerima dan menolong saya..."


"Ooh, it's okay, Afi. Tidak perlu terlalu kamu fikirkan. Yang penting kamu sendiri baik-baik urus orangtua dan perenovasian rumah orangtuamu itu. Pakai gajimu disini baik-baik untuk pembiayaannya. Terus pantau perkembangannya lewat Skype itu."


"Siap, pak Lionel. Hehe...Terima kasih banyaaak."


----------#####---------


Apartemen kepunyaan Lionel terletak 2,2 km dari pusat kota New York. Full AC, 1 guest room atau ruang utama, 2 buah kamar tidur, 1 dapur dan 1 kamar mandi berikut shower.

__ADS_1


Sebuah apartemen terbilang sederhana dan 'merakyat' walau pada dasarnya Lionel itu lebih dari sanggup memiliki salah satu bagian dari apartemen elite Penthouses building berfasilitas lengkap dan canggih seperti bar pribadi didalam dan sistem kontrol remote atau remote controling dalam penggunaan fitur-fitur dalam tiap ruang apartemen.


__ADS_2