
Suatu waktu diantara tatapan mata Lionel yang memandangi ke arah bibirnya selagi mengecupi, Leona menyeletukkan kata-kata berikut, "Pacarmu hanya pernah ada 2 saja tapi yang kau tiduri lebih dari 2 wanita. Bukan wanita-wanita penghibur tapi kalangan temanmu sendiri. Sepertinya kehidupan percintaan a la Amerika ituu...sangat unik."
Menaikkan pandangan ke atas ke mata, Lionel berujar menimpali, "Hanya percintaan a la kau dan aku ini lah yang sangat unik, Leona. Menurutku."
Keduanya saling berpandangan tanpa Leona menyadari tangan kanan Lionel telah mengincar dal*mannya untuk bersiap menyingkirkan benda itu.
"Masa? Memangnya kenapa? Aw!"
Kata-kata Leona terputus berganti sentakan nafas tercekat menanggapi tangan Lionel yang akhirnya mulai beraksi dan sukses secara cepat tepat menurunkan dal*mannya hingga menarik-lepas benda itu lolos melewati ujung kakinya. Mengonggokkan benda itu kebawah kaki ranjang.
Dan otomatis, Leona menghimpitkan paha menyembunyikan ketel*njangan bawahnya begitu Lionel melihat dan memperhatikan kebagian itu.
"Kenapa? Tidak kenapa-napa. Hanya unik saja. Menurutku." senyum Lionel dihadapan wajah tersiratkan malu Leona. "Dan kau lebih cantik di bagian sini ini..."
__ADS_1
Tersipu mendapat elusan pada bagian kew*nitaannya, Leona berusaha menyembunyikan pula wajahnya kepermukaan dada terbuka Lionel. Disambut tawa geli menggoda pria itu.
"Jangan bilang apa-apa lagi, jangan bilang apa-apa lagi. Aku maluu." Leona pura-pura merengek merajuk manja dibalik persembunyiannya
"Heyy...ini bukan kau. Leona yang pernah kukenal bukan seorang yang pemalu." Ledek Lionel, mencoba mengangkat lengan kiri sang kekasih dari mentamengi wajah yang tersembunyikan di dada pria itu. "Ayolah, singkirkan semua rasa malumu. Kita sudah setengah jalan sekarang, hmh?" Lionel terus menjahili perasaan sang kekasih.
"Hishh..."sembur Leona sambil memunculkan wajah yang segera dihadiahi kecupan dari Lionel di bagian dahi. Disusul ke bagian pucuk hidung. Berakhir seperti biasa di bagian permukaan bibirnya, Leona meresapi ciuman Lionel disana dengan memejam. Mensyukuri betapa baik dan penyayangnya seorang Lionel dalam memperlakukan dirinya, bahkan jago pula memberi penghiburan.
Olala...ya sudahlah. Memang ini harus terjadi sih. Mau tak mau.
Mengadu pandang sesaat dengan Lionel yang terlihat Leona dari sudut mata kali ini hendak melakukannya sendiri pada dal*man yang pria itu kenakan, Leona akhirnya hanya bisa pasrah mendapatkan bisikan i love you dari Lionel di telinganya sebelum pria itu mengecup disana.
"I love you too, Lionel."
__ADS_1
Wanita itu menyambut, balas membisik lalu membiarkan Lionel melakukan itu pada dirinya sendiri.
Bertumpu bertelekan siku kekasur, pria itu memegang karet tepian underwea*nya lalu...
Tak terlukiskan betapa habis-habisannya perasaan Leona saat ini setelah berdua sudah sama-sama polos dibagian bawah, menyusul kini tangan kanan Lionel mengincar b*a yang masih menutup permukaan pay*dara Leona.
Pasrah sajalah ditel*njangi pula di daerah itu, Leona melihat b*a nya lepas bebas dari tempat semula berada untuk kemudian mendarat di tiang kepala ranjang.
Tak kan lagi menghiraukan hal-hal lain. Hanya diri mereka berdua ini.
Lionel memandang kagum dan terpikat pada buah dada polos telanjang Leona. Tak sabar untuk segera menikmatinya tanpa penutup. Sudah diimpikannya sejak bertahun-tahun lalu. Kini terpampang sudah di hadapan mata.
Dalam satu kali gerakan saja, pria itu berhasil memposisikan Leona dari miring menghadapnya kini terbaring menelentang sepenuhnya diatas kasur menghadap tubuh Lionel yang segera berada setengah menindih di atasnya...
__ADS_1