
Suasana kamar temaram sunyi. Sejenak pria itu menujukan arah pandang kepintu kamar mandi dekat pintu kamar pada ujung kakinya, memastikan pendengaran kesitu. Tak menangkap suara apapun dari balik pintu menutup rapat itu, serapat pintu kamar tidur ini sendiri.
"Leona?"
Pria itu mulai memanggil namun tak ada sahutan. Menunggu beberapa detik hingga ke satu menit, kesunyian tetap berlangsung. "Leona, kau dimana?" Ia mengulang memanggil seraya membangunkan diri lalu duduk setengah menyila membiarkan selimut melorot begitu saja kepangkuan.
"Leona,"
Kesunyian yang ganjil.
Mulai terbersit setitik rasa curiga ditambah debar dalam dada belum juga mau hilang.
Dalam kefasihan memindahkan diri dari atas ranjang ke dudukan kursi roda, kurang dari 1 menit pria itu berhasil duduk disitu lalu mulai menggerakkan tangan mendorong rodanya. Benda yang didudukinya bergulir kearah pintu kamar...
Diluar sana pada tepian kolam renang...
Leona tak sengaja melihat kearah kemunculan si mahluk kecil menjijikkan dari arah kejauhan sana itu, berlarian secepat angin tepat menuju ke tempat Leona berdiri. Sangat di pinggir kolam sekali dan kemudian terjadilah musibah itu.
__ADS_1
Hanya demi untuk menghindari si tikus kecil menjijikkan menabrakkan diri kekakinya, Leona tanpa sadar melompat mundur kebelakangnya dan... tercebur tanpa ampun masuk kedalam air kolam renang.
Tuhan, airnya ternyata begitu dalam sekali.
Melayang didalam air Leona berusaha menggapaikan tangan namun seolah sia-sia. Ia tak bisa meraih permukaan air. Ia tak bisa mengangkat dirinya. Seberupaya apapun, itu benar-benar percuma. Wanita itu bisa merasakan tubuhnya tak juga mencapai permukaan air meski ia sekuat tenaga sambil termegap-megap menggapaikan tangan.
Sebaliknya ia sangat bisa merasakan tubuhnya terus tenggelam hingga sedikit lagi mencapai dasar kolam.
Sebuah kolam renang luas yang sebenarnya berkedalaman 3 meter. Sebuah kolam dengan 3 kedalaman berbeda dan tubuh tercebur Leona telah masuk kedalam bagian kolam paling dalam dari ke tiganya.
"Tuhan, aku belum mau mati sekarang...Lionel, tolong selamatkan akuu..."
Airmatanya bercampur air kolam sebelum ia jatuh pingsan di dasar kolam.
Wanita itupun tak sadarkan diri setelah menelan air begitu banyaknya dan gagal dalam upaya menyelamatkan dirinya.
-----&&&&&-----
__ADS_1
Bersamaan ia melihat tubuh Leona mulai tenggelam dari bawah permukaan air dan akan segera karam, Lionel diatas kursi rodanya akhirnya berhasil juga mencapai keberadaan tepi kolam.
Tanpa berpikir apapun lain selain ketakutannya melihat tubuh sang kekasih menghilang, pria itu mengambil satu tarikan nafas panjang sedalam mungkin sebelum ia bersama kursi rodanya meluncur sekuat tenaga, menerjunkan diri masuk kedalam air kolam...
"Leona..."
Tidak terlalu gelap di kedalaman air, syukurlah. Walau tak seberapa, cukup terbantukan oleh pantulan terang lampu halaman belakang yang menembus ke dasar.
Lionel terus mendorong tubuhnya menuju dasar, memburu waktu agar ia tak terlambat satu detikpun saja dalam keyakinannya bahwa ia masih punya kesempatan melakukan penyelamatan. Tak hirau lagi pada si kursi roda yang semakin terpisah jauh darinya.
Lalu menemukannya. Kekasihnya telah membujur diam disana.
'No, no! Please. Wait, Leona. I will help you. I will help you. Please hold on for me...'
Masih dengan berupaya sekuat tenaga mengayuhkan tangan dan menendang air dikakinya, Lionel lalu menggapai dan berhasil meraih tubuh Leona, mencari mulut wanita itu, membagi sisa tarikan nafas terakhirnya kedalam mulut wanita itu. Sambil terus melakukannya, secepat mungkin Lionel menghelakan diri mereka berdua naik keatas dengan lebih dulu menjejakkan kedua ujung jemari kaki ke lantai kolam agar bisa menghasilkan sentakan tajam keatasnya, setelahnya mulailah kedua kakinya mendaki dibantu gerakan tangan kanan itu memukul air kebawah.
'Hanya' 2-3 meter saja namun seolah Lionel sedang melakukan misi penyelamatan dari sebuah dasar laut.
__ADS_1