SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
78. Kesucian Kemurnian


__ADS_3

Jauh dari yang namanya ja'im dan kaku, Lionel memperlakukan Leona seperti sudah selamanya saja mereka dekat dan bersama tanpa pernah adanya perpisahan.


Sehingga wanita itu yang pada dasarnya sudah sejak dulu memiliki sifat periang dan terbuka, semakin menyadarinya kini, mungkin memang telah tumbuh kemistri kuat diantara perasaan mereka berdua.


Suatu ikatan bathin, yang dalam beberapa saat kedepan di hari ini juga akan terbuktikan, dan menjadi awal Lionel akhirnya menemukan kembali 'kenormalan' dirinya setelah selama setahun terakhir hidup normalnya sempat pergi menghilang darinya.


-----&&&&&-----


Kesenangan primitif ini justru membuat Lionel kehilangan kantuk.


Hampir satu jam telah berlalu sejak mereka berdua meletakkan tubuh-tubuh penat mereka kealas kasur empuk sesudah memuaskan diri berciuman panjang dan lama semasih Lionel duduk dikursi roda dan Leona ditepian ranjang menghadap duduknya, saling mencondongkan sedikit tubuh masing-masing agar ciuman itu bisa lebih dalam lagi...lalu sepakat tanpa suara untuk segera berpindah keatas ranjang...dalam satu jam terakhir tadi keduanya berhasil juga melampiaskan sejenak hasrat dan kerinduan.


Melucuti pakaian masing-masing hingga berpolosan tanpa sehelai benangpun disela aksi berciuman dan memulai pengeksploran tubuh telanjang satu dengan yang lain, mungkin itu semua penyebab rasa penat dan kantuk Lionel sekarang melenyap.

__ADS_1


Sudah tak terasakan lagi. Berganti ke freshannya menghadapi payudara telanjang padat dan ranum sang kekasih dihadapan matanya.


Pusat wanita kekasihnya itu mungil menonjol merah muda. Sangat menggiurkan. Masih murni dan perawan sesuai yang pernah dinyatakan kekasihnya itu saat menjelaskan masa pacaran pertama kalinya dulu nihil bentuk percumbuan apapun. Jadi keseluruhan yang ada pada diri seorang Leona pada saat ini adalah murni dan polos tersembahkan bagi Lionel.


"Leona,"


"Hm?"


"Trima kasih."


Lionel menyenyuminya simpul, berdecak singkat, "ada lah."


Wajah sang kekasih pura-pura diberengutkan, "ya sudah. Kembali kasih, kalau begitu."

__ADS_1


"Sudah enakan? Tadi kau sudah begitu inginnya agar aku bermain disini. Sudah merasa puas sekarang?"


Menautkan pandang pada mata mengerdip jahil Lionel, Leona menyunggingkan senyum menyengirnya, masih disela kantuk dan usapan perlahan telapak tangan Lionel dibagian buah dada dengan sesekali sedikit mundur kebelakang ketiak, mengusap pada sepanjang sisi punggung itu.


"Sudah tidak sebegitu kebelet tadi," seloroh wanita itu, "Tapi aku tidak keberatan kalau kau mau terus membeginikan aku sampai aku pulas nanti. Hehee..."


"Oke." Sahut Lionel mesra tanpa pikir panjang, sangat mendukung kesukaan Leona dibeginikan olehnya. Toh ia sendiri menyukai ini dan belum lagi mendapatkan kembali kantuknya yang membuatnya otomatis mesti mem-pause kan diri. Jadi ya sudah saja, lanjut, "oke, meskipun kalau aku jadi kau, aku yakin tak akan bisa jatuh tertidur bila tubuhku sedang di seperti ini kan."


Terkekeh geli Leona kembali memejamkan matanya.


"Sejujurnya kalau aku tidak sedang penat dan ngantuk begini, aku sekarang pasti sudah akan pindah berbaring diatasmu, membalasmu untuk yang sudah kau perlakukan padaku ini. Tapi karena aku sudah kehabisan energi banget, bahkan untuk --"


"Tak usah, sayang. Simpan saja energi yang terakhirmu ini. I'm okay. Aku belum merasa perlu. Nanti saja."

__ADS_1


"Hehehe...oke."


"Aku berterima-kasih karena kau masih suci dan murni untukku..."


__ADS_2