
"Dan kenapa kau ngga tinggal dirumah ibumu saja?" Tanya Leona lagi beralih pandang dari meja sofa ke arah wajah Lionel pada samping kanan duduk wanita itu.
Jadi kesimpulan akhir, rokok ini mungkin punya pak Randu.
Yang sedang ditanya sejenak berdehem sebelum menyahut, "Aku tidak merasa nyaman disana."
"Begitu."
Manggut-manggut seraya kembali melihat ulang ke beberapa bagian dalam kamar, Leona membayangkan apa yang membuat Lionel memilih tempat menginap di tempat sesederhana ini. Uangnya banyak hingga tak terhingga, di Jakarta ada Apartemen milik keluarga angkat pula, juga ada banyak kamar hotel bersuite-room yang bahkan sanggup ia sewa berminggu-minggu biarpun harga sewanya mencapai belasan juta per malam...namun Lionel lebih suka menghuni di kamar kost sederhana ini, "Ibumu tidak melarangmu tinggal di sini selama kau di Indonesia ini?"
"Tidak sama sekali."
"Syukurlah. Beliau pernah kesini?"
"Pernah, sewaktu kuberitaukan dari New York alamat rumah kost-an ini, ibu langsung datang men-survey kesini."
"Ooo."
Perkenalkan aku pada beliau, Lionel. Please? Aku sudah ingin datang bersamamu bertemu beliau.
__ADS_1
"Sengaja kupilih kamar ini yang menghadap persis ke halaman depan itu karena aku memberitaukan pada ibu kost disini bahwa teman-temanku akan banyak yang berencana ingin datang menengokku kesini. Privasi kamar yang satu ini sangat bagus untuk menerima tamu karena di ruangan sebelah adalah ruang tamu utama khusus untuk tamu-tamu penghuni kost-kostan."
"Begitu. Ini terpilih berarti saat kau datang, kamar yang ini kebetulan sedang kosong?"
"Betul sekali. Kebetulan sedang kosong. Sepertinya penghuni kost lain lebih suka tinggal di kamar-kamar lantai atas dan kebetulan lainnya lagi, kamar-kamar di sini kebanyakan memang sedang kosong."
"Ya sepertinya begitu. Sekilas tadi kulihat di lantai bawah sini banyak kamar yang nampak gelap, sangat jelas tak berpenghuni."
Atmosfer suasana dalam kamar kost seketika berubah aura manakala Leona menangkap gelagat dari cara Lionel yang pada satu titik tertentu kemudian memusatkan pandang berlama-lama pada dirinya setelah sebelumnya pria itu mengikuti kemana saja arah pandang yang diedarkan Leona. Seolah tak menganggap berarti keberadaan Leona, hanya menghiraukan ke arah-arah benda mana saja kekasihnya ini menujukan perhatian.
Kini pria itu menunjukkan gelagat kearah itu, keseriusan menekuri Leona dalam-dalam...
Aduduh mak, nada suara itu...
"Hmh?"
"Kau sangat cantik sekarang."
Tuh kaaann...
__ADS_1
Memang sih cara pengucapan Lionel terkesan di lafalkan sekadar sambil lalu. Tidak di melodramatiskan seperti nada suara seorang pria yang sedang bersiap melancarkan serangan rayuan pada sang wanitanya. Namun tetaplah kalimat pria itu barusan memunculkan efek meremangkan bulu kuduk Leona. Terlebih, pria itu sedang memuji dirinya cantik. Leona mengupayakan keras untuk tidak segera terpengaruh oleh perubahan atmosfer yang kian berlangsung ini. Menimpali omongan Lionel bernada biasa-biasa saja. Untuk apapun yang akan segera diungkapkan pria itu. Yang penting terus saja meladeni bicara Lionel ketimbang ia memilih banyak diam lantas Lionel bisa saja ikutan berdiam diri.
"Ishh...kau mulai deh merayu gombal."
"Aku serius. Kau sangat cantik sekarang dibanding 15 tahun lalu."
"So what."
"Tak perduli dalam keadaan ber make-up tebal atau polos tanpa itu, kau selalu terlihat cantik dimataku."
"Okeee...terima kasih kalau begitu buat pujianmu ini."
"Aku dulu hanya memandangmu sebagai teman dan ketua kelas."
"Dan sekarang? Bagaimana dengan sekarang?"
Nyengir?
Dasar Lionel, tadi setengah serius sekarang malah nyengir.
__ADS_1
"Sekarang, aku memandangmu lebih dari wanita." senyum Lionel. Malaikat, itu yang dimaksud Lionel. Sekarang Leona sudah menjadi bak malaikat bagi hidupnya.