
Atau apa mungkin pria itu sedang melamunkan serius akan hal lain hanya saja arah pandangnya lurus pada Leona, entahlah. Yang jelas waktu itu Lionel hanya melihat pada Leona, wanita itu yakin begitu. Secara fokus tentunya. Seolah Anita yang punya acara justru disaat bersamaan tak mendapat perhatian dari pria itu.
Dan meski pria itu tau betul Leona 'memergoki', pria itu tak lantas mengalihkan pandang.
Sebaliknya, perlahan ia kemudian mengganti arah miring kepala tanpa lepas dari melihat pada Leona...
"Jadi ada apa sebenarnya?"
"Forbidden, Nit. Masih di perboden. Terlarang untuk kuceritakan padamu. Setidaknya untuk sekarang ini."
"Oalaaah.."
"Pengen koq. Aku sebenernya udah pengen banget cerita in ini ke kamu. Tapi ada yang melarang."
"Ooo...begitu. Kalau gitu ya sudah tak usah cerita. Aku bisa paham."
__ADS_1
"Iya, Nit. Trims. Next time pasti aku bakalan cerita."
"Okeee...gimana yang bikin kau ngerasa nyaman aja."
"Oke."
"Mandi gih, kita jalan. Hepi-hepi. Makan-makan. Aku lagi punya voucher diskon makan. Dari ayank bebeb. Katanya buatku saja dua-duanya. Anak-anak punya voucher mereka sendiri koq. Ya sudah kita berdua pake saja sekarang selagi kau libur gini. Stuju?"
"Wahhh...mantap atuh, Nit. Kebetulan aku memang belum sarapan dari pagi. Rencananya mau sekalian aja dirapel ke makan siang nanti 1 jam-an lagi."
"Good, then. Cocok. Sebentar lagi sudah mau jam 12. Kita otewe aja. Pergilah mandi. Aku mau maen HP dulu saja diluar siini sambil nunggu kau rapi."
" Sip deh."
-----&&&&&-----
__ADS_1
Kalau sedang melihat pada wajah Anita seperti saat ini, Leona jadi kepingin saja mengungkapkan keluar segala uneg-uneg yang ada dalam perasaannya. Bahwa ia mungkin sudah jatuh cinta pada seorang Lionel sejak di jumpa pertama mereka beberapa waktu lalu...
Atau sejak kapan sih persisnya?
Nanti akan ia coba dalami. Mungkin didalami saat sudah bersama Lionel. Hehe...
Yang jelas, ia tak akam mencoba membohongi diri dengan membantah apa yang ia rasakan terhadap pria itu. Ia tak akan berbelat-belit untuk mengakui itu nanti, didepan siapapun orang yang mungkin akan mencoba menginterogasi hal ini padanya. Terlebih Anita.
Ia akan mengiyakan tuduhan atau gunjingan miring sekalipun jikalau Anita atau yang lain membombardirnya :
'wuaaa...pantesan beberapa bulan belakangan ini kau gencar banget bahas Lionel muluuu' ... 'ya ampuuuunnn koq bisa naksir sama itu cowok padahal udah 15 tahun kan kalian ngga ketemuan?' ... 'oalah leonaaa, yang bener aja sih baby. apa karena kau sudah tau sekarang kalo lionel itu dah tajir melintir hidupnya makanya kau jadi naksir sama dia, jatuh cinta sama dia?' ... 'leona, jangan. hentikan. lupakan saja. mundur. gaya hidup lionel mungkin ngga akan cuco' denganmu. apalagi gaya bercintanya. s*x bebas!. maklum udah jadi cowok amrik' ... 'oke, kau suka sama dia, bisalah kita terima. cinta? itu belum tentu perasaan cinta yang kau rasakan baby. cuma kebetulan aja sedang terasa yang seperti itu' ... 'lho, gimana dengan kursi rodanya? dia kan lumpuh, babyyyy...'
Ia suka pada Lionel.
Ia senang bukan kepalang karena bisa bertemu lagi dengan pria yang sebenarnya ngga ganteng-ganteng amat itu, seperti apa yang dilihatnya pada diri Lionel dalam mimpi-mimpi selama ini.
__ADS_1
Nggak ganteng.
Lionel itu cuma manis. Ehm...sangat manis deh. Oke, teramat manis banget lah. Dan baik. Dan ramah. Dan lembut.