
Sang kekasih yang masih dalam kemeja flanel biru muda dan putih lengan panjang pengganti gaun ulangtahunnya di hotel tadi, tak sedikitpun menunjukkan kesan lelah sehabis satu harian kemarin full aktivitas tanpa merasakan waktu istirahat berarti. Tetap saja Lionel merasa perlu melakukan suatu penundaan.
Kemarin tengah malam Lionel meng-smsnya lalu ia pergi tidur tak lebih dari 10 menit kemudian tanpa Lionel mengetahui pasti apakah wanita itu bisa benar-benar nyenyak atau tidak...bangun pagi-pagi sekali untuk berangkat kerja lalu terus saja sesudahnya melakukan hal-hal lain berikutnya hingga akhirnya saat ini, sudah berada di dalam villa ini.
Lionel memutuskan akan memberi wanita itu waktu panjang untuk beristirahat dulu dimulai pada menit ini juga. Tengah malam tepat pukul 00.10.
Sudah memasuki hari yang baru 4 November...
"Ini kamu Lionel. Rupanya ada juga fotomu disini. Tapi tidak banyak juga sih."
Terdengar wanita itu bersuara pelan bagai menggumam. Lionel cukup bisa mendengarnya.
Segera menanggapi dengan,
"Kau tunggu saja beberapa waktu lagi, tak kan lama lagi..."
Kepala Leona hanya menoleh sekilas diantara keseriusannya memandangi sebuah foto berisi gambar Lionel berfoto diantara karyawan kantornya. Bule semua, sekitar 20 orang.
Ohh, imutnya.
__ADS_1
Dia pria muda Asia sendirian diantara bule-bule Amrik ini.
Meski nyata tak setinggi para rekan yang hampir semua bertinggi lewat dari 170, Lionel tetap tampil pede dan berkharisma dalam balutan seragam kerja perusahaan, kemungkinan semasih pria itu belum naik pangkat ke posisi tertinggi 4 tahun yang lalu.
Sesudah menjabat posisi tertinggi sudah barang tentu penampilan kerja sehari-harinya berganti menjadi stelan kemeja berbalut jas. Berdasi pula. Keren.
Beberapa foto sang kekasih dalam stelan jas sudah pernah dilihat Leona dalam akun medsosnya.
Bangganyaaa...priaku seorang Lionel Agustian. Imut, keren, seksi...petinggi. Pejabat penting sebuah perusahaan elit diluar negeri.
Seperti bukan nyata.
Seperti dalam mimpi.
"Kau tunggu saja? Maksudnya?" Tanya Leona sambil mengakhiri sesi memandangi foto yang terdapat Lionel didalamnya. Beralih pada pigura foto lain.
Bias senyum yang masih menghias di bibir berbentuk tipis Lionel menyiratkan arti tertentu.
Pria itu terasakan oleh Leona diam saja tak nenyahut lantas wanita itu menoleh pada sang kekasih yang balas melihat padanya, berpancaran mata tertentu mendalam, mengirimkan sesuatu tanda lewat cara memandangnya yang seperti itu.
__ADS_1
Sedetik dua detik tiga detik mencerna arti pandangan itu, maka mengertilah ia.
"Aaa-h." Kepalanya pun terangguk-angguk sambil balas tersenyum dengan senyuman dikulum penuh arti.
Foto dirinya sendiri kan yaa yang tak kan lama lagi itu? "Hehe..."
Kepala Lionel terangguk-angguk.
Membenarkan apa itu yang sudah tertangkap dalam pemikiran sang kekasih dan bisa terbaca oleh pikiran Lionel.
"Kemarilah sayang, ikut aku. Sudah waktunya kau istirahat. Seharian kemarin kesibukan aktivitasmu luar biasa padat. Lebih baik malam ini kita berdua langsung berisitirahat total dulu saja."
Lionel sendiri juga lelah.
Duduk nonstop dikursi itu tak kalah melelahkannya.
Pria itu berucap sambil menggulir kursi roda balik arah, mendorongnya menuju suatu tempat.
Dia itu pantang didorong oleh Leona. Tak pernah mengijinkan sang kekasih merepotkan diri mendorong-dorong kursi roda yang sedang didudukinya.
__ADS_1
Entah kenapa.
Wanita itu sebenarnya keberatan dilarang tapi terlalu segan membantah, segan pula menanyakan kenapa Lionel tak membolehkan.