SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN

SAAT SANG NASIB YANG MENENTUKAN
39 Jatuh Cinta Yang Se'Jatuh-Cintanya


__ADS_3

Sangat membekas, wanita itu kemarin malam bagai di buat melayang.


Hanya dapat merasakan merinding. Meremang. Tak kuasa membalas tatapan dari mata teduh Lionel...


Sentuhan yang sebenarnya terkesan sederhana saja karena dilakukan hanya beberapa saat semata. Sebelum berhati-hati sekali Lionel menarik pulang tangan itu sambil berucap setengah membisik, "be safe. sampai kerumah. hm?"


Duh, Leona sudah ingin saja menutup jarak diantara mereka dengan mencondongkan tubuh sedikit ke depan untuk mengalungkan kedua tangan ke seputar leher Lionel tak perduli di kursi pengemudi depan kursi yang didudukinya, bekas kursi yang di duduki Lionel beberapa jam lalu sepanjang perjalanan dari Bandara, sudah ada pak Randu dalam keadaan siap menyalakan mesin mobil dan mengantar wanita itu pulang ke rumah.


Sudah begitu ingin merespon dengan...mungkin mencium wajah pria dihadapan pandangan matanya itu atau sekadar memeluk erat pada seputar lehernya... menghirup dalam-dalam aroma tubuh pria yang berparfumkan pewangi tak seberapa tajam.


Apapunlah, bentuk sikap romantisme darinya membalas perlakuan manis Lionel pada dirinya.


Alih-alih melakukan sesuatu menakjubkan di malam pukul 7.30 itu, Leona hanya memberi reaksi tubuh dengan hanya menganggukkan kepala saja dua kali, seraya membalas ucapan Lionel dengan nada bergurau, "Thanks, Lionel. Kau istirahatlah sekarang. Dan aku mau pinjam mobilmu dulu sebentar. Jangan kuatir, akan ku isi penuh bensinnya nanti."


Tertawa kecil sebelum mengakhiri dengan tersenyum, Lionel mengangguk-angguk lembut. Tak berkata apa-apa lagi pada Leona selain pada pak Randu.

__ADS_1


"Jalan, pak. Hati-hati dijalan."


"Ya, pak Lion. Sip, beres."


"Daghh, Lion."


"Daah..."


Memundurkan kursi roda untuk menutupkan pintu kiri mobil bagi Leona, Lionel tersenyum terakhir kali pada Leona dengan dibalas senyum pula oleh wanita itu... maka berakhirlah jumpa ke dua mereka di kesempatan kali itu.


Semoga semua bisa berjalan lancar dan baik-baik saja. Utamanya memberi kebaikan bagi usaha yang sedang di upayakan Lionel.


Duh mamaaa...


Mungkin begini ini kali yaa sebenarnya, yang namanya orang sedang jatuh cinta berat itu. Jatuh cinta yang benar-benar sejatuh-jatuhnya secinta-cintanya. Apa-apa maunya melamun membayangkan sang kekasih. Ada jeda waktu luang sedikit langsung saja memikirkan pria itu, yang sebelumnya kalau sedang luang Leona lebih suka buka-buka medsos.

__ADS_1


Tapi ehh begitu sudah disayang-sayang Lionel, Leona jadi malas menghabiskan waktu luang dengan berselancar. Memilih memejamkan mata saja melamunkan sang kekasih. Mengkilas balik banyak hal sederhana yang sudah mereka berdua lakukan...meresapi ulang momen melodramatis sentuhan pria itu ke pipi Leona.


Berada bersama Lionel, dekat dengannya serta berinteraksi dengannya...Leona masih berusaha memperlihatkan sikap yang biasa-biasa saja mengimbangi sikap yang ditunjukkan Lionel sendiri terhadapnya yakni yang seperti itu juga. Masih dalam sikap yang biasa-biasa saja, seolah sengaja menge-rem dirinya.


Menge-rem, menjaga sikap.


Seorang pria kalau sudah menerapkan hal begini pada kekasihnya, apa lagi yang bisa dilakukan sang kekasih untuk menanggapinya, membalasnya?


Ya Leona ikut menge-rem diri juga.


Padahal...


Wanita itu sudah cukup siap dan bersedia untuk yang lebih dari pada itu...


Cukup siap dan bersedia melakukan apa yang terbaik yang bisa ia lakukan atau ia korbankan untuk Lionel seperti Lionel yang dalam hidupnya telah pernah mengorbankan diri untuk seorang gadis kecil yang sama sekali tidak pria itu kenal namun bersedia pria itu selamatkan nyawanya.

__ADS_1


__ADS_2