
"Ya ampuuunn...kasihan." Respon prihatin di ekspresi wajah Leona...oh betapa inginnya Lionel menyentuhkan telapak jemari tangan di salah satu sisi pipi wanita itu. Mengelusi lembuuut dan mesraaa bagian halus mulus itu. Karena bagian itu terlihat sungguh teramat sangat mengundang. Jauh dari tirus, sebaliknya sedikit chubby. Cabi yang menggemaskan. Penyanyi BCL yang mirip Leona juga langsing. Tapi pipi BCL sedikit cabi. Cabi yang menggemaskan. Menurut Lionel.
"Apa orang yang tidak menikah boleh mengadopsi anak di sana, pak Randu?"
Pak Randu mengulas senyum ke sekian kali, benar-benar figur seorang pria berumur nan ramah dan menyenangkan, "Boleh sekali. Tentu saja. Bahkan maaf, beberapa pasangan gay disana sudah banyak juga mengadopsi anak --"
Serta merta Lionel menyela jenaka, "Tapi pak Randu bukan seorang gay, Leona. Pak Randu justru sangat anti dan alergi pada hal seperti itu."
__ADS_1
Tawa terdengar dari ketiga pihak.
Diselingi suara-suara pengumuman atau informasi dari pengeras suara Bandara, masih dalam keberadaan posisi dekat bangku panjang ruang tunggu, tetap dengan Lionel merasakan bertemu lagi dengan Leona membuat perasaannya teramat berbahagia dan Leona sendiripun tak jauh beda, berikut pak Randu sudah bisa berbaur diantara 2 anak muda disekitarnya yang tengah dilanda cinta ini, waktu pertemuan dalam Bandara terus bergulir tanpa terasakan sebelum Lionel menyuruh mereka bertiga meninggalkan tempat itu menuju tempat parkir.
-----&&&&&-----
Diluar perkiraan wanita itu yang sempat menduga Lionel akan di bopong naik ke kursi mobil oleh pak Randu dari kursi rodanya namun pada kenyataannya meski dengan bersusah payah dan hanya Tuhan yang tahu seberapa besar kekuatan diri yang harus Lionel kerahkan dalam menghela tubuh terutama dari bagian pinggang ke ujung kaki yang jelas terlihat paling melemah sementara kedua tangan yang menjadi inti kekuatan terlihat cukup kokoh diandalkan, Lionel berhasil juga memindahkan dirinya sendiri dari kursi roda ke kursi mobil sedan sewaannya...sudah barang tentu dengan membiarkan saja Leona memperhatikan serta mengawasi penuh debar-debar proses perpindahan tersebut setahap demi setahap tanpa menemukan kesan bahwa Lionel merasa malu atau risih atau nervous melakukan tiap gerakan yang dilakukan.
__ADS_1
Dan Lionel benar-benar bisa melakukannya meski tersendat-sendat dan terengah-engah, dibawah pengawasan pak Randu yang tetap stand-by didekat pria itu dan kursi roda terkuncinya, berjaga-jaga untuk kemungkinan Lionel terpeleset atau terjatuh.
Tak terlukiskan lewat kata Leona sampai menahan nafas diam-diam ketakutan melihati apapun yang dilakukan Lionel. Mengkhawatirkan pria itu gagal lalu tiba-tiba terpuruk jatuh yang untungnya tidak terjadi sama sekali.
Begitu mereka berdua sudah duduk bersisian dikursi penumpang belakang sementara pak Randu duduk di kursi pengemudi, menyalakan mesin mobil lalu perlahan melajukan kendaraan keluar dari tempat parkir Bandara, Lionel segera memulai pembicaraan dengan Leona yang masih juga sesekali memandangi tak percaya.
"Aku tidak benar-benar lumpuh sepenuhnya." Jelas Lionel sambil menengok sedikit menunduk kearah wajah Leona yang duduk di sisi kanan, bertemu tatapan Leona padanya. Puncak kepala Leona kira-kira akan beberapa centi lebih rendah dibawah pipi Lionel andaikata Leona 'berani' duduk lebih dekat lagi dengan merapat lekat ke tubuh Lionel, "aku hanya tak sanggup berdiri pada kedua kakiku entah lebih dari sedetik-dua detik apalagi berlama-lama."
__ADS_1