
-----&&&&&-----
Sidang di skors.
"Datang lagi besok-besok kesini. Jelaskan lebih perinci. Sekarang kalian berdua boleh pulang. Dan trima kasih sudah mengantar putriku pulang. Siapa tadi namamu?"
"Lionel Agustian, Om."
"Hmm...iya iya, aku kayak familiar sama nama tempat kerjaanmu di New York itu. Ya sudah, pulanglah. Hati-hati dijalan. Ini sudah gelap mau hujan. Pak Randu berhati-hati saja mengemudinya."
"Siap, pak Al. Trima kasih."
"Trima kasih, Om. Permisi dan selamat malam."
"Ya ya ya. Malam."
"Permisi, pak Al. Selamat malam."
"Ya. Hati-hati nyetirnya."
"Siap, pak."
Duhh...
Leona hanya dapat memandangi sendu ke arah kursi roda Lionel yang mulai berlalu di dorong perlahan oleh pak Randu meninggalkan halaman berkeramik rumahnya usai sidang selesai dengan di skors.
Segan mengucap kata selamat tinggal pada Leona di depan sang bapak, Lionel hanya mengulas senyum pamit pada wanita itu.
Alfian tak menunggu waktu lama untuk segera mengkonfrontir sang putri,
"Kamu mau nyari apa pacaran sama laki-laki berkursi roda macam begitu tadi itu?"
__ADS_1
"Haduh Bapaaakk...tunggu duluu.. Orangnya masih belum jauuuuhh!"
-----&&&&&-----
Pada tengah malamnya...
Airmata Leona tumpah juga tak terbendungkan, membasahi bantal dimana ia menaruh pipi kiri disitu. Dihadapannya Lionel malah menertawainya dalam layar HP, entah tertawa menghibur diri sendiri atau tawa haru prihatin pada Leona
Masih tersedu sedan, Leona menyusut ingusnya dengan ujung kain bantal.
"Aku benar-benar ngga apa-apa, Leona. Sungguh. Sudahlah jangan nangis lagi. Ayahmu belum tau saja siapa aku makanya meremehkanku begitu seperti tadi. Begitu beliau akhirnya mengetahuinya, maka indahlah nanti dunia."
Alhasil Leona tertawa miris meringis di antara airmatanya.
"Ya pokoknya maafin bapakku, Lion."
"It's okay, baby. It's fine to me. Rileks. Ayahmu seperti katamu tadi toh tidak benar-benar marah yang sebenarnya. Begitu, bukan?"
"Iya itu benar. Aku suer, Lion, aku ngga dimarahi. Tanya saja langsung sama orangnya kalau kau tak percaya."
"Bapak seneng koq begitu tau kau itu dulu teman sekelasku. Bapak sendiri yang nyeletuk bilang jangan-jangan dulu mungkin malah pernah ketemu kamu disekolah kita."
Tertawa lagi, Lionel menyapukan tangan ke layar miliknya di sana. Isyarat membujuk Leona untuk tidak menangis lagi.
Sekali lagi Leona menyusut isak kali ini menggunakan punggung jemari kanannya.
"Ini kali pertama kita ber video-call. Tapi maaf Leona, ini tidak bisa kubuat jadi kebiasaan. Hm?"
"He eh. Aku sudah bisa ngerti. Ngga apa apa. Kita toh masih bisa ketemu muka langsung kalau lagi kangenan."
"Yes, correct. Miss you, sayang. Always."
__ADS_1
"Miss you, too."
"And i love you so much. Andai aku bisa menyimpanmu dalam dompetku disini."
"Hihihi...aku ogah berantem berebut tempat dengan uang-uangmu didalam situ."
"Hahaha..."
.............hening
"Ehmm...Lionel,"
"Ya, sayang?"
"Kenapa kau menyukaiku?"
"Menyukaimu? Simpel. Karena kau Leona, ketua kelasku dulu. Aku sudah sejak awal kita bersekolah disana diam-diam naksir padamu."
"Haaah...?"
"Dan bagaimana denganmu sendiri? Kenapa kau menyukaiku?"
"Ngg...karena aku suka padamu yang dulu begitu kaleem, baiik, ngga genit, rajin masuk sekolah, rajin jam istirahat berada di dalam kelas saja...pernah melihati aku aneh sewaktu aku baikan dengan Anita di depan kelas kita."
"Ohh, itu. Iya, aku masih ingat itu."
"Apa yang ada dalam pikiranmu saat melihatku baikan dimuka kelas dengan Anita, Lionel?'
"Mmm...aku malu mengatakan ini."
"Bilang saja. Please? Aku pingin dengar."
__ADS_1
"Okeh...waktu aku melihat kalian berdua di situ ituu, aku jatuh cinta padamu saat itu juga. Bagiku kau cinta pertamaku."
"Haaaa?! Ngga mungkiiiiinn..."