
Leona hanya diam saja mengamati bicara pria itu.
Terkekeh, Lionel mengusap belakang kepalanya, meluruskan pandangan kembali kedepan.
Lalu Leona berkata melirih, "Tidakkah memaksakan diri seperti tadi itu...berbahaya? Bagaimana kalau tiba-tiba kamu slip lalu terja--"
"Memang," potong Lionel, menoleh sekilas pada Leona,"Memang lumayan berbahaya. Tapi untungnya selama ini aku belum pernah mengalami seperti yang kau maksud itu. Toh ada pak Randu yang mengawasiku. Dan toh aku juga tetap saja harus banyak berlatih menggerakkan tubuhku kalau memang aku ingin sembuh. Jadi apa yang barusan kau lihat tadi, itu ibaratnya salah satu contoh dari usaha berlatihku."
Terlihat tak ingin lagi mengomentari lebih jauh bahasan ini, Leona menurunkan pandang dari melihat sisi kanan wajah Lionel lalu berdiam diri.
__ADS_1
Di sebelah kiri duduk wanita itu yang wanita itu sendiri menjaraki posisi duduknya dengan duduk Lionel selebar sebuah laptop, Lionel menoleh pada kepala bersandar dalam-dalam Leona pada jok sandaran kursi, menemukan wanita itu jadi terpekur merenung...mungkin memikirkan ulang tindakan kontroversial yang sudah Lionel lakukan tanpa pemberitauan apapun lebih dulu itu. Yang bagi Lionel itu tadi sebenarnya 'bukan apa-apaa' namun bagi Leona kemungkinannya wanita itu teramat mengkhawatirkan diri Lionel tapi Leona lebih memilih menyudahi komentarnya.
Bisa dipahami Leona jadi kesal sendiri menemukan fakta yang biasanya Lionel nyaman pada kursi roda elektrik mendadak terlihat bersusah payah mempertaruhkan keselamatan menyeberang dari kursi roda ke kursi mobil dalam posisi mulut kursi roda menghadap tepi kiri kursi mobil. Lalu Lionel menumpukan kedua pegangan tangan dilengan kursi, mulai menghimpun energi supaya bisa mengangkat tubuhnya untuk dihela, digerakkan dengan perlahan-lahan beringsut sedikit demi sedikit dari dudukan kursi roda berpindah ke kursi mobil...bersama sebuah kemungkinan buruk yang bisa saja Lionel slip pada pegangan menahan tangannya lalu tersuruk atau jatuh tanpa tersempatkan tertolong pak Randu. Gagal dalam menggapaikan tangan mencari keseimbangan.
Lantas cidera apa lagi yang bisa menimpa tubuh lemah Lionel?
Ia tak tau harus berkata apa lagi. Karena masalahnya, ia belum terlalu mengenal Leona. Belum begitu paham harus bagaimana mengikuti dan menyelami jalan pikiran wanita itu. Sekaligus pria itu paham Leona pun juga pastilah belum bisa secepat itu mampu memahami siapa dan bagaimana diri pria itu. Seorang pria yang sebenarnya memiliki sifat keras hati, keras kepala, berkemauan keras, dan keras secara fisik hasil dari rajin ber-jim.
Mereka berdua 'baru saja' saling kenal!
__ADS_1
Jadi tidak akan menolong bila Lionel bersikukuh terus menjelaskan bahwa ia memang selalu cukup keras dalam memaksakan diri selama ini dalam sesi demi sesi penyembuhan seolah tanpa menghiraukan keselamatan.
Andai Leona mengetahui kalau Lionel bahkan mencari kesembuhan pula di sebuah tempat lain, Gym, melatih fisik lumpuhnya disana. Menyemangati diri melalui hobi nge-jimnya yang itu selalu ia rahasiakan dari siapapun di Indonesia dengan tidak pernah satu kali pun memposting secuil info atau foto kegiatan hobinya ber-Gym.
Semata agar ia tak perlu mendapat komentar miring sebagai pria lebay pemerhati bentuk fisik yang mana tidak semua lapisan masyarakat menyukai pria-pria yang suka berkegiatan jim.
Bahkan papa Brian juga tidak menyukai Gym. Karena menurut beliau orang-orang yang hobi jim itu adalah orang-orang yang tidak ikhlas menerima dan menjalani hidupnya dari Tuhan secara apa adanya.
Duh...
__ADS_1