
"Masih ingatkah kau kata-kataku yang menyebutmu lebih dari wanita?"
Bentuk hidung Leona mancung ramping bercuping indah. Lionel menggosokkan gemas hidungnya naik turun sesaat pada bagian indah Leona di wajah tersebut.
"Ha? Oh, itu. He-eh. Iya. Masih masih."
"Kau lebih dari wanita. Kau seorang malaikat. Malaikatku. Itulah yang kumaksud. Malaikat pembawa keberuntunganku selama aku tinggal di negeriku ini. Karena kau selalu berada disini menemaniku bahkan menemaniku sejak lama bertahun-tahun lalu, aku bisa bersemangat dan terus bersemangat mengikuti setiap terapi yang kulakukan. Atau bahkan kehidupanku yang kulakukan.
Jangan tinggalkan aku, Leona. Jangan jauh lagi dariku sampai akhir. Sampai kapanpun. Tetaplah seperti ini walau hasil akhirnya diriku ini nanti tetap akan mengecewakan..."
Oh Tuhaann..
"Lioneeel..."
__ADS_1
"Aku sangat..sangat beruntung... andai bisa... memilikimu selamanya."
Setitik airmata tak bisa Leona cegah merembes bergulir disudut matanya dalam membalas pandangan mata sendu berkaca-kaca Lionel diatas wajahnya...
Wanita itu perlahan mengeluarkan kedua tangan dari sela dekapan setengah menghimpit tubuh atas Lionel yang pria itu posisikan miring bertelekan siku kiri dikasur.
Lalu Leona mengalungkan kedua tangannya memeluk seputar leher Lionel, membawa turun kepala dan tubuh atas melayang pria itu untuk masuk kedalam dekapan erat kedua tangannya kedada.
Tak lama pria itu pun mendadak terpana lalu tertawa ketika terdengar olehnya suara lembut Leona bernyanyi romantis di puncak kepalanya yang masih didekap wanita itu erat penuh kasih sayang yang lantas Lionel biarkan ia bernyanyi hingga selesai.
"From the day that i met you boy, i knew that your love would be, everything that i ever wanted in my life...
From the moment you spoke my name, i knew everything had changed. Because of you i felt my life would be complete..... Oh Lionel, i need you. For the rest of my life, boy, i need you. To make everything right, babe, i love you... And I'll never deny that, i need you....
__ADS_1
Nothing matters but you my Lion, and only God above, could be the one to know exactly how i feel. I could die in your arms right now, knowing that you somehow, would take my soul and keep it deep inside your heart..."
"So 'won't you marry me marry me marry me', Leona?" Lionel sudah tidak tahan untuk balas mengguyoni Leona dengan perlahan mengangkat kepala yang ditanggapi satu tangan Leona mengurai membuka setengah dekapannya.
Keduanya saling pandang saling bertukar senyum dalam posisi wajah Lionel tetap diatas wajah Leona. Tinggal tersisa tangan kiri wanita itu saja yang masih mengalungi leher sang kekasih, dengan telapaknya mengelusi rambut belakang kepala pria itu, Leona jahil ingin balik menggoda perasaan Lionel. Leona berlagak berfikir keras dan serius, membuat Lionel tak bisa menahan tawa.
"He eh." Leona memberi anggukan bagi Lionel pada akhirnya. "...just, marry me marry me marry me."
"Oh Tuhan, Leonaa..."
"Aw. Astagaa...Hahaha...Aku beraaatt !"
Serupa cara pergerakan di beberapa menit lalu, Lionel melakukan 1x gerakan saja menggulingkan dirinya sendiri berikut Leona yang dibawa dalam pelukan dikasur spring bed berseprei warna hijau daun itu, hingga kedua posisi tubuh mereka kini bertukar lagi dengan kali ini Lionel menelentang diatas kasur dan Leona berbaring menelungkup disepanjang permukaan atas tubuhnya...
__ADS_1