SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
42. Ya Memang Mereka Berdua Sudah Resmi Jadian


__ADS_3

"Belum pernah menyatakannya secara resmi."


"Iya, pak. Begitulah."


"Oke, saya bisa paham."


"Tapi, Lionel ada bicara apa lagi tentang kami, pak?"


"Ngg...yaa pokoknya pak Lionel bilang ke saya kalau beliau dan mbak Leona sudah jadian sejak seminggu yang lalu itu sewaktu beliau mengabarkan ke mbak tentang niat dan rencananya mau datang ke Indonesia untuk terapi ini. Beliau tidak keberatan saya mengetahui jadian itu, jadi ya saya tebak kalau mbak Leona dan pak Lionel mau berpacaran jarak jauh alias ber-long distance relationship. Begitu."


"Ohh...."


"Ada kemungkinan pak Lionel tidak akan pernah bisa lagi tinggal di Indonesia, mbak. Maksud saya, menetap. Sebab perusahaan mister Brian sudah akan segera diresmi-serah terimakan sepenuhnya ke dalam kepemilikan atas nama pak Lionel, bu Natasya dan bu Nataline walau mereka yang para putri tak akan di libatkan mengurus perusahaan itu."

__ADS_1


"Oh Tuhan, sungguh pak? Secepat itu? Bukannya Lionel baru 32 tahun dan kedua orangtua angkatnya masih hidup, sehat-sehat saja, bahkan keduanya masih aktif bekerja di sana?"


"Sungguh, mbak Leona. Memang ini yang terjadi. Saya serius. Ini pun tidak pak Lionel rahasiakan dari mbak Leona. Pak Lionel sudah memberi ijin pada saya untuk menceritakannya pada mbak kalau-kalau di luar sepengetahuan pak Lionel, mbak Leona menanyakannya pada saya. Begitu.'


"Oh Tuhan..."


Aa-aaachh, Lioneeel...sekarang aku mesti gimanaaa?


Ciri khasnya.


Ia selalu kesulitan bersikap mendewasa saat sedang tersenyum. Ia bahkan nampak lebih konyol lagi bila sedang tersenyum di saat hatinya sedang berbunga-bunga seperti pada saat ini.


Mungkin itu sebabnya ia terbilang cepat naik jabatan menjadi manajer muda. Senyum kekanakannya selalu sanggup meluluhkan hati para atasan dan mentor yang berjiwa paling galak sekalipun.

__ADS_1


Seolah bergumam pada diri sendiri, dengan mata yang masih memandangi wajah pak Randu, Leona mengucap lirih nyaris tak terdengar,


"Lionel sudah benar-benar serius padaku. Aku pikir...aku pikir aku masih harus menunggu beberapa waktu lagi untuk --"


Bicara wanita itu terhenti karena dari arah pintu masuk ruang pengobatan dilihatnya Lionel dengan kursi roda yang di dorong oleh pembantu terapis, sudah di bawa keluar dalam keadaan sedikit memucat dan nampak lemah. Jauh dari fresh dan berseri-seri di seperti biasanya pria itu.


Habis di apakan kau di dalam sana, sayangku Lionel?


Bersamaan, pak Randu dan Leona bangkit dari duduk mereka. Lalu pak Randu bergegas menghampiri kursi roda Lionel, hati-hati mengambil alih pegangan kursi roda dari dorongan tangan si pria pembantu terapis yang mendapat ucapan terima kasih dari pak Randu dan senyuman paling manis dan sedikit anggukan hormat dari Leona yang masih berdiri di sisi meja jati bulat itu. Si pria terapis membalas senyum Leona kemudian minta diri masuk kembali ke dalam setelah menutup rapat-rapat pintu berat menjulang setinggi 2 meteran dihadapannya.


Adapun Lionel, hanya menujukan pandang ke arah Leona seorang masih dari dekat pintu karena pria itu belum menginstruksikan pak Randu menggerakkan kursi roda mendekati Leona.


Senyum penuh arti Lionel, sebagai ungkapan perasaan terdalam pria itu terhadap Leona. Cukup menggetarkan perasaan Leona.

__ADS_1


__ADS_2