
Akan terlihat sangat anggun, elegan dan high class membungkus tubuh ramping semampai Leona yang tidak menyukai olahraga namun ketat dalam berdiet demi kesehatan dan penampilan kerja sehari-harinya.
Adapun maksud sebenarnya Leona tentang cancel adalah, kemungkinan anak-anak Anita yang meng-cancelkan diri dengan tidak jadi datang.
Mungkin akan ada yang begitu.
Apalagi si sulung yang berusia 8 tahun itu paling susah diajak jalan saking hobinya bermain dengan para anak tetangga rumah.
Belum lagi si bungsu Dita 4 tahun, kalau sedang rewel panas, Anita tak mungkin memaksakan diri membawanya keluar. Imun Dita yang tak begitu baik kadang menjadi bagian kesibukan tersendiri bagi Anita dalam mengurus putri bungsunya.
"Waduuuh, cantik bangeeeet. Keponakan tante yang satu ini memang benar-benar lah bak sekuntum bunga mawar sedang mekar indah di taman bunga mewangi. Cantik dan harum semerbak sendiri diantara bunga-bunga jenis lain."
Demikian puji tante Bunga pada Leona usai gadis keponakannya itu mengenakan gaun biru tersebut ke tubuhnya lalu mematutkan diri ke depan cermin setinggi badan yang terdapat di dalam kamar tidur.
Tersenyum manis Leona mencoba bergurau menimpali tantenya,
"Tante tau aja kalo aku ada rencana mau ke taman Red Rose." Wanita itu nyengir penuh arti melihat tantenya mengangkat alis tanda bingung mendengar apa yang dicetuskan sang keponakan.
__ADS_1
"Kenapa Red Rose? Kau mau main kesana?"
"Hahaha...nggak. Nggak tan, lupakan."
-----&&&&&-----
Ini dia sang pujaan hati, akhirnya muncul juga setelah 5 menit ia menunggu dengan hati didalam sana bergetaran bergelisahan a la perasaannya remaja ABG yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta.
"Haai..." Sapa bernuansa jenaka si pujaan hati kepada Lionel. Lengkap dengan senyum menggoda di paras cantik bermake-up penawan hati pria itu, berikut gaun panjang biru semata kaki yang dikenakan membungkus agak ketat pada bagian dada perut hingga pinggang namun sedikit saja mengembang kebawah sana.
Balasan senyum khas dari bibir berukuran tipis saja pria itu menyambut membalas sapaan Leona.
"Hai juga. Masuklah."
Mempesona.
Menggemaskan.
__ADS_1
Menggoda hati Lionel yang pasrah cuma bisa menyenyumi Leona dari tempat duduk tanpa bisa bergerak berdiri untuk menghampiri dan meraih wanita itu lalu memeluk tubuhnya erat sesuai yang hasrat pria itu inginkan begitu sudah melihat kemunculan dan penampilan sang kekasih di depan mata.
Dan sumpah, susah betul untuk berhenti menyenyumi simpul seorang Leona dengan keberadaan dan penampilan cantiknya pada saat ini itu.
"Oke" Leona menyampingkan posisi tubuh.
Separuh tubuh siap masuk rapi melewati ambang pintu mobil sesudah kaki kiri menapak namun urung dengan menarik kembali tubuhnya, Lionel yang melihat itu lantas memandang heran. Lalu Leona terlihat menoleh sekilas kekiri sekilas kekanan...secara harafiah saja seolah kuatir sedang ada orang didekatnya. Begitu dirasa aman dengan pak Randu seolah sengaja berlama-lama membagasikan barang barang bawaan Leona berupa kado-kado hadiah untuk ke 3 putra putri Anita di belakang mobil, Leona membungkuk sedikit, berucap pelan dipura-purakan serius pada Lionel.
"Lionel, aku belum mau masuk. Janji dulu satu hal."
Senyum kecilpun diulas Lionel dibibir sebelum mengangguk halus,
"Oke janji. Janji untuk apa?"
"Ngg..." masih takut-takut kata-kata yang akan diucapkan bisa terdengar pak Randu atau pihak lain, Leona menengok kiri kanan sekali lagi sebelum membisik menyahuti Lionel,
"Aku sudah dandan habis-habisan supaya bisa menjadi yang tercantik sesampainya disana, please Lionel, jangan acak-acak dulu dandanan dan gaun baruku ini. Oke? Ayoo janjilah dulu."
__ADS_1