
" Niiit! Ih, apaan sih. Nggaaa...bukan dia...sungguh, bukan dia. Bukan dia yang -"
Antara lega telah paham Anita tertawa barusan hanya sekadar iseng menjahili perasaannya, antara itu dengan perasaan didalam hati Leona yang mendadak jadi bergetar manakala menyadari bukan dirinya saja yang punya nomor HP amrik Lionel melainkan Viona juga, Anita juga, dan mungkin beberapa teman mereka yang lain, Leona tertahan ragu untuk mencoba terus bertahan dalam sanggahan.
Sekeras apa dia berusaha menyanggah di depan Anita sekarang, selalu ada peluang bagi sahabatnya ini untuk mencoba menghubungi Lionel diam-diam dibelakang Leona, mengorek informasi dari pria itu lalu...sanggahannya sekarang bisa saja menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Mungkin bisa membuat Lionel bereaksi dengan mundur teratur sebelum mereka berdua benar-benar memulai hubungan berpacaran itu. Oleh karena dirinya membantah, atau sebaliknya oleh karena Lionel kesal rahasia mereka berdua akhirnya terbongkar juga kepermukaan...
Duh, mama.
__ADS_1
Anita kenapa juga sih harus to the point gini menyimpulkan kalau Lionel itu yang jadi penyebab diri dan perasaan Leona saat ini begitu kacau balau bin kusut masai?
"Nit, pleeease.. aku mohonnn.. jangan kau coba-coba hubungi Lionel. Aku beneraaann...bukan dia yang lagi aku pikirin sampe mumet gini. Please jangan ganggu dia. Hmh? Jangan bahas ke dia apapun yang ada hubungannya sama aku kalo kau mau ngontek nomornya. Bener, ngga enak lah kalo dia akhirnya jadi sebal sama kita kalo lagi-lagi tentang aku yang dibawa-bawa ke dia."
Masuk akal juga, pikir Anita.
Mengingat memang sebelumnya Lionel sudah banyak menerima info dari sana-sini mantan teman-teman SMA nya yang memberitau pria itu bahwa Leona sedang mencari-cari dan mengumpulkan info tentang menghilangnya kabar diri pria itu.
__ADS_1
Namun rupanya Leona belum bisa menarik nafas lega walaupun Anita sempat terlihat mengendurkan keantusiasan, manakala sekonyong-konyong keantusiasan itu kembali diperlihatkan wanita itu dengan berucap cepat secara tiba-tiba,
"Tau gak, Leona," Anita menarik maju punggungmya, "Caramu yang seperti ini justru bisa bikin orang lain malah jadi makin penasaran padamu. Bikin aku tambah penasaran padamu berdasarkan sikap yang sedang kau perlihatkan ini!"
"Nitaaa..." Leona mendesah bagai berputus asa, "ayolah Nit, kau kan orang yang paling berpengertian dan yang paling bisa memahami aku. Aku benar-benar cuma ngerasa gak enak saja sekarang sama Lionel kalauu..kalau lagi-lagi dia...dengan aku...dihubung-hubungin lagi."
Menyeringai geli, Anita jahil menggoda perasaan Leona dengan mengerdip sebelah mata, " Tapi kan kau belum tau aku mau ngomong apa ke dia - "
__ADS_1
"Apapun itu, sudahlah, jangan saja.." hiba Leona bersungguh-sungguh.
"Hmmm..." Anita menipiskan bibir, mundur bersandar lagi, tapi tetap mempelajari Leona lebih serius lagi dengan memicing, "Aku tuh sebenarnya yakin banget-banget lho Na ngeduga kalo kamu sama Lionel itu ngga end. Belum, belum udahan. Maksudku komunikasi kalian berdua."