SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
83. Curhat-an Leona


__ADS_3

Singkat saja tanggapan Lionel, bukan karena ia tak menghiraukan kata demi kata yang barusan kekasihnya itu ucapkan.


Berupa pertanyaan yang hati-hati sekali pria itu suarakan,


"Kau tidak bisa berenang, Leona?"


Lihat, syukurlah Lionel tak jadi marah, teliti Leona. Tadi ekspresi wajahnya sudah seperti itu, siap marah atau sekadar mengomelinya.


Pertanyaan : seperti apa kalau Lionel sedang marah atau ngomel-ngomel? Apakah Lionel seorang yang sebenarnya mudah marah, pemarah, bos pemarah?


"Aku tak bisa berenang, Lionel." Mencoba mengambil simpati pria itu Leona memutuskan memilih lagi berkata-kata panjang lebar.


Seorang Lionel itu selalu penyabar dalam mendengarkan orang lain sedang berbicara padanya. Dari pertama kali Leona mengenalnya pria itu sudah seperti itu. Menunggu orang lain menyelesaikan bicaranya barulah Lionel bersuara.


"Sejak lahir hidup dalam keluarga yang cuma pas-pasan, kami dulu bahkan tak punya biaya sekadar untuk pergi berenang ke kolam renang sesekali sekalipun. Apalagi biaya untuk naik pesawat.

__ADS_1


Begitu sudah mulai punya pekerjaan dan cukup uang, malah aku jadi tak berminat lagi mikirin mempelajari berenang. Ngga juga pernah punya kebutuhan yang mengharuskanku berpesawat.


Tapi akuu...ngg, kepingin banget punya pengalaman bercinta pertama kali yang seperti pengalamanmu itu juga. Didalam air... Hehe...


Ihh, malah jadi senyam-senyum begitu?.. Aku seriuuus.


Aku memang sudah merencanakannya dari kemarin-kemarin mau memintanya padamu di kolam renang.


Karena ituu, tadi aku menyelinap keluar villa ke kolam renang, mau mengukur-ngukur kedalaman airnya supaya aku punya persiapan mental.


Mungkin berdiriku terlalu kepinggir banget karena aku kan mesti melongok-longok banget kebawahnya sana, kekedalamannya, ya sudah begitu.


Aku geli sama yang namanya tikus. Kaget refleks melompat menghindar ngga taunya malah tercebur kedalam air. Jadi basah, hampir mati. Hampir mati, Lionel. Aku."


Menggunakan berbagai nada suara dalam bicaranya dan juga pengekspresian baik diwajah maupun gerakan sikap tubuhnya, Leona berhasil membuat Lionel menyimak baik-baik wanita itu dengan tanpa Lionel menyela satu huruf pun.

__ADS_1


"Haku benar-benar takut mati. Sumpah, sangat takut!


Aku masih ingat nyeletuk padamu dengan entengnya tentang mati.


Mending mati saja kalau pisah lagi denganmu, kubilang bagaimana kalau aku mati besok, ditambah dalam heli tadi aku sempat juga kepikiran mati andai tiba-tiba saja helinya rusak lalu tersuruk jatuh kedarat...


Makin lengkap dengan ditambah yang baru saja tadi itu, benar-benar aku ini mungkin sudah kuwalat banget karena omonganku yang ngga ada remnya."


Hampir benar. Rem kekasihnya ini bukannya tidak ada, sepertinya hanya sedang blong saja.


Lionel mengulas senyum penuh arti...


Belum saja Leona meneruskan bicaranya mungkin dengan bertanya : seperti apa detil Lionel melakukan penyelamatannya, bagaimana cara Leona berpindah lokasi dari pinggir kolam renang itu ke dalam kamar tidur mereka ini, keatas ranjang sudah dalam keadaan kering, bersih dan rapi berpakaian baru, dan bagaimana bisa saat ini sebuah benda penopang hidup Lionel di 1 tahun terakhir tak terlihat didalam kamar tidur ini?


Sangat jelas wanita kekasihnya ini belum menyadari ada pemandangan lain didalam kamar mereka. Dari kursi roda yang tidak ada itu dan juga kondisi kamar yang sekarang tak kalah rapi dan bersihnya...

__ADS_1


Sempat akhirnya tersadarkan diri lalu memuntahkan air, Lionel terkejut melihat sang kekasih lama diam tak bergerak sesudahnya. Tak berkesempatan menyadari apa yang telah terjadi dan keberadaan dirinya bersama Lionel disisinya.


Sudah akan bersiap mencari bantuan, pria itu jadi tercenung disisi tubuh terbaring diam Leona, menyadari itu.


__ADS_2